Kamis, 02 Februari 2023
11 Rajab 1444

PM Inggris Undur Diri, Dolar AS Perkasa Tembus 150 Yen

Jumat, 21 Okt 2022 - 08:34 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
PM Inggris Undur Diri, Dolar AS Perkasa Tembus 150 Yen - inilah.com
(Foto: iStockphoto.com)

Dolar AS menguat melampaui level simbolis 150 yen untuk pertama kalinya sejak 1990 pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat (21/10/2022) pagi WIB. Sementara pound sterling berubah negatif dalam perdagangan fluktuatif.

Ini terjadi setelah Liz Truss menyatakan pengunduran dirinya sebagai perdana menteri Inggris.

Mata uang Jepang merosot tajam dari tertinggi interim 150,09 yang dicapai dalam perdagangan semalam, jatuh ke 149,63 dalam satu menit, yang meningkatkan spekulasi bahwa Kementerian Keuangan dan bank sentral Jepang (BoJ) mungkin membuat intervensi di level-level penting.

Namun, yen rebound untuk mencapai tertinggi baru 32 tahun dalam perdagangan sore di New York, mencapai setinggi 150,25. Terakhir diperdagangkan pada 150,18.

Sementara kemungkinan intervensi apa pun adalah pertanyaan terbuka, beberapa analis berpikir bahwa langkah seperti itu tidak akan menghentikan pelemahan mata uang lebih lanjut tanpa adanya perubahan dalam kebijakan ultra-dovish BoJ.

“Sampai Anda melihat BoJ mengubah nada mereka, atau jika kita mulai melihat prospek ekonomi AS memburuk jauh lebih cepat yang akan membantu The Fed akhirnya memberikan perubahan arah Fed, Anda akan melihat bahwa taruhan terhadap yen masih perdagangan favorit di pasar valas,” kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York.

Baca juga
Harga Emas Terpangkas 7,3 Dolar AS Lantaran Sentimen Ekonomi China

Federal Reserve diperkirakan akan terus menaikkan suku bunga karena inflasi tetap tinggi, dengan beberapa memperkirakan suku bunga acuan akan mencapai puncak di atas 5,0 persen. Suku bunga saat ini berada di kisaran 3,00 persen-3,25 persen.

Presiden Fed Philadelphia Patrick Harker mengatakan pada Kamis (20/10/2022) bahwa bank sentral belum selesai menaikkan target suku bunga jangka pendeknya di tengah tingkat inflasi yang sangat tinggi, sambil menambahkan kemungkinan bank sentral AS akan menemukan ruang tahun depan untuk menghentikan proses pengetatan dan mempertimbangkan bagaimana kenaikan suku bunga berdampak pada perekonomian.

Pasar perumahan telah menjadi salah satu sektor yang paling terpengaruh dari suku bunga yang lebih tinggi bahkan ketika sektor lain termasuk pekerjaan tetap solid. Data pada Kamis (20/10/2022) menunjukkan bahwa penjualan rumah AS yang ada (existing homes) turun untuk bulan kedelapan berturut-turut pada September.

Baca juga
Rupiah Jeblok, Pedagang Elektronik Melihat Masa Depan Semakin Gelap

Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi telah mengirim imbal hasil AS dan dolar lebih tinggi, terutama terhadap yen karena BoJ berkomitmen untuk mempertahankan suku bunga mendekati nol.

Pembuat kebijakan Jepang membuat ancaman intervensi baru pada Kamis (20/10/2022). Mereka terlihat lebih mungkin untuk intervensi jika pergerakan mata uang menjadi lebih tidak menentu.

“(Kementerian Keuangan) sudah sangat jelas bahwa mereka siap untuk intervensi jika ada tindakan harga yang tidak teratur, sehingga pasar memperkirakan hal itu pada suatu saat nanti,” kata Derek Halpenny, kepala riset pasar global Eropa di MUFG.

“Jelas, jika kita menembus dengan jelas di atas 150, kita mungkin melihat beberapa aksi harga yang tidak teratur dan itu bisa menjadi katalis untuk beberapa aksi,” tambahnya, meskipun menekankan akan diperlukan langkah tajam pada pasangan itu untuk memicu intervensi.

BoJ akan mengadakan pertemuan kebijakan berikutnya pada 27-28 Oktober.

Pound Inggris berbalik lebih rendah pada hari setelah Truss mengatakan dia akan mengundurkan diri sebagai perdana menteri. Dia dijatuhkan oleh pengumuman program ekonomi yang mengirimkan gelombang kejut melalui pasar dan memecah Partai Konservatif-nya hanya enam minggu setelah dia ditunjuk.

Baca juga
Dolar AS Menari di Atas Penderitaan Harga Emas

Pound menguat menjelang pengumuman pengunduran diri, dan kemudian mencapai tertinggi sesi, sebelum mengubah arah dan berbalik lebih rendah. Terakhir turun 0,05 persen di 1,1219 dolar.

“Awalnya, ini kemungkinan akan mengeluarkan premi ketidakpastian dari pasar, tetapi itu tergantung siapa yang mengambilalih, Anda membutuhkan tangan yang mantap di atas,” kata Viraj Patel, ahli strategi makro global di Vanda Research di London.

Indeks dolar turun 0,10 persen terhadap sekeranjang mata uang utama menjadi 112,86, yang menurut para analis kemungkinan karena konsolidasi. Euro naik 0,13 persen menjadi 0,9785 dolar.

Tinggalkan Komentar