Minggu, 29 Januari 2023
07 Rajab 1444

Perlambatan Ekonomi China Jadi Bumerang bagi Kurs Rupiah

Selasa, 17 Jan 2023 - 16:51 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Perlambatan Ekonomi China Jadi Bumerang bagi Kurs Rupiah - inilah.com
Rupiah pada Selasa (17/1/2023) berakhir melemah tajam 120 poin atau 0,80 persen ke posisi Rp15.165 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.045 per dolar AS. (Foto: iStockphoto.com)

China melaporkan pertumbuhan ekonomi negeri Tirai Bambu yang melambat. Ini menjadi sentimen negatif bagi nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa (17/1/2023).

Rupiah berakhir melemah tajam 120 poin atau 0,80 persen ke posisi Rp15.165 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.045 per dolar AS per dolar AS.

“Rupiah melemah karena data eksternal yang cukup kuat, terutama setelah rilis data pertumbuhan ekonomi China yang hanya 3 persen, ekspektasnya kan 5,5 persen. Ini mengindikasikan perlambatan ekonomi global sudah terlihat,” kata Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi seperti dikutip Antara di Jakarta, Selasa (17/1/2023).

Baca juga
Dolar AS Melonjak, Yuan Cetak Rekor Terburuk Sejak Krisis 2008

Kekhawatiran akan resesi global yang diperkuat oleh survei Forum Ekonomi Dunia yang menunjukkan bahwa dua pertiga dari para ekonom yang disurvei memperkirakan resesi tahun ini.

Ibrahim mengatakan faktor eksternal lain yang mempengaruhi pelemahan rupiah hari ini adalah kemungkinan kebijakan dari Bank Sentral Jepang (Bank of Japan) untuk menaikkan suku bunga. Perubahan kebijakan tersebut juga akan menambah penguatan dolar AS sehingga rupiah akan kembali melemah.

“Kebijakan dari bank sentral Jepang yang kemungkinan besar dalam pertemuan besok di hari Rabu ini akan memutuskan mungkin bukan lagi mempertahankan suku bunga, bisa saja menaikkan suku bunga,” ujarnya.

Baca juga
Hantu Resesi Menakutkan bagi Nasabah Tajir

Faktor lainnya adalah perang di Ukraina yang sampai saat ini terus berkecamuk, yang memberikan pengaruh terhadap kenaikan harga komoditas.

Para investor juga masih menunggu dan menantikan hasil pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) untuk kebijakan BI mendatang terkait suku bunga acuan.

Pada Kamis (19/1/2023) BI diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps). Kenaikan suku bunga tersebut bertujuan untuk menahan laju inflasi karena harga komoditas dalam negeri cukup melambung tinggi.

Rupiah pada pagi hari dibuka turun ke posisi Rp15.128 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp15.117 per dolar AS hingga Rp15.180 per dolar AS.

Baca juga
China Mulai Longgarkan Kebijakan Ketat COVID-19

Sementara itu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa melemah ke posisi Rp15.154 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp15.019 per dolar AS.

Tinggalkan Komentar