Politisi Senior Malaysia Akui Penanganan COVID Indonesia Jauh Lebih Baik

Covid19 Malaysia - inilah.com
COVID19 Malaysia

Politikus senior Malaysia, Lim Kit Siang, membandingkan penanganan COVID-19 di Indonesia yang dinilainya jauh lebih baik.

Politisi berusia 80 tahun itu mengklaim Indonesia lebih sukses dalam hal pemberantasan korupsi dan penanganan pandemi COVID-19.

“Kemarin adalah hari ketiga sejak 19 November saat angka kematian harian akibat COVID-19 di Indonesia jatuh ke angka satu digit. Apakah kita mau kalah dari Indonesia dalam perang melawan pandemi COVID-19 juga dalam pemberantasan korupsi?” pungkas Lim.tulis Lim di situsweb pribadinya.

Selain COVID, Malaysia juga menganggap pemberantasan korupsi di Indonesia lebih baik. Hal itu disampaikan menyusul rencana terpidana Najib Razak untuk kembali menjadi perdana menteri negeri Jiran itu.

Baca juga  Minta Izin Kepada Orangtua Sebelum Menikah, Ria Ricis Menangis

Kasus COVID-19 di Malaysia belum menunjukkan penurunan yang signifikan. Jika dalam 3 bulan terakhir kasus COVID-19 di Indonesia terus menurun maka tidak demikian halnya dengan Malaysia.

Bahkan virus varian baru COVID-19 ini membuat Malaysia mulai was-was. Pemerintah Malaysia memberlakukan larangan masuk bagi 7 negara Afrika karena takut bahaya varian baru COVID-19.

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Kesehatan Malaysia Khairy Jamaluddin. Khairy juga mengungkapkan, saat ini varian tersebut belum terdeteksi di Malaysia.

Pelancong-pelancong dari tujuh negara yaitu Afrika Selatan, Botswana, Eswatini, Lesotho, Mozambik, Namibia dan Zimbabwe, dilarang masuk ke Malaysia.

Pelarangan tersebut mulai diberlakukan hari ini, Minggu (27/11/2021). Warga Malaysia dan mereka yang memiliki izin kerja di negara-negara tersebut akan diizinkan untuk kembali. Tetapi mereka harus menjalani karantina selama 14 hari di pusat-pusat yang ditunjuk, terlepas dari status vaksinasi mereka.

Baca juga  Hati-Hati Konsumsi Gula Tersembunyi pada Makanan dan Minuman Kemasan

“Kementerian Kesehatan memandang kemunculan varian baru ini dengan serius dan kami akan meningkatkan pengawasan genomik, termasuk pada individu yang datang dari negara-negara yang telah melaporkan kasus varian baru ini,” ujar Khairy dikutip dari Free Malaysia Today.

“Pengawasan genomik berkelanjutan dilakukan oleh konsorsium yang terdiri dari Kementerian Kesehatan, Institut Penelitian Medis (IMR), Kementerian Sains, Teknologi dan Inovasi, serta Kementerian Pendidikan Tinggi,” tambahnya.

Varian baru COVID-19 atau Omricon, diketahui pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan, dan kini juga terdeteksi di Hong Kong dan Israel.

Beberapa ahli meyakini varian baru itu lebih mewabah, dan resisten terhadap imunitas.

Tinggalkan Komentar