Rabu, 18 Mei 2022
17 Syawal 1443

Pertemuan Golkar, PAN, dan PPP di Menteng Kode Keras Koalisi

koalisi
Ketua umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto (tengah), Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, dan Ketua Umum PPP, Suharso Monoarfa Foto: Inilah.com/Didik Setiawan.

Pertemuan antara tiga ketua umum Partai Golkar, PAN, dan PPP pada Kamis (12/5/2022) kemarin di Menteng, Jakarta Pusat merupakan sebuah kode keras menuju koalisi pada Pemilu 2024.

Hal ini dikatakan oleh Pengamat Politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno menanggapi pertemuan tiga parpol tersebut. “Ini merupakan kode keras koalisi. Meski tidak disampaikan secara eksplisit namun publik sudah bisa membaca ke arah sana,” katanya.

Menurutnya, kemunculan Golkar, PAN, serta PPP ini memberi alternatif baru koalisi setelah publik mempersepsikan Partai Gerindra dan PDIP disebut-sebut bakal berkoalisi di Pilpres 2024.

Pengamat Politik dan Peneliti LIPI itu juga menilai Golkar sangat mudah diterima oleh partai-partai lain. Sehingga akan mudah membangun koalisi agama-nasional.

Baca juga
AMPI Jabar Duetkan Airlangga-Ridwan Kamil di Pilpres 2024

“Inilah kelebihan Golkar dibandingkan partai lain,” jelasnya.

Jika terbentuk koalisi antara Golkar, PAN dan PPP, maka ketiga partai ini juga sudah mencapai ambang batas presidential threshold sebesar 115 kursi di DPR. Karena kursi ketiga partai itu sudah mencapai 148 kursi.

“Bahkan tidak tertutup kemungkinan akan ada partai lain yang bisa tergabung dalam koalisi yang dibangun oleh Golkar, PAN dan PPP ini,” tuturnya.

Ditambah lagi dengan sosok kepemimpinan Airlangga Hartarto yang cair dan bisa diterima oleh semua partai. Ini akan semakin meneguhkan dirinya sebagai sosok yang sangat kuat di internal Golkar.

Baca juga
Kunjungi Ponpes Husnul Khotimah, Zulhas Ingatkan Pesan Persatuan

Adi tidak melihat ada sosok lain di Golkar yang memiliki elektabilitas lebih tinggi dari Airlangga, sehingga Menko Perekonomian ini dinilai layak diajukan sebagai capres dari koalisi tersebut.

“Isu-isu pendongkelan yang coba dilakukan oleh segelintir internal Golkar saat ini sudah tidak relevan lagi. Terbukti, Airlangga tidak hanya mampu mengkonsolidasikan kader-kader internal, namun ia juga mampu mengkonsolidasikan diri dengan ketum partai lain. Ini sangat strategis,” tandasnya.

Tinggalkan Komentar