Kamis, 11 Agustus 2022
13 Muharram 1444

Percepatan Penurunan Stunting Harus jadi Prioritas

Sabtu, 06 Agu 2022 - 15:07 WIB
Penurunan Stunting
Dokumentasi YAICI

Menurunkan angka stunting dan gizi buruk masih menjadi pekerjaan rumah yang seharusnya menjadi prioritas pemerintah saat ini.

Pasalnya. Presiden Joko Widodo menargetkan penurunan hingga dibawah 14 persen pada tahun 2024. Sementara, Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan, angka prevalensi stunting di Indonesia pada 2021 sebesar 24,4 persen.

Berbagai strategi nasional telah ditetapkan pemerintah sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dan Peraturan Presiden No 72 tentang Percepatan Penurunan Stunting dengan target penurunan hingga 14 persen pada 2024.

Pemerintah melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) juga telah menjalankan sejumlah program seperti Bapak Asuh, Dapur Sehat, Pendampingan Calon Pengantin, Kelas Pengasuhan Bina Keluarga Balita (BKB).

Meski demikian, upaya-upaya pencegahan stunting berupa edukasi gizi yang menyasar langsung ke masyarakat perlu terus menerus di lakukan. Ketua Harian Yayasan Abhipraya Indonesia (YAICI) Arif Hdayat meminta agar pemerintah dapat menyelenggarakan program-program untuk pencegahan stunting dengan melihat akar permasalahannya.

“Indonesia ini luas, dengan banyak kultur dan budaya yang berbeda. Setiap daerah juga memiliki karakteristik dan permasalahan yang berbeda. Karena itu langkah-langkah penanganan stunting sebaiknya dilakukan dengan melihat akar permasalahan masyarakat setempat,” jelas Arif Hidayat ditulis di Jakarta, Sabtu, (06/08/2022).

Lebih lanjut, Arif mengatakan hal mendasar yang perlu dilakukan adalah memastikan masyakarat teredukasi dan paham mengenai pentingnya gizi yang tepat untuk anak.

YAICI telah sejak lama melakukan edukasi gizi dan  memiliki perhatian terhadap persoalan stunting dan gizi buruk. Terlebih, dengan mencuatnya polemik susu kental manis yang membuat BPOM akhirnya mengatur penggunaan produk dengan kandungan gula yang tinggi ini ke dalam PerBPOM No 31 tahun 2018 tentang Label dan Pangan Olahan.

Baca juga
Terobosan Pelayanan Kesehatan Gunakan Teknologi Berbasis 3D Print

Dalam kebijakan tersebut, terdapat dua pasal yang menjelaskan bahwa kental manis adalah produk yang tidak boleh dijadikan sebagai pengganti ASI dan dikonsumsi oleh anak diawah 12 bulan, serta aturan mengenai label, iklan dan promosinya.

Sepanjang 2022, YAICI bersama patra mitra, PP Muslimat NU dan PP Aisyiyah telah mengedukasi lebih dari 2.000 kader dan masyarakat di Medan, Pekanbaru, Banyuwangi, Sidoarjo, Kupang dan Timur Tengah Utara. Selain edukasi lagsung ke masyarakat, juga dilakukan survey dan penggalian informasi yang berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan masyarakat setempat yang berpotensi mengakibatkan gizi buruk pada anak.

Berdasarkan program edukasi yang dilaksanakan di sejumlah daerah tersebut, YAICI menemukan sejumlah persoalan menarik. Di Timur Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, anak-anak terbiasa mengkonsumsi makanan ringan dan minuman berperisa.

Selain kondisi geografis yang menyebabkan bahan pangan menjadi lebih mahal, pengetahuan masyarakat dalam mengolah bahan pangan menjadi menu yang menarik bagi keluarga minim.

“Misalnya mengolah sayur, masyarakat disini terbiasa mengolah sayur dengan cara dibening (direbus atau tumis), padahal bisa dibuat sayur santan. Jadi menunya tidak beragam dan anak-anak akan bosan,” jelas Sumartin, PC Muslimat NU Timor Tengah Utara.

