Sabtu, 01 Oktober 2022
05 Rabi'ul Awwal 1444

Perang Rusia-Ukraina Paksa IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Global

Jumat, 11 Mar 2022 - 09:40 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Perang Rusia-Ukraina Paksa IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Global - inilah.com
Foto: Istockphoto.com

Perang di Ukraina dan sanksi besar-besaran terhadap Rusia telah memicu kontraksi dalam perdagangan global. Hal ini membuat harga-harga pangan dan energi naik tajam.

Dana Moneter Internasional (IMF) pun bakal menurunkan perkiraan pertumbuhan global bulan depan. Demikian Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan pada Kamis (10/3/2022).

Pemberi pinjaman global itu telah menurunkan perkiraan ekonominya untuk Amerika Serikat, China, dan ekonomi global pada Januari. Ini lantaran risiko terkait dengan pandemi COVID-19, meningkatnya inflasi, gangguan pasokan, dan pengetatan moneter AS.

Saat itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi global akan mencapai 4,4 persen tahun ini, turun 0,5 poin persentase.

Georgieva mengatakan kepada wartawan bahwa sanksi belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Rusia. Sanksi itu sebagai balasan atas invasinya ke Ukraina. Sanksi telah menyebabkan kontraksi tiba-tiba ekonomi Rusia. Moskow pun menghadapi ‘resesi yang dalam’ tahun ini.

Gagal Bayar Utang bukan Mustahil

Dia mengatakan, gagal bayar atau default oleh Rusia atas utangnya tidak lagi terlihat sebagai mustahil.

Baca juga
Perang Rusia-Ukraina Untungkan RI: APBN Surplus Rp400 Miliar

Kepala ekonom Bank Dunia mengatakan kepada Reuters minggu ini bahwa baik Rusia maupun Belarusia berada tepat di “wilayah default.”

Georgieva tidak memberikan perkiraan rinci untuk Rusia atau ekonomi global. IMF akan merilis pembaruan Prospek Ekonomi Dunia pada pertengahan April.

Dalam wawancara terpisah dengan CNBC, Georgieva mengatakan dana tersebut masih memperkirakan “lintasan positif” bagi ekonomi dunia. Akan tetapi, durasi perang akan memainkan peran penting dalam menentukan pertumbuhan dan masa depan kerja sama multilateral.

Dewan eksekutif IMF pada Rabu (9/3/2022) menyetujui 1,4 miliar dolar AS pembiayaan darurat untuk Ukraina. Tujuannya, guna membantu memenuhi kebutuhan pengeluaran yang mendesak dan mengurangi dampak ekonomi dari invasi.

Georgieva mengatakan kepada wartawan pada Kamis (10/3/2022) bahwa IMF sedang mempersiapkan untuk menyajikan “mekanisme pendanaan” yang akan memungkinkan pihak lain untuk membantu Ukraina, tetapi tidak memberikan rincian.

Dia mengatakan kepada CNBC bahwa dia mengharapkan tekanan yang meningkat pada Rusia untuk mengakhiri perang di Ukraina, mengingat efek limpahannya terhadap ekonomi di seluruh dunia, termasuk China.

Baca juga
Rusia-Ukraina Tak Kunjung Damai, Harga Minyak Bakal Kokoh di Level US$115 per Barel

Dia mengatakan dia telah berbicara pada Rabu (9/3/2022) dengan seorang pejabat bank sentral China yang menyatakan keprihatinan besar tentang hilangnya nyawa manusia dan penderitaan di Ukraina.

“Saya tidak akan terkejut jika kita benar-benar melihat sedikit lebih banyak tekanan pada Rusia untuk menghentikan perang, karena dampaknya terhadap semua lini ekonomi,” katanya.

China Punya Ruang untuk Redam Dampak Perang

Georgieva mengatakan kepada wartawan bahwa China memiliki lebih banyak ruang kebijakan untuk meredam dampak perang, tetapi mungkin sulit untuk mencapai target tingkat pertumbuhan 5,5 persen.

Dia mengatakan IMF tidak memiliki hubungan program atau kebijakan dengan Rusia pada saat ini dan kantornya di Moskow tidak beroperasi. Para anggota telah mengutuk perang, yang disebut Rusia operasi militer khusus, tetapi belum ada diskusi tentang mengakhiri keanggotaan Rusia dalam pemberi pinjaman global itu.

Baca juga
IMF Sebut akan Terjadi Inflasi Tinggi Akibat Perang Rusia-Ukraina

Georgieva menambahkan bahwa “sangat, sangat, sangat tidak mungkin” Rusia akan dapat menemukan bank sentral untuk menukarkan Hak Penarikan Khusus (SDR) IMF ke dalam mata uang.

Dia mengatakan lonjakan inflasi yang dipicu oleh perang berarti pengetatan moneter yang sudah berlangsung di banyak negara akan “berjalan lebih cepat dan lebih jauh” dari yang diperkirakan.

Ini juga akan memiliki konsekuensi serius bagi Amerika Latin, Karibia, beberapa negara Timur Tengah seperti Mesir dan banyak negara di Afrika.

Tinggalkan Komentar