Jumat, 27 Mei 2022
26 Syawal 1443

Piala Dunia 2022: Bagaimana Qatar Memperlakukan Pekerja Stadion?

Piala Dunia Qatar
(ist)

Hasil undian putaran final Piala Dunia 2022 di Qatar telah diumumkan. Dengan ini, turnamen akbar sepak bola itu siap untuk digelar mulai dari 21 November sampai 18 Desember 2022.

Piala Dunia tahun ini dibayangi berbagai kontroversi –mulai dari bagaimana Qatar bisa memenangkan persaingan untuk menjadi tuan rumah, apakah Qatar memang cocok untuk menggelar perhelatan turnamen sepak bola paling akbar, hingga masalah bagaimana negara ini memperlakukan puluhan ribu pekerja yang membangun stadion.

Perlakuan terhadap pekerja migran

Untuk menggelar Piala Dunia 2022, Qatar membangun tujuh stadion, satu bandar udara baru, jaringan kereta, dan sejumlah ruas jalan baru.

Tak kurang dari 30.000 pekerja migran dikerahkan untuk membangun proyek ini dan Qatar dikecam pada 2016 oleh organisasi hak asasi manusia, Amnesty International, karena dianggap ‘menerapkan kerja paksa’.

Amnesty International menyebut para pekerja tinggal di akomodasi yang buruk, membayar mahal biaya perekrutan, gaji ditahan, dan paspor disita.

Sejak 2017, pemerintah Qatar menerapkan sejumlah kebijakan untuk melindungi buruh migran agar tidak bekerja dalam kondisi temperatur yang sangat panas, membatasi jam kerja, dan meningkatkan kualitas akomodasi.

Tetapi, organisasi hak azasi manusia Human Rights Watch (HRW) dalam laporan pada 2021 mengatakan, pekerja migran ‘masih mengalami praktik ilegal pemangkasan gaji’ dan ‘tidak menerima gaji selama berbulan-bulan, padahal sudah bekerja berat dengan jam kerja yang panjang’.

Amnesty International juga mengatakan meski sistem ‘kafala’ atau sponsor telah dihapus, namun para buruh tetap saja menerima tekanan yang berat. Selama ini, sistem kafala melarang buruh meninggalkan pekerjaan tanpa izin majikan atau perusahaan.

Juru bicara pemerintah Qatar mengatakan kepada BBC News, “Sudah ada kemajuan besar untuk memastikan reformasi benar-benar diterapkan.”

Baca juga
FIFA Dikabarkan Akan Larang Timnas Rusia di Pertandingan Internasional

Ia juga mengatakan, jumlah perusahaan yang melanggar aturan perburuhan ‘terus menurun’.

Berapa pekerja yang tewas?

Pada Februari 2021, surat kabar Inggris The Guardian memberitakan 6.500 pekerja migran dari India, Pakistan, Nepal, Bangladesh dan Sri Lanka meninggal di Qatar sejak negara ini memenangkan persaingan untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Kematian tersebut, yang diumumkan oleh lima negara Asia ini, tidak dikategorikan sebagai kematian di tempat kerja.

Namun, kelompok hak buruh, FairSquare, mengatakan ada kemungkinan banyak dari mereka yang tewas sebelumnya bekerja di proyek-proyek Piala Dunia.

Pemerintah Qatar mengatakan, angka kematian tersebut berlebihan karena ‘mencakup ribuan warga asing yang meninggal setelah tinggal dan bekerja di sana selama bertahun-tahun’.

Dikatakan pula, ‘banyak di antaranya yang bekerja bukan di sektor konstruksi atau bangunan’.

Qatar mengatakan antara 2014 hingga 2020, sebanyak 37 orang meninggal dunia saat bekerja membangun stadion-stadion Piala Dunia, dengan 34 di antaranya ‘tidak terkait dengan pekerjaan mereka’.

Organisasi Buruh Internasional atau ILO mengatakan tidak menghitung kematian mendadak di antara para pekerja, misalnya mereka yang tewas akibat serangan jantung dan kegagalan sistem pernapasan, yang dipicu oleh kondisi suhu udara yang sangat panas.

Oleh pemerintah Qatar, kematian ini digolongkan sebagai kematian biasa, bukan kematian yang terkait dengan kondisi kerja.

ILO mengumpulkan sendiri data kematian yang didapat dari rumah-rumah sakit pemerintah dan layanan ambulans di Qatar, mendata semua kematian yang terkait dengan Piala Dunia.

Menurut ILO, 50 pekerja tewas dan lebih 500 lainnya cedera parah di Qatar selama tahun 2021 saja. Di luar itu, 37.000 orang cedera ringan hingga tak terlalu berat.

Penyebab utama kematian dan cedera adalah jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu lintas, dan terkena benda yang jatuh.

