Minggu, 27 November 2022
03 Jumadil Awwal 1444

Pertemuan Puan-Prabowo Berpeluang Ubah Peta Koalisi

Senin, 05 Sep 2022 - 23:16 WIB
Penulis : Aria Triyudha
Puan Maharani dan Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor, Minggu (4/9/2022). (Foto: Dok. Gerindra/ Istimewa)
Puan Maharani dan Prabowo Subianto bertemu di Hambalang, Bogor, Minggu (4/9/2022). (Foto: Dok. Gerindra/ Istimewa)

Pertemuan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Ketua DPP PDIP Puan Maharani dinilai berpeluang mengubah peta koalisi yang ada. Sejauh ini, Partai Gerindra dan PKB telah resmi berkoalisi.

Menurut pengamat komunikasi politik Univeraitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, terdapat kemungkinan PDIP berkoalisi bersama Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Peluang itu sangat besar mengingat hubungan Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo serta Muhaimin Iskandar cukup dekat.

“Karena itu, tidak ada halangan yang berarti bagi ketiga partai tersebut untuk berkoalisi. Ketiga partai juga akan lebih mudah menyatukan visi dan misi mereka dalam berkoalisi,” kata Jamiluddin, Senin (5/9/2022).

Baca juga
Unjuk Kedekatan, Gerindra Undang PKB dalam Gelaran Rapimnas

Selain itu, kata Jamiluddin menjelaskan, Megawati juga tidak tertutup kemungkinan ingin memenuhi janjinya kepada Prabowo yang belum terwujud. Perjanjian Batu Tulis tampaknya akan diwujudkan dengan mengusung Prabowo-Puan pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Indikasi ke arah itu dapat dilihat dari adanya pesan rahasia dari Megawati yang dibawa Puan untuk Prabowo.

“Kata Puan, pesan itu yang tahu hanya dirinya, Megawati dan Prabowo. Jadi bisa saja Mega tidak ingin dibebani janji politiknya kepada Prabowo di usia senjanya. Megawati ingin membersihkan namanya dengan menyodorkan Puan sebagai cawapresnya Prabowo pada Pilpres 2024,” terang mantan Dekan FIKOM IISIP Jakarta itu.

Baca juga
Safari Politik Ketum Parpol Sepatutnya tak Hanya Bahas Koalisi Pilpres

Di sisi lain, lanjut Jamiluddin, hal itu bisa dibilang tidak masuk akal. Sebab, PDIP sebagai pemenang Pemilu 2019, selayaknya mengusung capres, sementara Gerindra yang suaranya lebih kecil wajar mendapat porsi cawapres.

Namun, sambung dia lagi, Logika politik itu bisa saja tidak berlaku bila dikaitkan dengan janji politik. Megawati ingin membersihkan dirinya dari stigma ingkar janji politik. ”

“Ia (Megawati) ingin meninggalkan panggung politik cara terhormat dan dikagumi lawan dan kawan politiknya,” imbuh Jamiluddin.

Tinggalkan Komentar