Senin, 08 Agustus 2022
10 Muharram 1444

Picu Tabrakan LRT, Ini Dampak Ponsel dari Mata Hingga Otak

Selasa, 21 Des 2021 - 15:27 WIB
Dampak Ponsel - inilah.com
(ilustrasi)

Masih ingat tabrakan LRT Jabodebek di ruas Cibubur beberapa waktu lalu? Ternyata Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menemukan penyebabnya adalah gara-gara masinis tidak fokus karena tengah memainkan ponsel.

Dampak gadget memang luar biasa dari menyebabkan kecelakaan, kerusakan mata hingga otak.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, kecelakaan tabrakan LRT Trainset (TS) 29 yang direncanakan berhenti langsir pada KM. 12+800 KM jalur 1 St. Harjamukti itu disebabkan adanya human error yang berujung tabrakan antara TS 29 dan TS 20.

“Temuan di lapangan menunjukkan bahwa teknisi TS 29 mengalami distraction akibat penggunaan telepon seluler sehingga tidak fokus menjalankan kereta,” ujar Soerjanto, Senin (20/12/2021).

Peristiwa ini menjadi yang kesekian kalinya bagaimana gadget memiliki pengaruh buruk pada kehidupan manusia. Sebuah survei situs Qraved pada awal Februari 2017 dilakukan terhadap 5.000 pengguna situs dan aplikasi pencarian kuliner ini di Jakarta dengan usia 18-45 tahun, dan memiliki pasangan.

Hasilnya menunjukkan 90 persen orang menyatakan menggunakan ponsel di waktu makan sangat tidak sopan dan mengganggu. Kebiasaan menggunakan ponsel di waktu makan ternyata menjadi salah satu alasan retaknya hubungan sepasang kekasih.

Sejumlah 72 persen dari total responden juga mengaku pernah bertengkar dengan pasangannya karena bermain ponsel saat makan.

Tak bisa kita pungkiri, ponsel telah memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan untuk mengusir kebosanan, stres dan kecemasan. Juga menjadi sarana komunikasi yang sangat baik menghubungan setiap orang.

Namun, penting untuk menyadari dampak negatif terlalu sering berhadapan dengan layar gadget atau laptop.

Baca juga
LRT yang Tabrakan di Cibubur Diduga Berkecepatan di Atas Rata-rata

Penelitian baru telah menunjukkan tubuh kita membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih dari kebanyakan waktu kita di depan layar. Dampaknya bisa kepada penurunan fungsi penglihatan hingga masalah postur tubuh.

Dampak terhadap kulit

Direktur Klinis Grup di DestinationSkin Dr Toni Phillips, mengutip Metro.co.uk, menyebut cahaya biru yang dipancarkan dari ponsel pintar, komputer, dan layar TV dengan paparan yang berlebihan dapat menyebabkan kerutan dan pigmentasi dini.

“Anda dapat membantu mengurangi ini dengan pelembab dan SPF dan juga menghilangkan cahaya biru dari layar. Kita juga lupa betapa kotornya ponsel, kita membawanya ke mana-mana. Ini juga bisa menjadikan ponsel sebagai hotspot kuman,” katanya.

Dr Toni menambahkan, ponsel juga sangat mungkin menyimpan bakteri, jadi bersihkan secara teratur untuk mencegah menumpuknya kotoran di kulit, karena ini dapat menyebabkan bintik-bintik dan pori-pori tersumbat.

Dampak terhadap postur tubuh

Yang memprihatinkan adalah kenyataan bahwa kebiasaan menelepon mengubah bentuk tubuh kita. Sebagian besar dari kita membungkuk di atas ponsel sehingga lebih dekat ke layar, yang berdampak pada postur tubuh.

Andrew Doody, seorang ahli osteopati di The Fleet Street Clinic mengatakan, duduk dengan posisi membungkuk di kursi yang nyaman, cenderung menekan dada.