Baca juga
Tahun Depan, Bali Jadi Tuan Rumah Esport World Championships ke-14

Bagaimana Qatar bisa menjadi tuan rumah Piala Dunia?

Sorotan langsung tertuju ke Qatar sejak negara diumumkan oleh FIFA sebagai penyelenggara Piala Dunia pada tahun 2010.

Banyak yang kaget dengan keberhasilan Qatar memenangkan persaingan menjadi tuan rumah Piala Dunia, karena negara ini tak punya sejarah sepak bola yang mengesankan.

Juga tak pernah lolos ke putaran final. Tapi Qatar berhasil menyingkirkan negara-negara seperti AS, Australia, Korea Utara, dan Jepang.

Keputusan ini memunculkan dugaan para pengurus FIFA ‘menerima suap dari Qatar’ meski penyelidikan independen yang dibentuk FIFA tidak menemukan bukti kecurigaan tersebut.

Qatar membantah tuduhan telah membeli suara, namun penyelidikan oleh pihak berwenang Prancis masih berlangsung, dan pada 2020, AS menuduh tiga pejabat FIFA menerima bayaran.

Mengapa Piala Dunia 2022 digelar November-Desember?

Putaran final Piala Dunia biasanya dihelat pada Juni hingga Juli. Akan tetapi, temperatur pada bulan-bulan ini di Qatar mencapai 41 derajat Celsius dan bisa mencapai 50 derajat Celsius, terlalu panas untuk berada di luar, apalagi bermain di lapangan selama 90 menit.

Dalam proses pencalonan menjadi tuan rumah, Qatar menjanjikan teknologi pendinginan udara yang akan dipasang di stadion, arena latihan dan zona untuk pecinta sepak bola. Dikatakan, suhu udara di tempat-tempat ini akan diatur di kisaran 23 derajat Celsius.

Tetapi pada 2015, FIFA memutuskan Piala Dunia 2022 digelar saat belahan Bumi utara mengalami musim dingin.

Diputuskan, Piala Dunia 2022 resmi dibuka pada 21 November dan laga final digelar pada 18 Desember. Namun, jadwal ini bertabrakan dengan jadwal liga domestik di banyak negara.

Itu artinya, Liga Primer di Inggris harus meliburkan kompetisi antara 13 November hingga 26 Desember 2022.

Baca juga
6 Stadion Piala Dunia U-20 2023 di Indonesia Akan Dievaluasi

Hasil undian Piala Dunia 2022

Ada 32 negara yang berpartisipasi dalam Piala Dunia 2022. Mereka dibagi ke dalam delapan grup.

Tujuh negara menempati unggulan teratas berdasarkan peringkat FIFA –Brasil, Belgia, Prancis, Argentina, Inggris, Spanyol, dan Portugal– tidak akan bertemu satu sama lain di babak penyisihan grup.

Sebagai tuan rumah, Qatar, juga otomatis masuk dalam ‘kelompok elite’ ini.

Berikut ini pembagian grupnya:

Grup A:
Qatar, Ekuador, Senegal, Belanda

Grup B:
Inggris, Iran, AS, Wales/Skotlandia/Ukraina

Grup C:
Argentina, Arab Saudi, Meksiko, Polandia

Grup D:
Prancis, UEA/Australia/Peru, Denmark, Tunisia

Grup E:
Spanyol, Kosta Rika/Selandia Baru, Jerman, Jepang

Grup F:
Belgia, Kanada, Maroko, Kroasia

Grup G:
Brasil, Serbia, Swiss, Kamerun

Grup H:
Portugal, Ghana, Uruguay, Korea Selatan

Masih ada tiga tempat yang belum terisi karena penundaan beberapa pertandingan play-off, akibat invasi Rusia ke Ukraina dan pandemi COVID-19.

Dua laga final antarbenua akan dilangsungkan di Qatar pada 13-14 Juni 2022. Kosta Rika akan melawan Selandia Baru, dan Peru akan melawan pemenang Uni Emirat Arab versus Australia, yang bertemu di play-off Asia di Doha pada 7 Juni 2022.

Pertandingan-pertandingan itu dipindahkan dari bulan Maret karena efek domino pandemi COVID-19 di setiap benua. Seluruh pertandingan kualifikasi Oseania dilangsungkan pada 17–30 Maret 2022 dalam mini turnamen di Qatar.

Wales, yang berusaha untuk mencapai Piala Dunia pertama mereka sejak 1958, harus melawan pemenang Skotlandia versus Ukraina pada babak final play-off pada bulan Juni. Namun, babak semi-final itu –yang awalnya dijadwalkan pada 24 Maret 2022– ditunda karena invasi Rusia ke Ukraina.

(sumber: BBC News)

 

Tinggalkan Komentar