Senin, 06 Februari 2023
15 Rajab 1444

Pesawat Tempur Boeing B-17 Tabrakan, Sempat Jadi Andalan AS Melawan Nazi

Selasa, 15 Nov 2022 - 15:25 WIB
Boeing B-17 Nazi
(ist)

Kabar buruk muncul dari dunia penerbangan Amerika Serikat. Dua pesawat tempur yakni Boeing B-17 Flying Fortress dan Bell P-63 Kingcobra bertabrakan di Wings Over Dallas Airshow di Bandara Eksekutif Dallas, Texas. Pesawat B-17 adalah pesawat tempur legend yang sempat menjadi andalan melawan Nazi.

Kecelakaan itu terjadi Sabtu (12/11/2022) sekitar pukul 13.20 waktu setempat. Sejauh ini tidak ada laporan cedera, tetapi Walikota Dallas Eric Johnson mengatakan bidang puing-puing tabrakan itu membawa kerusakan pada beberapa bagian dari lapangan Bandara Eksekutif, Jalan Raya 67, dan mal terdekat.

Henry ‘Hank’ Coates, CEO Commemorative Air Force, organisasi di balik pertunjukan pesawat tersebut, mengatakan kemungkinan ada enam orang di dua pesawat itu. B-17 biasanya memiliki empat atau lima awak, dan Kingcobra hanya akan memiliki seorang pilot, kata Coates. Meski demikian, pilot dan awak pesawat belum ditemukan.

Dalam video yang beredar, Boeing B-17 terbang tidak terlalu tinggi dengan kecepatan yang konstan. Akan tetapi dari sebelah kiri, datang Bell P-63 Kingcobra yang menabrak badan pesawat bekas Perang Dunia II tersebut. Alhasil, kedua pesawat mengalami ledakan di angkasa sebelum akhirnya terhempas ke tanah.

Pesawat tempur legendaris

Pesawat tempur B-17 termasuk pesawat legendaris karena memiliki banyak sejarah. Karenanya peristiwa tabrakan ini menjadi perhatian di kalangan militer angkatan udara. Pesawat ini sempat mengalami kecelakaan pada 2 Oktober 2019 yang menyebabkan tujuh orang tewas di bandara di Windsor Locks, Connecticut.

Sejarah pesawat tempur ini berawal pada 28 Juli 1935, ketika sebuah pesawat bermesin empat lepas landas dari Boeing Field di Seattle selatan pada penerbangan pertamanya. Pesawat yang diluncurkan dari hanggar Boeing, ketika itu hanya dikenal sebagai Model 299.

Baca juga
Semenanjung Korea Makin Tegang: Korut Kirim 180 Pesawat Tempur, Korsel Kerahkan 80 Jet

Reporter Seattle Times Richard Smith menjuluki pesawat baru itu, dengan banyak senapan mesinnya, ‘Flying Fortress’, nama yang dengan cepat diadopsi dan menjadi merek dagang Boeing. Korps Udara Angkatan Darat AS menetapkan pesawat itu sebagai B-17.

Sebagai tanggapan atas permintaan Angkatan Darat akan pesawat pengebom multimesin yang besar, prototipe yang dibiayai sepenuhnya oleh Boeing, beralih dari papan desain ke uji terbang dalam waktu kurang dari 12 bulan.

Boeing B-17 Nazi

Mengutip situs Boeing.com, B-17 merupakan monoplane sayap rendah yang menggabungkan fitur aerodinamis dari pembom raksasa XB-15, masih dalam tahap desain, dan transportasi Model 247. B-17 adalah pesawat militer Boeing pertama dengan dek penerbangan bukan kokpit terbuka dan dipersenjatai dengan bom serta lima senapan mesin kaliber 30.

Flying Fortress digunakan sebagai pengebom strategis pada Perang Dunia II melawan Nazi Jerman dengan menjatuhkan lebih dari 500.000 ton bom di Eropa. Pesawat ini dipensiunkan pada 1968, dengan jumlah lebih dari 12.000 unit.

B-17 pertama kali terlibat pertempuran pada tahun 1941, ketika Angkatan Udara Kerajaan Inggris menerima pengiriman beberapa B-17 untuk misi penyerangan udara. Ketika Perang Dunia II semakin intensif, para pembom membutuhkan persenjataan lebih banyak dan perisai tambahan.

