Selasa, 04 Oktober 2022
08 Rabi'ul Awwal 1444

Penting, Lakukan Pemeriksaan Tes Darah Tinja untuk Deteksi Dini Kanker Kolorektal

Minggu, 27 Feb 2022 - 08:07 WIB
Tes Darah Tinja
Istimewa

Orang berusia di atas 50 tahun disarankan melakukan pemeriksaan tes darah tinja sebagai upaya mendeteksi kanker kolorektal.

Hal tersebut diungkapkan Dokter Spesialis Bedah Digestif dari Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Digestif Indonesia (IKABDI), Dr. Nurhayat Usman, Sp.B-KBD, FINACS.

Tes darah tinja (FOBT) ini merupakan tes laboratorium yang digunakan untuk memeriksa sampel tinja untuk darah samar. Darah samar dalam tinja dapat mengindikasikan kanker usus besar atau polip di usus besar atau rektum, menurut Mayo Clinic.

“Pada pasien yang risikonya menengah atau berusia di atas 50 tahun, maka bisa melakukan skrining secara berkala yakni pemeriksaan darah di kotoran (feses),” ujar dia dalam webinar bertajuk Manfaat Deteksi Dini Kanker Usus, ditulis di Jakarta, Minggu, (26/02/2022).

Baca juga
Kemenkes Ungkap Kronologi Ashanty Tertular COVID-19 Usai Liburan

Selain itu, upaya lain yang bisa dilakukan sebagai bagian dari deteksi dini kanker kolorektal atau usus besar yakni melalui peneropongan usus besar atau kolonoskopi berkala setiap lima tahun, peneropongan secara menyeluruh setiap 10 tahun, radiologi yakni barium enema setiap lima tahun atau CT colonography setiap lima tahun.

Di sisi lain, orang-orang khususnya berusia di atas 50 tahun juga perlu mewaspadai sejumlah tanda-tanda seperti keluarnya darah dari anus dan diare yang terjadi selama enam pekan terakhir.

“Mendiagnosa terhadap kewaspadaan yakni bentuknya, kalau pada tumor usus besar itu keluar darah dari anus. Hal ini harus dicurigai apabila terjadi dalam enam pekan terakhir, disertai diare, keluarnya darah tanpa gejala lain pada usia di atas 60 tahun,” kata Nurhayat.

Baca juga
Butuh Perhatian, Banyak Anak Menjadi Yatim Piatu di Masa Pandemi

Tanda lainnya, yakni ada massa di bagian perut kanan bawah yang teraba, benjolan di daerah anus dan rektum, perut sering terasa kembung dan penurunan berat badan.

“Tanda paling sering pada usus besar sebelah kanan, teraba adanya benjolan (70 persen), sedangkan yang sebelah kiri benjolannya tidak terlalu teraba (40 persen). Di daerah rektum cenderung muncul perdarahan. Hal inilah harus diwaspadai terhadap gejala-gejala keluar dari anus,” ujar Nurhayat.

Apabila seseorang menemukan tanda-tanda tersebut, Nurhayat menyarankan dia menjalani pemeriksaan seperti kolonoskopi, rontgen, endoskopi atau MRI, sesuai hasil konsultasi dengan dokter.

Data dari Global Cancer Observatory (Globocan) tahun 2020 menunjukkan, kanker usus besar menempati peringkat kedua kasus kanker pada pria yakni mencapai 21.764 kasus (11,9 persen), sementara pada wanita menduduki posisi keempat yakni 12.425 kasus (5,8 persen).

Baca juga
Varian Batuk pada Pasien Omicron Beragam

Kanker secara umum menjadi salah satu dari tiga penyakit berbahaya di Indonesia setelah penyakit jantung dan stroke. Data Globocan 2020 memperlihatkan, selama tahun 2020 ada sekitar 396.914 kasus kanker baru di Indonesia dengan 234.511 kematian.

Tinggalkan Komentar