Jumat, 27 Januari 2023
05 Rajab 1444

Polemik Minyak, Pangeran Saudi Ancam AS dengan Jihad dan Martir

Senin, 17 Okt 2022 - 09:38 WIB
Polemik Minyak, Pangeran Saudi Ancam AS dengan Jihad dan Martir - inilah.com
(Foto: tangkapan layar Twitter @kenklippenstein)

Menyusul panasnya hubungan AS dengan negara-negara eksportir minyak dan sekutunya yang tergabung dalam OPEC+, Pangeran Saud al-Shaalan, sepupu Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS) menyatakan ancaman. Ia menyerukan tak segan-segan untuk mengambil tindakan jihad dan martir bagi siapapun yang menentang kerajaan.

Ancaman tersebut menyusul kritik Partai Demokrat AS terhadap kenaikan harga minyak. “Siapa pun yang menantang keberadaan negara ini dan kerajaan ini, kita semua adalah proyek jihad dan kemartiran,” kata Pangeran Saud al-Shaalan sebagaimana diunggah akun Twitter @kenklippenstein dikutip Inilah.com, Senin (17/10/2022).

Sebelumnya, di tengah ancaman krisis energi global, OPEC+ justru mengumumkan pengurangan pasokan terbesarnya sejak 2020. Kelompok itu pun mengecam apa yang digambarkan oleh pemerintahan Presiden Joe Biden sebagai keputusan yang ‘berpandangan sempit’.

Baca juga
Buntung di Sisi Rusia, Ukraina Bikin Turki Untung

Namun, keputusan tersebut tampaknya akan berbuntut panjang dan mengancam hubungan AS dengan negara-negara OPEC+ lebih lanjut.

Bahkan, analis energi percaya hal itu bisa menjadi ‘pintu masuk’ bagi AS untuk mencpba mengendalikan pengaruh OPEC+. Adapun, Presiden AS Joe Biden telah mengisyaratkan Kongres akan segera berusaha untuk mengendalikan pengaruh kelompok itu.

OPEC dan sekutu non-OPEC, sebuah kelompok yang sering disebut sebagai OPEC+, telah sepakat untuk mengurangi produksi minyak sebesar 2 juta barel per hari mulai November. Langkah ini dirancang untuk memacu pemulihan harga minyak mentah, yang telah turun menjadi sekitar US$80 per barel setelah sempat mencapai US$120 per barel pada awal Juni.

Baca juga
Xi Jinping Carter Pesawat untuk Jemput Warga China di Ukraina

Kekecewaan AS terhadap sikap OPEC+ ini tidak datang secara tiba-tiba. Negeri Paman Sam telah berkali-kali meminta agar produksi minyak digenjot untuk mengatasi krisis energi dan menurunkan harganya di hilir.

Selain itu, Biden juga berkepentingan untuk menjaga harga bahan bakar jelang pemilihan paruh waktu pada bulan depan.

Dalam sebuah pernyataan, Gedung Putih mengatakan Biden kecewa dengan keputusan ‘picik’ OPEC+ untuk memangkas kuota produksi, sementara ekonomi global menghadapi dampak negatif lanjutan dari serangan Putin ke Ukraina.

Gedung Putih menambahkan bahwa Biden telah mengarahkan Departemen Energi untuk melepaskan 10 juta barel lagi dari cadangan minyak strategis bulan depan.

Baca juga
Ada Penembakan Lagi di AS, Lima Tewas Termasuk Polisi

“Mengingat tindakan hari ini, Administrasi Biden juga akan berkonsultasi dengan Kongres tentang alat dan otoritas tambahan untuk mengurangi kontrol OPEC atas harga energi,” kata Gedung Putih.

Tinggalkan Komentar