Jumat, 01 Juli 2022
02 Dzul Hijjah 1443

Perkuat Infrastruktur Batu bara, Titan Perpanjang Jalur Hauling di Sumsel

Selasa, 21 Jun 2022 - 19:20 WIB
Perkuat Infrastruktur Batu bara, Titan Perpanjang Jalur Hauling di Sumsel
Pembangunan infrastruktur batu bara. (Berita9).

Indonesia adalah salah satu produsen batu bara terbesar di dunia. Cadangannya menduduki urutan ketiga dunia, sebanyak 34,8 miliar ton. Indonesia adalah eksportir batu bara terbesar di dunia. Tahun lalu mencapai 435 juta ton, naik tipis dibanding 2020 sebesar 433,8 juta ton.

Apalagi saat harga batu bara melambung sangat tinggi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Juni ini menetapkan harga batu bara acuan sebesar US$323,91 per ton, naik 17 persen dari harga acuan di bulan sebelumnya, sebesar US$275,64 per ton.

Melihat kondisi terbaik sepanjang sejarah perdagangan batu bara ini, tentu membuat makin banyak penambang batu bara mengeduk tambang mereka. Namun, bisnis batu bara ini tak semulus di bagian hilirnya, karena masih berkutat pada persoalan infrastruktur angkutan.

Pada Januari 2022, masyarakat Jambi dikejutkan dengan rentetan kecelakaan lalu lintas selama sepekan yang menelan korban jiwa hingga delapan.

Seluruh kecelakaan tersebut melibatkan angkutan batubara dan terjadi di jalan raya umum. Kasus seperti ini tak hanya terjad di Jambi, banyak kejadian miris akibat angkutan batu bara yang berdampak pada masyarakat, mulai dari kecelakaan lalu lintas, polusi udara, jalan umum yang rusak parah, dan sebagainya.

Baca juga
Jelang 80 Tahun, Bakrie Grup Banting Setir ke Bisnis Elektrifikasi dan Energi Hijau

Sengkarut angkutan batu bara inilah mulai menggerakan kesadaran perlunya jalur khusus angkutan batu bara.

Menurut Direktur Operasional PT Titan Infra Energy, Suryo Suwignjo, masalah sosial akibat akibat angkutan batu bara ini sebenarnya sudah dipikirkan oleh pemerintah. Buktinya, pemerintah telah menerbitan aturan berupa pelarangan jalan umum daerah maupun nasional untuk dijadikan jalur angkutan batu bara.

“Masalahnya, tak semua daerah penghasil batu bara siap dengan aturan ini,” ujar Suryo, Jakarta, dikutip Selasa (21/6/2022).

Dia menjelaskan, wilayah operasi Titan berada di Provinsi Sumatera Selatan. Di provinsi penghasil batu bara terbesar kedua nasional ini, selain menjadi pemegang ijin usaha pertambangan, Titan juga mengoperasikan jalur hauling atau jalur angkutan batu bara sepanjang 113 kilometer, yang di mulai tiga kabupaten, yakni Lahat, Muara Enim dan Pali. Jalan hauling ini berujung di terminal coal yang berlokasi di Pali.

Saat ini, kata Suryo, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mulai menegakkan aturan penggunaan jalan umum sebagai jalur pengiriman batu bara sebagai diatur dalam Undang-Undang nomor 2 tahun 2022 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 38 tahun 2004 tentang Jalan.

“Pak Gubernur Herman Deru, menurut saya pasti juga memperhatikan data dan fakta tersebut. Sehingga keputusan beliau mengatur angkutan batu bara sesuai aturan yang berlaku nasional sudah tepat,” tambah Suryo.

Baca juga
PLN Krisis Batubara, 10 Juta Pelanggan Jawa-Bali Terancam Pemadaman

Saat ini, ada dua moda angkut batu bara di Sumatera Selatan yang tidak dimiliki oleh propinsi lain, yakni jalur kereta api yang dioperasikan PT KAI, yang banyak digunakan PT Bukit Asam Tbk, dan dua jalur hauling yang dioperasikan Titan dan PT Musi Mitra Jaya di wilayah Musi Banyuasin dan sekitarnya, sepanjang 133 kilometer.

Data di Dinas ESDM Provinsi Sumetara Selatan menunjukkan data cadangan batu bara di provinsi tersebut mencapai 22,2 miliar ton. Sedangan jumlah IUP produksi sebanyak 129. Pemprov menargetkan, produksi batu bara tahun ini mencapai 60 juta ton, naik 10 juta ton dari tahun lalu.

“Di wilayah Muara Enim dan sekitarnya ada puluhan pemegang IUP,” papar Suryo.

Ketika cuan dari penjualan batu bara melangit, tentu banyak pemilik tambang yang berharap bisa mengeruk tambangnya sebanyak banyaknya. Masalahnya, papar Suryo, belum semua wilayah keberadaan IUP itu terjangkau jalur khusus hauling.

“Keberadaan jalan khusus batu bara akan menjadi unblocking potential way bagi potensi batu bara di Sumatera Selatan,” papar Suryo.

Sejatinya, ada kaitan antara kebutuhan potensi, kapasitas produksi dan fasilitas infrastruktur logistik batu bara. Suryo menggambarkan, apabila potensi kandungan material batu bara sebuah perusahaan dipastikan sebesar, misalnya, 30 ton per hari, maka ketiadaan jalur logistik berupa infra struktur jalan raya menjadi hambatan nyata. Seberapa besar kapasitas produksinya akan sangat tergantung dari daya tampung transportasi.

Baca juga
Ekspor Dilarang Sebulan, Pengusaha Batubara Marah-marah

“Percuma bisa produksi besar tapi tidak terangkut ke lokasi tujuan,” terangnya.

Itulah sebabnya, saat Titan ini sedang mempersiapkan perpanjangan jalur haulingnya hingga sepanjang 30 kilometer. Dengan tambahan sejauh itu, Titan bisa menjangkau lokasi tambang yang saat ini posisinya masih berjauhan dengan jalur hauling Titan. “Sedang berproses,” ujar Suryo tanpa memerinci.

Dia juga enggan membeberkan investasi yang digelontor Titan untuk memperpanjang jalur haulingnya. Yang pasti, pembukaan jalur baru itu akan memperluas efek bola salju dari industri pertambangan batu bara.

 

 

Tinggalkan Komentar