Minggu, 27 November 2022
03 Jumadil Awwal 1444

PHK Startup, Bulan Madu Berakhir Tapi Masih Sarat Optimisme

Selasa, 21 Jun 2022 - 12:30 WIB
phk startup
(ilustrasi)

Bisnis startup dalam beberapa tahun terakhir menjadi booming. Banyak pihak termasuk pemerintah menggantungkan harapan terhadap sektor bisnis ini untuk mendongrak perekonomian. Namun, tak semua harapan berbuah manis, mengingat kini banyak perusahaan startup yang terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan.

Beberapa perusahaan rintisan atau startup yang beroperasi di Indonesia akhir-akhir ini terpaksa melakukan PHK. Sebenarnya, PHK yang terjadi pada startup ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Beberapa startup terkenal dan besar juga melakukan PHK pada tahun ini seperti Netflix dan Robinhood. Menurut agregator layoffs.fyi, disinyalir ada total 15 ribu pegawai di sektor teknologi kehilangan pekerjaannya di berbagai negara.

Startup Lokal

Kabar terbaru ada Shopee yang melakukan PHK massal di beberapa pasar utama mereka, termasuk Indonesia. E-commerce yang berbasis di Singapura itu tengah melakukan penyesuaian bisnis yang berdampak pada kegiatan operasionalnya di kawasan Asia Tenggara dan Amerika Latin. Shopee menutup operasinya di Prancis dan di India.

Namun, hal itu dibantah Direktur Eksekutif Shopee Indonesia Handhika Jahja yang mengatakan, langkah penyesuaian tersebut diambil pada segmen dan pasar tertentu. Ia memastikan langkah tersebut tidak melibatkan Shopee Indonesia. “Shopee Indonesia terus menunjukkan performa yang baik,” kata dia dalam keterangannya, Rabu (15/6/2022).

Ia menambahkan, di Indonesia, Shopee mempekerjakan lebih dari 20.000 karyawan dalam berbagai lini bisnis seperti Shopee, ShopeePay, dan ShopeeFood. Adapun dari jumlah tersebut lebih dari 50 persen bergabung sejak dimulainya pandemi COVID-19.

Sebelumnya sederet startup terpaksa melakukan PHK, seperti startup di sektor pendidikan Pahamify yang melakukan PHK pada Maret 2022 lalu. Ada juga startup pertanian Tanihub yang melakukan PHK karyawan pada Februari tahun ini. TaniHub juga menghentikan operasional dua warehouse atau pergudangan yakni di Bandung dan Bali.

Sama seperti TaniHub, SiCepat merupakan startup awal yang menginformasikan adanya PHK terhadap ratusan karyawan yang tidak memenuhi standar penilaian perusahaan. SiCepat menilai jumlah karyawan yang terdampak kebijakan tersebut tidak mencapai 1 persen dari total karyawan. Secara komposisi jumlah karyawan yang terdampak adalah 0,6 persen dari total sebanyak 60.000 karyawan atau tepatnya 360 karyawan.

Baca juga
Di Beranda Istana Alhambra (10 – Menjadi Khatib dan Imam)

Ada juga PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) alias LinkAja yang mem-PHK karyawan hingga ratusan orang. Head of Corporate Secretary Group LinkAja Reka Sadewo mengatakan, kebijakan ini disepakati lantaran perusahaan ingin melakukan reorganisasi SDM.

Sementara startup teknologi edukasi Zenius melakukan PHK karyawan hingga 25 persen atau lebih dari 200 karyawan. Hal ini pun dibenarkan oleh manajemen Zenius. “Saat ini kami sedang mengalami kondisi makro ekonomi terburuk dalam beberapa dekade terakhir,” ujar manajemen dalam keterangannya.

Perusahaan furnitur Fabelio juga telah melakukan pengurangan karyawan sejak awal 2021. Hal itu sebagai langkah efisiensi perusahaan yang mengalami kesulitan secara finansial. Pada periode awal 2021, ada sekitar 20-an karyawannya yang dipecat. Fabelio menutup hampir seluruh gerai atau showroom yang berada di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Bandung, dan Surabaya.

Startup game MPL, juga merumahkan sekitar 100 karyawannya dan memutuskan keluar dari pasar Indonesia. Platform eSports dan game asal India tersebut mengalami perlambatan pertumbuhan bisnis di Indonesia.

Ratusan karyawan di PHK juga terjadi di startup setingkat Gojek dan Grab. Gojek pernah PHK 430 karyawan dan Grab pernah PHK 360 karyawan.

Fenomena PHK tersebut muncul di tengah kondisi keuangan perusahaan yang serba sulit akibat tekanan ekonomi yang terindikasi dipicu sejumlah faktor. Dari mulai tren naiknya suku bunga AS, kondisi makro ekonomi, hingga efek transisi pasca-pandemi COVID-19.

Jadi Kebanggaan

Sejak beberapa tahun terakhir, pemerintah terus mendorong pengembangan dan banyak menaruh harapan kepada perusahaan rintisan ini. Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pertemuan bersama CEO perusahaan di AS ikut mempromosikan perkembangan startup Tanah Air dengan harapan dapat menyerap investasi pebisnis negeri Paman Sam, terutama dalam persoalan infrastruktur digital, kapasitas pembangunan digital, dan digitalisasi rantai pasokan global.

