Minggu, 02 Oktober 2022
06 Rabi'ul Awwal 1444

Demokrat: Percuma Ekonomi Kuartal II Tumbuh 5,44 Persen, Orang Duafa Nambah 1,5 Juta

Selasa, 09 Agu 2022 - 19:46 WIB
Percuma Ekonomi Kuartal II Tumbuh 5,44 Persen, Duafa Nambah 1,5 Juta
Anggota Komisi XI DPR asal Fraksi Demokrat, Marwan Cik Asan. (JakartaNews).

Para menteri bidang ekonomi begitu membanggakan capaian pertumbuhan ekonomi kuartal II-2022 sebesar 5,44 persen. Jangan lupa, harga barang kini melonjak, rakyat miskin menggunung.

Anggota Komisi XI DPR asal Partai Demokrat, Marwan Cik Asan mengingatkan kenaikan harga barang (inflasi) yang melonjak dengan cepat. Kondisi ini berdampak kepada naiknya kemiskinan secara signifikan.

Dia bilang, inflasi tinggi tentunya memengaruhi daya beli masyarakat. Otomatis, jumlah keluarga miskin membeludak. “Kalau inflasi naik drastis, konsekuensi akan dengan mudah datang. Sementara, di sisi lain, pemerintah kerap menyuarakan capaian ini dan itu dengan nyaring. Kalau jumlah keluarga miskin nambah, kan cerita capaian itu malah aneh,” kata Sekretaris Fraksi Partai Demokrat itu, Jakarta, Selasa (9/8/2022).

Rupanya, anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR ini, mengacu kepada dana BPS yang menyebut inflasi Juli 2022 mencapai 4,94 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Atau tertinggi dalam 7 tahun terakhir.

Baca juga
Foto: Aksi Demonstrasi Harkitnas di Depan Gedung DPR

Banyak kalangan memprediksikan, inflasi hingga akhir tahunterus bergerak hingga 5 persen, atau melanggar target APBN 2022 yang dipatok di kisaran 2%-4%.

Masih menurut BPS, jumlah penduduk miskin pada Maret 2022, sebanyak 26,16 juta orang. Turun 1,38 juta orang ketimbang Maret 2021 yang sebanyak 27,54 juta orang. Kenaikan harga barang (inflasi) pada Juli 2022, jumlah warga duafa alias miskin diperkirakan bertambah 1 juta sampai 1,5 juta orang.

“Dapat dipastikan, inflasi yang meroket membuat masyarakat yang 70 persen pendapatannya untuk konsumsi makanan dan minuman akan semakin menderita,” tambahnya.

Kata Marwan, kenaikan inflasi yang mulai terjadi sejak awal 2022, dipicu 2 sumber utama: dari kelompok harga yang ditetapkan pemerintah (administered price) diantaranya kenaikan harga BBM non subsidi, gas LPG non subsidi, tarif listrik, dan tarif pajak PPN menjadi 11 persen per April 2022.

Baca juga
Pemecatan Aswanto Inkonstitusional, Jokowi Harus Berani Bersikap

Dikatakan anggota DPR dari Daerah Pemilihan (Dapil) Lampung II, ‘menjinakkan’ inflasi menjadi tantangan berat bagi tim ekonomi Presiden Jokowi. Untuk saat ini, perekonomian Indonesia bisa tumbuh lumayan tinggi tertolong ekspor komoditas unggulan seperti minyak sawit mentah dan batu bara. Kebetulan, harga kedua komiditas ini cukup oke di pasar global.

“Konsumsi rumah tangga akan kembali menurun, maka pertumbuhan ekonomi akan melambat dan masuk dalam kategori stagflasi. In ikan situasi yang tidak kita inginkan,” ujarnya.

Tinggalkan Komentar