Selasa, 17 Mei 2022
16 Syawal 1443

Pfizer-BioNTech Mulai Uji Klinis Vaksin COVID-19 Khusus Varian Omicron

Pfizer Omicron
(ist)

Raksasa farmasi AS, Pfizer, bersama mitranya dari Jerman, BioNTech, mengumumkan telah memulai uji klinis dari versi vaksin COVID-19 baru yang dirancang khusus untuk melindungi dari virus Corona varian Omicron.

Dalam sebuah pernyataan bersama, kedua perusahaan mengatakan akan menguji vaksin baru baik untuk dosis utama maupun sebagai booster pada lebih dari 1.400 relawan dewasa yang sehat berusia 18-55 tahun.

Peneliti akan mengelompokkan para relawan itu ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama, yang sudah menerima dua dosis awal dari vaksin yang sekarang, akan diberi satu atau dua dosis vaksin khusus Omicron yang baru.

Lalu kelompok kedua, yang telah menerima dua dosis pertama dan booster berupa vaksin yang asli, akan diberi satu dosis versi vaksin saat ini atau yang direvisi. Sedangkan kelompok ketiga akan terdiri dari orang dewasa tidak divaksinasi yang akan diinokulasi dengan tiga dosis vaksin khusus Omicron.

Baca juga
IHSG Merangsek Naik Menuju 7.200, Enam Saham ini Wajib Masuk Portofolio

Uji klinis vaksin khusus Omicron buatan Pfizer dilakukan di tengah rilis sebuah studi baru yang menunjukkan antibodi yang dihasilkan oleh dosis ketiga dari vaksin pertama COVID-19 masih memberikan perlindungan yang kuat sampai empat bulan setelah dosis terakhir.

Temuan dari studi laboratorium yang dilakukan sekelompok ilmuwan di University of Texas Medical Branch bekerja sama dengan para ilmuwan dari Pfizer dan BioNTech, telah di-posting secara online pada Sabtu (22/1/2022), namun belum dikaji rekan sejawat atau diterbitkan dalam sebuah jurnal ilmiah yang resmi.

Terkait masalah yang sama, Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan AS (FDA), pada Senin (24/1/2022) mengumumkan telah menghentikan penggunaan dua perawatan antibodi virus Corona karena tidak efektif terhadap varian Omicron.

Baca juga
Penerima Vaksin COVID-19 Dosis Lengkap di Indonesia Capai 124,08 Juta Jiwa

FDA menyatakan pihaknya membatasi otorisasi penggunaan darurat yang diberikan berkaitan dengan pengobatan yang dikembangkan oleh perusahaan Regeneron dan Eli Lilly.

Keputusan untuk menarik kedua metode pengobatan itu mengakibatkan para dokter dan rumah-rumah sakit di AS hanya memiliki satu pengobatan antibodi yang dikembangkan perusahaan farmasi AS GlaxoSmithKline dan mitranya, Vir Biotechnology, bersama dengan pil antivirus yang dikembangkan Pfizer dan raksasa farmasi AS Merck. Semuanya persediaannya sedikit di seluruh negeri dan sulit untuk menemukannya.

Sementara itu, para ilmuwan di seluruh dunia terus mengamati versi baru dari varian Omicron yang kini telah terdeteksi di lebih dari 40 negara.

Versi yang disebut BA.2 itu telah terdeteksi di Inggris, Denmark, India, Norwegia, Singapura, Swedia, dan AS pada Januari saja. Beberapa pejabat kesehatan di Denmark mengatakan versi BA.2 tersebut menggantikan versi asli Omicron yang disebut BA.1.

Baca juga
Front Nasional Pancasila: Cengkeraman Oligarki Semakin Brutal Menjurus Kriminal

Versi baru Omicron itu terjadi pada hampir setengah dari semua infeksi baru di negara Skandinavia tersebut, sementara Badan Keamanan Kesehatan Inggris mengklasifikasikan BA.2 sebagai ‘varian yang sedang diselidiki’.

Database online Outbreak.info mengatakan BA.2 telah terdeteksi di 49 negara, menurut informasi pengujian genomik yang dikumpulkan dalam sebuah database pusat yang disebut Global Initiative on Sharing Avian Influenza Data, atau GISAID.

Para peneliti telah menjuluki BA.2 sebagai ‘Omicron yang diam-diam’ karena sifat genetiknya membuat versi itu lebih sulit untuk diidentifikasi melalui tes PCR. Namun sejauh ini, tidak ada cukup data untuk menentukan apakah versi baru Omicron itu lebih menular dan lebih ganas dari pada induknya yang sangat menular.

Tinggalkan Komentar