Kamis, 11 Agustus 2022
13 Muharram 1444

Perang Rusia Bikin Mahal Harga Pupuk, Siap-siap Kelangkaan Lagi

Selasa, 05 Apr 2022 - 14:08 WIB
Perang Rusia Bikin Mahal Harga Pupuk, Siap-siap Kelangkaan Lagi
Pupuk bersubsidi

Perang Rusia-Ukraina memantik mahalnya harga pupuk. Alhasil, pemerintah terpaksa membatasi kuota pupuk bersubsidi. Naga-naganya bakal terulang lagi kelangkaan pupuk.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, saat ini, harga pupuk urea mendekati 1.000 dolar AS per ton. Dalam hal ini, Indonesia mengimpor potasium dan pupuk KCL dari Ukraina. “Dilihat dari penggunaan dalam negeri, ada yang subsidi dan non subsidi. Tentu akan ada pembatasan terkait komoditas,” kata Menko Airlangga saat memberikan keterangan pers yang dipantau secara virtual, Selasa (5/4/2022).

Menko Airlangga menjelaskan, pemerintah akan memprioritaskan pemberian pupuk bersubsidi untuk komoditas tertentu. Misalnya padi, jagung, kedelai, bawang merah, cabai, tebu rakyat dan kakao.

Baca juga
Kasus Omicron Luar Jawa-Bali Rendah, Menko Airlangga Tetap Waspada

Presiden Joko Widodo (Jokowi), kata Menko Airlangga, mewanti-wanti agar penyaluran pupuk bersubsidi dapat tepat sasaran sesuai komoditas prioritas, sehingga tidak terjadi kelangkaan pupuk.

“Para petani bisa menerima pupuk, sehingga tentunya harga pupuk tidak membuat kelangkaan pupuk dan pada akhirnya mendorong ketersediaan pangan yang aman,” kata Airlangga.

Menko Airlangga menambahkan, kenaikan harga berbagai komoditas, terutama pangan dan energi merupakan dampak dari kondisi geopolitik antara Rusia dan Ukraina.

Indeks harga pangan secara global, berdasarkan data lembaga pangan dunia FAO, tercatat di atas 140 dan komoditas minyak nabati meningkat di atas 200.

Sebelumnya, PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan ketersediaan bahan baku untuk produksi pupuk subsidi maupun non subsidi seperti fosfat dan kalium masih tercukupi dan dalam kondisi aman setidaknya sampai semester 1 2022.

“Kami sudah mengantisipasi kebutuhan bahan baku ini dengan melakukan pengadaan jangka panjang sehingga cukup untuk memproduksi kebutuhan produksi NPK,” kata SVP Komunikasi Korporat Pupuk Indonesia Wijaya Laksana.

Baca juga
Sebanyak 99 WNI Sudah Dievakuasi dari Ukraina

Menurut Wijaya, ketersediaan bahan baku adalah upaya perusahaan memenuhi kebutuhan pupuk nasional di tengah ketidakpastian global dampak dari pandemi COVID-19 hingga dampak dari konflik Rusia dengan Ukraina.

Tinggalkan Komentar