Peti Jenazah Covid-19 Dari Kardus Bisakah Dipakai?

Peti Jenazah Covid-19 Dari Kardus Bisakah Dipakai? - inilah.com

Beredar video pendek mengenai peti mati bagi jenazah Covid-19 terbuat dari bahan kardus. Dalam konten video testimoni, terlihat sejumlah orang memasang kardus dengan cara mengaitkan satu sama lain hingga berbentuk seperti peti mati. Proses pemasangan tidak sampai lima menit.

Lalu diuji coba dengan seorang berbobot 90 kilogram diangkut dalam peti mati berbahan kardus itu. Bahkan, diklaim peti mati kardus ini mampu mengangkut beban maksimal 160 kilogram. Untuk harganya tidak dibeberkan, namun diklaim ekonomis.


Video pendek ini di unggah oleh akun Twitter @henrysubiakto. INILAHCOM sejak Sabtu (24/7/2021) pukul 19:55 WIB,mencoba menghubungi Henry Subiakto lewat pesan WhatsApp dan sambungan telepon guna mengkonfirmasi lebih detail mengenai peti mati jenazah Covid-19 dari bahan kardus, namun hingga berita ini diturunkan belum direspon.

“Ini peti mati yang terbuat dari bahan limbah kardus, praktis, ringan murah tapi cukup kuat. Ini untuk kebutuhan saat korban covid sedang tinggi,” dikutip dari akun Twitter @henrysubiakto.

Peti Jenazah dari Bahan Baku Kayu dan Triplek


Peti mati saat ini memang amat sangat dibutuhkan oleh rumah sakit rujukan Covid -19, sebab tingginya angka kematian pasien membuat kebutuhan akan peti mati juga melonjak. Pengrajin mebel biasanya membuatpeti jenazah dari bahan baku kayu dan triplek. Dari bahan kayu proses pembuatannya lebih lama, karena biasanya diukir. Sementara triplek lebih cepat proses pembuatannya.

Triplek adalah material bangunan yang mudah rapuh dan tidak tahan dalam berbagai kondisi, maka proses pembuatan peti mati menggunakan perekat atau lem, serta ditimbali paku untuk semakin menambah kekuatan menahan beban.Dalam peti mati baik dari kayu maupun triplek biasanya dilapisi kain putih. Sementara untuk khusus jenazah pasien Covid-19, selain kain juga dilapisi alumunium foil, agar tidak gampang bocor bila ada cairan dari dalam. Untuk harga satu buah peti berkisar dari Rp1,8-2 Juta.

Tanggapan Peti Mati Jenazah Covid-19 dari Kardus

Baca juga  Solusi Mediasi Sengketa Merek dengan Nama Domain

Peti mati dari bahan kardus sebenarnya sudah digunakan di berapa negara dan itu dianggap hal yang dimaklumi dalam masa darurat Covid-19 seperti saat ini. Dalam konteks hukum Islam, bila dalam kondisi Fiqih atau bersifat mendesak maka halal dilakukan.

“Namun itu saya kira alternatif terakhir dan dipastikan kwalitas bahan peti tersebut menjamin keselamatan baik untuk jenazah ataupun yang mengurusnya dan idealnya setelah di uji secara matang. Sehingga kalau secara keamanan dan kesehatan itu terpenuhi keamanannya,” kata Cendekiawan Muda Nahdlatul Ulama, Nur Ahmad Satria, kepada INILAHCOM.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, menekankan memiliki standar khusus terkait peti mati jenazah Covid-19. Yakni, dalam Pedoman Keputusan Kementerian Kesehatan No.413/2020, disampaikan bahwa setelah jenazah dimandikan dan dikafankan atau diberi pakaian, jenazah di masukkan ke dalam kantong jenazah atau di bungkus dengan plastik dan diikat rapat.

Bila diperlukan peti jenazah, maka dilakukan dengan cara jenazah di masukkan ke dalam peti jenazah, di tutup rapat pinggiran peti disegel dengan silikon, dipaku sebanyak empat sampai enam titik dengan jarak masing-masing 20 centimeter. Lalu peti jenazah terbuat dari kayu harus kuat, rapat, dan ketebalan peti minimal tiga centimeter.

“Kalau terkait peti mati ini ada standarnya. Di pedoman KMK 413/2020 kita wajib peti jenazah tadi ya,” kata Juru Bicara Covid-19 Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi kepada INILAHCOM.

Baca juga  Aplikasi PeduliLindungi Sah Jadi Syarat Perjalanan

Merujuk aturan Pedoman Keputusan Kementerian Kesehatan No.413/2020, kemungkinan besar peti mati bagi jenazah Covid-19 terbuat dari bahan kardus, yang dibuat untuk ikut memerangi wabah virus mematikan ini, tampaknya terganjal aturan atau layu sebelum berkembang.

Dari data Satgas Covid-19, sejak 21-24 Juli kasus positif Covid-19 terus meningkat di atas 45 ribu per hari. Pada 21 Juli, kasus positif Covid-19 naik 33.772 orang, 22 Juli menjadi 49.509 orang, 23 Juli, 49.071 orang, dan 24 Juli bertambah 45.416 orang.

Kondisi tersebut juga memicu kenaikan angka pasien Covid-19 yang meninggal dunia. Tanggal 21 Juli angka kematian bertambah 1.383 orang, 22 Juli 1.449 orang, 23 Juli naik lagi menjadi 1.566 orang, dan pada 24 Juli bertambah 1.415 orang yang meninggal.

Angka kesembuhan juga mengalami peningkatan, pada 21 Juli bertambah 32.887 orang sembuh, 22 Juli 36.370 orang, 23 Juli 38.988 orang, dan pada 24 Juli ada kenaikan lagi 39.767 orang sembuh.

Sementara itu, relawan dan penggiat media sosial yang fokus dalam penanggulangan penyebaran Covid-19, dr. Tirta Mandira Hudhi, mengatakan segala penemuan terkait penanganan wabah dan pemakaman jenazah Covid-19 meski diapresiasi. Pasalnya angka kematian akibat Covid-19 saat ini meningkatnya sangat tajam sudah nyaris 1.500 per hari.

“Tapi semua harus ada SOP nya, agar bisa meminimalisir dan sesuai protokol kesehatan yang ada. Apakah sesuai standar atau tidak. Begitu pandangan saya,” ujar dr. Tirta kepada INILAHCOM.

Tinggalkan Komentar