Minggu, 27 November 2022
03 Jumadil Awwal 1444

Pihak Ketiga Bukan Penyebab Utama Perselingkuhan

Sabtu, 18 Jun 2022 - 13:36 WIB
Perselingkuhan
Freepik

Ternyata, pihak ketiga bukan penyebab utama perselingkuhan. Setiap kali kasus perselingkuhan terjadi, akan ada pola yang terbentuk, yaitu mencari siapa orang ketiganya. Padahal menurut Indra Noveldy, konselor pernikahan, pendiri dari KonsultanPernikahan.com dan penulis buku Menikah untuk Bahagia hal tersebut tidak benar.

Dalam kebanyakan kasus, perselingkuhan hanyalah gejala dari masalah dalam pernikahan, bukan penyebab utama.

“Perselingkuhan bisa terjadi karena begitu banyak aspek dan sudah ada masalah di pernikahan itu sendiri. Pihak ketiga bukan penyebab utama perselingkuhan. Justru ketika kita menunjuk pelakor atau laki-laki lain, itu seperti melimpahkan kesalahan ke pihak ketiga dan suami-istri tidak akan introspeksi ke dalam,” papar Indra seperti mengutip dari hasil survei Teman Bumil, ditulis di Jakarta, Sabtu, (18/6/2022).

Baca juga
Pasca Transfer Embrio Ini yang Perlu Dilakukan

Pihak ketiga bisa masuk karena ada celah

Kalaupun ada satu oknum berniat ganggu, jika rumah tangga yang diganggu solid, pasti akan terpental.

“Jadi, kuncinya bukan mengusir pelakor atau menghindari pelakor, tapi benahi pernikahan, perkuat fondasi di dalam,” jelas Indra.

Memperkuat fondasi hubungan pernikahan memiliki banyak elemen, seperti memperbaiki cara berkomunikasi, menyamakan values, dan memiliki visi-misi yang sama.

Namun terlepas dari semua itu, satu yang ditegaskan Indra adalah memenuhi kebutuhan masing-masing.

Terdengar mudah, nyatanya kebutuhan yang tidak terpenuhi di dalam pernikahan sering terjadi dan tidak disadari.

“Perselingkuhan bisa terjadi di pernikahan yang terlihat harmonis. Catat, pernikahan yang beneran harmonis dan yang terlihat harmonis adalah dua hal yang bertolak belakang,” ujarnya.

Baca juga
Curhat ke Lawan Jenis, Memicu Selingkuh?

Berapa banyak pasangan suami-istri yang sadar bahwa kebutuhan pasangannya terpenuhi?

“Banyak yang enggak karena semua tampak baik-baik saja, pasangannya enggak komplain, dan lain-lain. Artinya, banyak orang yang tidak sadar bahwa pernikahannya bermasalah. Dan Itu adalah masalah besar,” ujar Indra.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Ternyata rutinitas menjadi alasannya.

Sejatinya, rutinitas bukanlah hal yang buruk, tetapi dapat menjadi musuh. Rutinitas cenderung menciptakan kebiasaan yang sulit dilewati.

Saat itulah akan muncul rasa monoton, ketidakbahagiaan, dan ketidakpuasan.

Baik suami atau istri mulai mempertanyakan siapa yang ia nikahi dan mengapa, maupun tidak menemukan kebahagiaan atau kepuasan di dalam pernikahannya.

Tinggalkan Komentar