“Saat ini Indonesia memiliki 2.346 startup, terbanyak kelima di dunia dengan dua decacorn dan delapan unicorn,” kata Jokowi dalam pertemuan ASEAN-US Special Summit with Business Leaders di Intercontinental the Willard Hotel, Washington DC, AS, pada Kamis (12/5/2022).

Baca juga
Digitalisasi Kunci Masa Depan Ekonomi Indonesia Pascapandemi COVID-19

Pemerintahan Jokowi memang terus mendorong digitalisasi di masyarakat salah satu upayanya dengan meluncurkan Merah Putih Fund. Jokowi menyebut startup yang masih golongan soonicorn akan diberikan suntikan dana dari Merah Putih Fund. Pendanaan ini merupakan gagasan dari gagasan Menteri BUMN Erick Thohir yang terdiri dari sejumlah BUMN.

Perusahaan startup juga menjadi idola para pencari kerja di Tanah Air. Selain membutuhkan banyak SDM, juga lingkungan kerjanya dinilai sangat asyik dan menantang buat para generasi milenial. Satu lagi yang juga menggiurkan adalah besaran gajinya. Gajinya bisa jauh dari Upah Minimum Provinsi (UMP) bervariasi dari mulai Rp5 juta hingga Rp50 juta untuk posisi head.

Tantangan

Situasi bisnis startup memang sudah berubah akhir-akhir ini. Bulan madu sepertinya sudah selesai. Memang benar bahwa pandemi, yang memaksa orang melakukan work from home (WFH) membuat orang berlomba-lomba memakai teknologi digital. Namun setelah pandemi melandai, banyak warga kembali ke kebiasaan lama sehingga momentum untuk startup menurun.

Faktor lainnya adalah kondisi ekonomi dunia yang tidak baik-baik saja akan berdampak buruk dan kondisi itu bisa berlangsung lama. Investor mulai membatasi menghindari investasi startup yang persepsi risikonya tinggi, terlebih ada kenaikan inflasi dan suku bunga di berbagai negaranya. Akibatnya perusahaan rintisan kesulitan mendapatkan pendanaan.

Sementara persaingan juga semakin ketat sehingga berpotensi hilangnya market share. Pasar juga mulai jenuh dan hypersensitif terhadap promo dan diskon. “Ketika satu startup kehabisan pendanaan, sementara investor baru tidak tertarik membeli maka fondasi startup akan runtuh. Tech bubble bukan sesuatu yang mustahil,” ujar Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios).

Hal senada juga diungkapkan Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi. Investor mulai melakukan perhitungan atas investasi besar yang sudah mereka tanamkan. “Saat ini para investor sudah pada taraf ingin mengambil untung dari investasi gelombang startup pertama, setidaknya mengembalikan modal mereka sehingga startup didorong untuk IPO,” katanya.

Heru melihat bubble atau gelembung startup sudah bocor sehingga mungkin akan ada startup yang jadi korban. Startup, katanya, dari asal bersifat bubble karena secara fundamental bisnis memang fragile. Sebab, rata-rata tidak memiliki aset karena aset dimiliki mitra. Seperti transportasi online yang memiliki motor atau mobil adalah mitra. Menyediakan barang yang dijual semua disediakan mitra. “Sehingga, rentan untuk gelembungnya pecah,” jelas Heru.

Baca juga
Diganduli Pelemahan Rupiah, IHSG Akhir 2022 Bisa Bertengger di 7.500

Masih Ada Optimisme

Para pelaku startup, layaknya industri bisnis lainnya saat ini tengah menghadapi proses seleksi secara natural. Namun, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate meyakini para founder dari perusahaan rintisan itu pasti memiliki intuisi bisnis, baik strategi dari sisi pengembangan pembiayaan domestik maupun internasional.

Bisnis yang terkonsep dengan baik, unik, dan relevan akan terus bertumbuh serta mendapatkan pangsa pasar yang baik. Sementara bisnis yang masih berusaha membentuk konsep yang baik, harus melakukan beragam penyesuaian agar dapat survive di era kompetisi digital yang selalu berkembang.

“Jika suatu bisnis tidak berhasil melakukan penyesuaian secara substansial, banyak tantangan yang akan sulit dihadapi, termasuk salah satunya berdampak pada pengurangan karyawan,” kata Menkominfo, baru-baru ini.

Yang jelas mesti diingat musim sulit di bisnis startup diperkirakan masih berjalan cukup lama. Para pelaku usaha sektor ini harus mempersiapkan diri dari yang terburuk. Termasuk melakukan berbagai perombakan strategi jika ingin survive atau bertahan, dengan evaluasi ulang target pasar, kalau perlu mengubah bisnis model apabila tidak memiliki prospek pasar yang kompetitif.

Kondisi saat ini juga menjadi tantangan untuk terus kreatif seperti sifat bisnis ini yang mengandalkan kreativitas dan inovasi. Masih banyak kesempatan besar mengingat ke depan pemanfaatan digitalisasi di berbagai sektor akan membuka banyak peluang ekonomi di sektor teknologi digital. [ikh]

Tinggalkan Komentar