Selasa, 07 Februari 2023
16 Rajab 1444

PGII Jadi ‘Obat Mujarab’ Kesenjangan Infrastruktur dan Investasi Negara Berkembang

Rabu, 16 Nov 2022 - 15:13 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
PGII Jadi ‘Obat Mujarab’ Kesenjangan Infrastruktur Negara Berkembang - inilah.com
(Foto: Humas Kemenko Perekonomian)

Pertemuan Partnership for Global Infrastructure and Investment (PGII) telah berlangsung di sela-sela Pertemuan Tingkat Tinggi (KTT) Presidensi G20 Indonesia di Bali, Selasa (15/11/2022). PGII merupakan upaya kolaboratif oleh anggota G7 diluncurkan pertama kali pada Juni 2021 pada KTT G7 ke-47 di Inggris.

Para anggota G7 adalah Amerika Serikat, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada dan Prancis. PGII memiliki komitmen selama 5 tahun ke depan akan menginvestasikan US$600 miliar dalam bentuk pinjaman dan hibah untuk proyek infrastruktur berkelanjutan bagi negara berkembang.

Pada kesempatan tersebut, Presiden Indonesia Joko Widodo, Presiden Amerika Serikat Joe Biden, dan Presiden Komisi Eropa Ursula Von der Leyen menjadi tuan rumah bersama sekelompok pemimpin negara G20 yakni Jepang, Jerman, Korea Selatan, Senegal, Kanada, Argentina, Inggris dan India.

Kegiatan tersebut menjadi momentum yang tepat untuk menunjukkan komitmen guna mempercepat investasi dalam infrastruktur yang berkualitas di negara-negara miskin dan menengah di seluruh dunia serta memperkuat ekonomi global.

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto turut mendampingi Presiden Joko Widodo.

Baca juga
Ditanya Duet dengan Ganjar, Airlangga Cerita Komunikasi Sesama UGM Lancar

Mengawali acara, Presiden Biden menyampaikan perkembangan dan dampak PGII hingga saat ini, mengumumkan proyek-proyek baru, dan memberikan contoh nyata peran AS dan mitranya bekerja sama untuk memobilisasi modal infrastruktur berkualitas dan pembangunan berkelanjutan.

“Pemerintah AS secara resmi mengumumkan proyek baru PGII antara lain kemitraan Just Energy Transition Partnership atau JETP yang memobilisasi US$20 miliar pembiayaan sektor publik dan swasta untuk Indonesia, Indonesia Millenium Challenge Corporation (MCC) Compact yang telah berhasil meluncurkan US$698 juta, Trilateral Support for Digital Infrastructure melalui kemitraan Australia dan Jepang dalam mendukung proyek digital, mengamankan rantai pasokan mineral kritis di Brasil, pengembangan energi surya di Honduras, dan investasi dalam infrastruktur kesehatan India,” jelas Presiden Biden.

Dalam sambutannya, Presiden Joko Widodo, sebagai tuan rumah KTT G20 menyampaikan, Indonesia selalu mendukung penguatan pembangunan infrastruktur di negara-negara berkembang. Krisis multidimensional yang tengah dihadapi dunia membawa tantangan tersendiri bagi pembangunan infrastruktur di negara berkembang, termasuk melalui penyusutan ruang fiskal.

Baca juga
Pelaksanaan Pertemuan G20 Finance Track Dipindah ke Jakarta

Dukungan yang diberikan PGII harus bersifat country driven dan berdasarkan kebutuhan riil negara tujuan. Selain itu, PGII juga harus menjadikan konsultasi dan dialog dengan negara penerima sebagai pedoman utama.

“Pembangunan infrastruktur perlu memberdayakan masyarakat dan ekonomi setempat agar memiliki rasa kepemilikan yang tinggi disertai dukungan bagi negara berkembang untuk membangun kapasitas dan kemampuan mandiri. Dengan demikian negara berkembang dapat lebih tangguh menghadapi tantangan global di masa mendatang,” ungkap Jokowi.

Upaya PGII dalam mendukung pembangunan infrastruktur di negara berkembang, sambung Presiden Jokowi, juga harus didasarkan pada paradigma kolaborasi. PGII diminta untuk melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan termasuk sektor swasta yang dinilai akan membawa manfaat nyata.

Lebih lanjut, PGII juga harus menghasilkan dukungan pembangunan berkelanjutan, termasuk lewat pembangunan hijau dan transisi energi.

Sementara Presiden Von der Leyen meyakini, pertemuan PGII pada sela-sela KTT G20 di Bali dapat menjadi penentu situasi perekonomian dunia.

Baca juga
Jelang Kenaikan BBM Jokowi Sambangi Papua

“Kami yakin kemitraan dapat menjadi penentu permainan karena dua alasan, pertama PGII tidak hanya menanamkan modal besarnya di infrastruktur, tetapi juga investasi pada kapasitas lokal mitra kami,” ujar Presiden Von der Leyen.

Selanjutnya dalam kesempatan tersebut, Menko Airlangga bertindak sebagai moderator dan mempersilahkan Jerman, Korea Selatan, Senegal, Kanada, Argentina, Inggris, dan India untuk menyampaikan pandangan masing-masing.

Pada sesi akhir kegiatan, Presiden Biden menutup pertemuan PGII tersebut. Turut hadir mendampingi Presiden Joko Widodo dalam kegiatan tersebut, yakni Menteri Luar Negeri serta Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat.

Tinggalkan Komentar