Rabu, 10 Agustus 2022
12 Muharram 1444

Polri Rekrut 83 Santri Jadi Anggota Polisi Sepanjang 2021

Sabtu, 01 Jan 2022 - 02:15 WIB
santri polisi
(ist)

Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan saat ini Polri terus melakukan perekrutan terhadap bibit sumber daya manusia (SDM) unggul melalui jalur Rekrutmen Proaktif Polri, salah satunya menyaring lulusan pesantren atau santri sebagai anggota kepolisian.

“Kami berusaha merekrut bibit SDM melalui Rekrutmen Proaktif Polri sepanjang 2021 sebanyak 83 lulusan santri,” kata Jenderal Sigit dalam rilis akhir tahun 2021 di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (31/12/2021).

Kapolri menyebutkan, dari 83 santri itu, sebanyak 56 di antaranya calon-calon bintara yang memiliki kemampuan hafal Al-Quran. Selain itu, Polri juga merekrut 410 personel kepolisian dari suku pedalaman.

Baca juga
Prarekonstruksi di Rumah Dinas Irjen Ferdy Sambo Berlangsung Tertutup

“Kami juga merekrut 3.400 personel dari orang asli Papua untuk memperkuat kebutuhan Polri di Papua sehingga memudahkan komunikasi dalam memelihara keamanan ketertiban masyarakat jadi lebih baik,” ujar Jenderal Sigit.

Kapolri juga memaparkan terkait dengan kesetaraan gender di institusi Polri. Menurutnya, kesetaraan gender menjadi persoalan dihadapi sejumlah negara di dunia. Oleh karena itu, ia akan memberikan ruang dan kesempatan bagi jajarannya, baik laki-laki maupun perempuan, untuk memangku jabatan Inspektur Jenderal (Irjen).

“Kami juga akan beri ruang untuk jabatan setingkat inspektur jenderal polisi dan ini tentunya menjadi program kami untuk terus memberikan kesempatan dan ruang bagi kesetaraan gender,” ujar Jenderal Sigit.

Baca juga
Ada di TKP, Ferdy Sambo dan Brigjen Hendra Disebut Saksikan Kematian Brigadir J

Ia memandang perlu melakukan adaptasi untuk menciptakan kesetaraan gender di internal Polri.

Dalam rangka mewujudkan kesetaraan gender di lingkungan Polri, pihaknya akan meningkatkan kemampuan anggotanya.

Kapolri mengatakan bahwa tidak menutup kemungkinan polisi perempuan dan laki-laki akan bisa menangani penugasan khusus yang masuk kategori berisiko tinggi.

“Beberapa penugasan yang high risk yang tentunya ini juga memerlukan kesiapan dan kemampuan khusus dari anggota, dan ini akan kami tingkatkan ke depan,” kata Jenderal Sigit.

Tinggalkan Komentar