Penyakit Jantung Bawaan pada Anak Perlu Deteksi Dini

Penyakit Jantung Bawaan Pada Anak - inilah.com
istimewa

Penyakit Jantung Bawaan pada anak perlu adanya diteksi dini ketika baru lahir. Menurut Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Kesehatan (CDC) bahkan menyebutkan 1 dari 100 bayi baru lahir di dunia mengalami Penyakit Jantung Bawaan pada anak (PJB). Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan, sekitar 80 persen dari bayi baru lahir yang meninggal 6 hari pertama setelah kelahirannya ternyata diakibatkan oleh kelainan kongenital.

Angka ini menyumbang angka kematian bayi sekitar 7 persen. Di antara kelainan kongenital itu yakni PJB.

Karena hal tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyadari pentingnya pelatihan atau pembelajaran skrining PJB untuk para tenaga kesehatan dokter, bidan, dan perawat.

Baca juga  Tiga Solusi Panduan Hidrasi Saat Berolahraga

IDAI meluncurkan program Inpost (Indonesian Newborn Pulse Oxymetry Screening Training) yakni pelatihan skrining penyakit jantung bawaan (PJB).

Tak hanya itu, IDAI juga menghadirkan Ponsel (Pulse Oximetry Newborn Screening E-learning) yaitu pembelajaran skrining PJB kritis selama satu bulan untuk tenaga kesehatan.

Kedua program ini bertujuan untuk membantu menurunkan angka kematian bayi dan anak sehingga kualitas hidup anak yang baik bisa tercapai.

“Kami di IDAI berharap dengan program pelatihan yang akan diadakan oleh IDAI dan kementerian Kesehatan akan bisa membantu para tenaga kesehatan yang menangani kelahiran dan anak untuk melakukan deteksi dini terhadap Penyakit Jantung Bawaan,” ujar Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) dalam siaran persnya, ditulis di Jakarta, Rabu, (15/12/2021).

Baca juga  Baru Dirilis, Game eFootball 2022 Banyak Dihujat Para Penggemarnya

IDAI komitmen turunkan kasus penyakit Jantung Bawaan pada Anak

Piprim mengatakan, garda terdepan yang bisa melakukan pertolongan kesehatan pada anak ini yakni para bidan, dokter umum, atau dokter anak yang menolong persalinan atau Sectio (Cesar).

“IDAI berkomitmen untuk membantu menurunkan angka kematian bayi dan anak karena anak adalah masa depan bangsa,” tambahnya.

IDAI berharap dengan sosialisasi deteksi dini PJB dan peluncuran program pelatihan Inpost dan Ponsel ini dapat membantu menurunkan angka kematian bayi dan anak dan berbagai pihak terkait dapat melakukan upaya preventif dan promotif terhadap masalah PJB dan PJB kritis untuk meningkatkan kualitas hidup bayi dan anak Indonesia.

Tinggalkan Komentar