Rabu, 28 September 2022
02 Rabi'ul Awwal 1444

Perang Rusia-Ukraina Untungkan RI: APBN Surplus Rp400 Miliar

Rabu, 23 Mar 2022 - 15:40 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Perang Rusia-Ukraina Untungkan RI: APBN Surplus Rp400 Miliar - inilah.com
Foto: Istockphoto.com

Menurut hitung-hitungan ekonom, perang Rusia versus Ukraina menguntungkan posisi Indonesia secara ekonomi. Sebab, kenaikan harga komoditas berakibat pada pendapatan negara yang surplus Rp400 miliar dari setiap kenaikan US$1 Indonesian Crude Price (ICP). Meskipun, defisit APBN secara keseluruhan tetap lebar.

“Dampak perang Rusia versus Ukraina terhadap APBN Indonesia masih net surplus Rp400-an miliar,” kata Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata kepada Inilah.com di Jakarta, Rabu (23/3/2022).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat, harga minyak mentah Indonesia atau ICP periode 1-24 Februari 2022 tercatat rata-rata mencapai US$95,45 per barel. Angka ini jauh di atas asumsi APBN 2022 yang ditetapkan US$63 per barel.

Demikian Josua mengomentari kian sengitnya Perang Rusia versus Ukraina. Kali ini Rusia diduga menembakkan rudal jelajah yang meluncur dari kapal di lepas pantai Semenanjung Crimea, tepat di barat Sevastopol menuju wilayah Ukraina.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Rabu ini mengungkapkan bahwa perundingan dengan Rusia sangat berat untuk mengakhiri perang dan kadang-kadang diwarnai konfrontasi. Penembakan rudal jelajah tersebut jadi salah satu contoh konfrontasi tersebut. Meskipun, Zelenskyy mengakui, pembicaraan perdamaian itu sedikit demi sedikit menghasilkan kemajuan.

Baca juga
Siap Tindak Lanjuti Ekspor 1 Juta Ton ke Tiongkok, Mendag: Presiden Sejahterakan Jutaan Petani Sawit

Josua kembali menjelaskan, perang Rusia-Ukraina telah mendongkrak harga minyak, batu bara, crude palm oil (CPO), dan komoditas-komoditas lain yang berdampak langsung kepada APBN dan neraca perdagangan.

Di satu sisi, saat harga minyak naik, impor minyak dan gas (migas) pun mengalami peningkatan. Sebab, Indonesia berstatus sebagai net oil importer. Ini terjadi lantaran produksi minyak dalam negeri belum dapat memenuhi kebutuhan nasional.

“Impor naik, defisit perdagangan akan meningkat karena defisit migas yang melebar. Jadi, dari sisi migas defisitnya juga meningkat, karena impor BBM (bahan bakar minyak),” ungkap dia.

Di lain sisi, untuk ekspor kemoditas, Indonesia sangat diuntungkan dengan kenaikan harga CPO di atas US$1.600 per metrik ton dan batu bara di atas US$400 per metrik ton.

“Kinerja ekspor akan solid dalam beberapa bulan ke depan jika harga komoditas bertahan di atas level yang tinggi,” ucapnya tandas. “Neraca non-migas cenderung masih solid dengan surplus meningkat.”

Baca juga
Larangan Ekspor CPO Dicabut, Harga TBS di Aceh Melambung

Simulasi APBN 2022

Jika melihat simulasi APBN 2022, lanjut dia, setiap perubahan US$1 pada ICP berdampak pada pendapatan negara sebesar Rp3 triliun. Pendapatan ini berasal dari kenaikan Pajak Penghasilan (PPh) migas dan nonmigas. “Begitu juga dengan kenaikan penerimaan negara bukan pajak atau PNBP yang naik,” tuturnya.

Akan tetapi, pada saat bersamaan beban belanja pemerintah dan subsidi juga mengalami kenaikan sekitar Rp2,6 triliun. “Dari sisi pendapatan dan belanja negara Indonesia masih surplus 400 miliar,” tuturnya.

Dengan demikian, secara umum Indonesia masih mencatatkan keuntungan dari dampak perang Rusia-Ukraina dengan sedikit surplus pada peningkatan nilai ekspor batu bara dan CPO.

Hal tersebut, menurut Josua, tercermin juga pada stabilnya nilai tukar rupiah karena ekspektasi bahwa komoditas ekspor saat ini mengalami peningkatan. “Meski defisit APBN juga meningkat karena kegiatan ekonomi domestik yang juga meningkat, tapi ini masih manageable,” papar Josua.

Baca juga
Minyak Naik karena Pasar Khawatirkan Pasokan daripada Resesi

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan, meski tidak ada yang tahu kapan perang Rusia dan Ukraina berakhir, pemerintah tidak akan tinggal diam. Artinya, pemerintah terus melakukan kalkulasi untuk berbagai skenario terburuk.

“APBN seperti apa, pasti akan terpengaruh. Kalau terpengaruh, Rusia-Ukraina itu dua-duanya produksi minyak, itu akan pengaruh ke CPO, ke semua berbagai komoditas energi kita,” tegas Ani.

Asal tahu saja, serangan Rusia terhadap Ukraina berlangsung sejak 24 Februari 2022. Agresi militer itu menyebabkan lonjakan pada harga komoditas energi hingga pangan global. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran inflasi yang melambung dan menghambat pertumbuhan ekonomi.

Tinggalkan Komentar