Ia juga menambahkan, perkembangan teknologi saat ini juga telah memudahkan informasi, hanya saja yang masih perlu ditingkatkan adalah kemampuan masyarakat dalam memahami informasi yang diterima melalui televisi dan sosial media.

Baca juga
Pasien Covid Tak Harus Meninggal, Cukup Terapi Multivitamin

Di Kota Langkat, Medan, ditemukan satu desa dengan sebagian besar hasil pengukuran tinggi dan berat badan balita rendah.

“Dengan di damping kader posyandu, kami melakukan kunjungan ke rumah masyarakat yang memiliki balita di Paya Mabar. Hasilnya, rata-rata balita tidak di imunisasi karena orang tua beranggapan anaknya akan menjadi sakit, dan anak-anak juga tidak minum susu karena orang tua beranggapan susu dapat menyebabkan anak sakit perut. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, orang tua juga tidak memperhatikan asupan anak pada saat MPASI, dan di saat anak berusia 1 tahunan, sudah dibiarkan mengkonsumsi makanan dan minuman ringan dari pedagang keliling,” papar Arif Hidayat.

Sementara, dalam kunjungan ke Pekanbaru awal Juli kemarin, ditemukan keluarga-keluarga penerima program keluarga harapan mendapatkan paket sembako yang didalamnya terdapat produk susu kental manis.

“Di Rumbai Barat, yang memang sebagian besar masyarakatnya penerima PKH, tadinya tidak mengkonsumsi kental manis. Tapi karena di dalam paket sembako yang diterima terdapat produk kental manis, akhirnya malah jadi konsumsi harian anak-anak,” pungkas Arif.

Plt. Bupati Langkat, Syah Afandin, menyambut baik masuknya edukasi gizi dari YAICI yang berkolaborasi dengan berbagai mitra. Ia juga menjelaskan jika penyelesaian permasalahan stunting ini harus secara gotong royong.

“Besar harapan kita dapat membantu program penurunan stunting yang sudah ada di kabupaten Langkat.  Karena itu dari kita juga harus bantu, Dinas Kesehatan dan PPKB bisa berkoordinasi, karena ini (penurunan stunting) memang harus dikerjakan bersama-sama,” jelas Syah Afandin.

Baca juga
Pakar: Soal COVID-19 jadi Endemi Tidak Perlu Booster Vaksin

Lebih lanjut, Syah Afandin mengakui konsumsi kental manis yang menjadi salah satu pemicu persoalan gizi di masyarakat. “Nah itu, masih banyak yang minum susu kental ini. Walah, celaka kali ini. Tapi memang ini juga dipengaruhi ekonomi, jujur saja, susu kental ini kan murah,” beber Syah Afandin.

Senada dengan Syah Afandin, Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Pekanbaru, Muhammad Jamil juga berharap dengan hadirnya YAICI dan mitranya agar nanti dapat berperan menjadi bagian dalam upaya mengejar target penurunan stunting di Pekanbaru sebesar 6 persen.

“Saya ingin kota Pekanbaru bebas stunting, kalau nggak bisa zero minimal di angka 6 persen. Memang stunting harus di keroyok, kita tidak bisa bekerja sendiri. Makanya kita bentuk tim untuk encegahan stunting di kota pekanbaru,” jelas Muhammad Jamil.

Jamil juga mengakui, kota Pekanbaru masih belum lepas dari kemiskinan yang menjadi salah satu faktor penyumbang kejadian stunting dan gizi buruk.

Selain itu, pemahaman masyarakat mengenai stunting serta makanan bergizi juga masih rendah. Oleh karena itu, ia berharap hasil penelitian mengenai gizi dan konsumsi kental manis pada balita dapat menjadi masukan dalam mengatasi persoalan stunting di kota Pekanbaru.

Tinggalkan Komentar