B-17E, model Flying Fortress pertama yang diproduksi secara massal, membawa sembilan senapan mesin dan muatan bom seberat 4.000 pon. Pesawat Boeing ini memiliki ekor yang khas dan sangat besar untuk meningkatkan kontrol dan stabilitas selama pengeboman di ketinggian. Setiap versi dilengkapi persenjataan lebih berat.

Sebagai salah satu pesawat tempur yang berkekuatan monster, Boeing B-17 ketika itu dibanderol dengan harga yang cukup fantastis per unitnya. Satu unit B-17 Flying Fortress menelan biaya US$238.329 pada tahun 1945. Saat ini sudah tidak lagi dijual dan tipe yang sama sudah tidak diproduksi lagi.

Baca juga
Tips Gowes Sehat dan Terhindar dari Kecelakaan Sepeda

Meskipun berbagai model Benteng Terbang B-17 diproduksi, akan tetapi tipe B-17G adalah yang paling disukai. Hampir 9000 B-17G diproduksi, paling banyak dari semua varian karena spesifikasinya yang unggul. Sebuah B-17G beratnya 65.000 pon dan melaju dengan kecepatan 150 mph (sekitar 240 km/jam) serta kecepatan maksimal pada 287 mph (sekitar 460 km/jam).

Selama Perang Dunia II, hampir 25 unit B-17 sudah dilengkapi dengan kontrol radio dan kamera, diisi dengan bahan peledak senilai 20.000 pound dan diberi nama Rudal Aphrodite. Kemudian Operasi Aphrodite diluncurkan, tepatnya ketika Angkatan Udara AS melakukan pengeboman presisi terhadap bunker dan target musuh. Awalnya operasi tersebut sukses namun secara keseluruhan, dari 14 misi yang diterbangkan, tidak ada yang bisa menetralisir target masing-masing secara tuntas.

Di Pasifik, pesawat-pesawat itu mendapatkan reputasi mematikan di mata orang Jepang, yang menjuluki mereka sebagai ‘pejuang bermesin empat’. Flying Fortress juga legendaris karena kemampuan mereka untuk tetap di udara walaupun menerima serangan brutal.

Boeing B-17 Nazi

Nasibnya kini

Tujuh puluh lima tahun setelah penerbangan pertama B-17, seorang veteran berusia 88 tahun mengirim surat kepada Perusahaan Boeing. Setelah menjelaskan bagaimana dia kembali ke Inggris setelah serangan bom di Jerman dengan 179 lubang antipeluru dengan hanya dua dari empat mesin yang masih hidup, dia menulis: “Saya senang masih hidup. Terima kasih telah membuat pesawat yang begitu bagus.”

Baca juga
Maskapai Dibantu Ngegas, Penumpang Ngos-ngosan

Jenderal Carl Spaatz, komandan udara Amerika Serikat di Eropa, berkata, “Tanpa B-17, kita mungkin kalah perang.”

Boeing Plant 2 membangun total 6.981 unit B-17 dalam berbagai model, dan 5.745 lainnya dibangun di bawah upaya kolaborasi nasional oleh Douglas dan Lockheed (Vega). Hanya beberapa B-17 yang bertahan hari ini, ditampilkan di museum dan pertunjukan udara, sebagian besar dibuang pada akhir perang.

Setidaknya ada 40 unit Boeing B-17 ditangkap oleh Luftwaffe, angkatan udara Jerman. Mereka dicat ulang dan digunakan oleh Luftwaffe untuk latihan. Selain itu, mereka direkayasa ulang untuk meningkatkan pembom Jerman yang ada.

Demikian pula, Uni Soviet (Rusia saat ini) memperoleh B-17 yang telah mendarat di wilayah mereka karena kegagalan mekanis. Pada tahun 1946, mereka telah merekayasa balik B-17 dan B-29 untuk memproduksi Tu-4 buatan negaranya sendiri. B-17 layak terbang terakhir yang tersisa di Eropa dikenal sebagai Sally B.

Unit Boeing B-17 tersebut sekarang berbasis di Imperial War Museum di Duxford, Inggris, dan masih terbang di pameran udara di seluruh Inggris dan Eropa. Beberapa unit yang ada di AS juga lebih banyak untuk pameran dan pertunjukan terbang. [ikh]

 

Tinggalkan Komentar