Hal ini dapat mencegah gerakan penuh tulang rusuk saat bernapas dan menekan diafragma, yang menyebabkan pernapasan menjadi lebih dangkal dan sulit, yang pada gilirannya dapat menyebabkan kelelahan.

Andrew menjelaskan bahwa leher dan punggung atas nyeri dan dalam beberapa kasus menyebabkan punggung atas yang membulat – juga dikenal sebagai punggung bungkuk.

Baca juga
Tandon Air Proyek LRT Jebol, Polisi Usut Dugaan Kelalaian

“Postur ini juga umum saat membungkuk di atas keyboard. Hal ini sering dikaitkan dengan memiliki dada yang kencang dan punggung atas yang lemah.”

Dampak terhadap berat badan

Sungguh sederhana, semakin banyak waktu kita duduk dengan ponsel, semakin sedikit waktu untuk bergerak. Jadi lebih banyak waktu di hadapan layar berarti peningkatan peluang untuk menambah berat badan.

Dokter Giuseppe Aragona, penasehat medis di Prescription Doctor, mengatakan hanya dua-tiga jam waktu layar sehari dapat meningkatkan risiko penambahan berat badan, diabetes, dan penyakit jantung pada orang dewasa.

Ini karena ketika berhadapan dengan layar ponsel atau menggunakan telepon, kita mengadopsi gaya hidup yang tidak banyak bergerak yang dapat membuat kita menjadi tidak aktif dan malas.

Hal itu juga dapat mempengaruhi tidur dan menyebabkan kita makan lebih banyak yang selanjutnya meningkatkan kemungkinan bertambahnya berat badan.

Mempengaruhi waktu tidur

Dr Giuseppe menambahkan bahwa terlalu banyak waktu di depan layar, dengan smartphone dan komputer, kemungkinan besar akan meningkatkan masalah tidur.

“Ini karena cahaya biru yang dipancarkan dari perangkat digital menekan melatonin yang merupakan hormon peningkat tidur yang berarti hal itu membuat kita tidak bisa tidur nyenyak di malam hari,” kata Dr Giuseppe.

Kurang tidur ini dapat menyebabkan sejumlah besar masalah kesehatan di masa mendatang. Seperti tekanan darah tinggi, serangan jantung, gagal jantung dan stroke atau menyebabkan depresi, obesitas, dan kekebalan rendah.

Dampak terhadap otak

Dr Giuseppe menjelaskan, menggunakan ponsel terlalu sering dapat mendorong kecanduan dan kesenangan. Ini karena hormon perasaan senang dopamin dilepaskan saat kita merasakan kesenangan.

Baca juga
Xiaomi Investasi Rp1,2 Triliun di Vietnam

“Lama di depan layar ponsel memengaruhi korteks frontal otak, yang secara mengkhawatirkan mirip dengan efek mengonsumsi kokain. Seperti obat-obatan, memicu ketagihan dan semakin Anda sering membuka layar ponsel, semakin Anda menjadi kecanduan pada kepuasan instan dan perasaan senang.”

Efek jangka panjang dari hal ini bisa berupa kecanduan dan obsesi, mudah tersinggung dan masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.

Dampak terhadap mata

Selama pandemi, ada peningkatan ketegangan pada panca indera gara-gara teknologi, kata Dr Clare O’ Donnell, dokter mata dan kepala penelitian ilmu mata di Optegra.com.

Gejala bisa berupa mata berkedut atau lebih peka terhadap cahaya, mata kering dan juga sakit kepala. Ini semua menunjukkan mata lelah dan tegang.

“Cara yang baik untuk mengatasinya adalah dengan mengikuti aturan 20-20-20, yang mengacu pada melihat sesuatu setidaknya 20 kaki dari layar Anda selama 20 detik setiap 20 menit.”

Dia menambahkan ketegangan mata digital dapat berdampak signifikan pada kenyamanan visual dan bahkan produktivitas.

 

Tinggalkan Komentar