Selasa, 06 Desember 2022
12 Jumadil Awwal 1444

Populasi Dunia Tembus 8 Miliar, Bagaimana Daya Tampung Bumi?

Rabu, 16 Nov 2022 - 06:47 WIB
Populasi Dunia Bumi
(ilustrasi)

Bayi yang lahir pada Selasa (15/11/2022) menjadikan warga dunia menembus angka 8 miliar. Populasi dunia pun makin sesak. Bagaimana sebenarnya daya tampung Bumi dan apa saja tantangannya?

Populasi dunia, diperkirakan mencapai 8 miliar pada 15 November 2022, dan dapat tumbuh menjadi 8,5 miliar pada 2030, serta 10,4 miliar pada tahun 2100. Peningkatan jumlah penduduk ini juga terdorong laju kematian yang melambat, kata laporan yang dirilis pada Hari Populasi Dunia.

“Tonggak sejarah ini adalah kesempatan untuk merayakan keragaman dan kemajuan sambil mempertimbangkan tanggung jawab bersama umat manusia untuk planet ini,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam sebuah pernyataan, mengutip Reuters.

PBB mengaitkan pertumbuhan dengan pembangunan manusia, dengan orang-orang hidup lebih lama berkat peningkatan kesehatan masyarakat, nutrisi, kebersihan pribadi, dan obat-obatan. Peningkatan populasi juga merupakan hasil dari tingkat kesuburan yang lebih tinggi, terutama di negara-negara termiskin di dunia yang sebagian besar berada di Afrika sub-Sahara.

Populasi saat ini tiga kali lebih tinggi dari 2,5 miliar jumlah penduduk global pada tahun 1950. Namun, setelah mencapai puncaknya pada awal 1960-an, tingkat pertumbuhan populasi dunia sempat melambat secara dramatis, kata Rachel Snow dari Dana Kependudukan PBB, mengutip AFP.

Pertumbuhan tahunan ini sebenarnya telah turun dari 2,1 persen tertinggi antara tahun 1962 dan 1965 menjadi di bawah 1 persen pada tahun 2020. Angka ini berpotensi turun lebih jauh ke sekitar 0,5 persen pada tahun 2050 karena penurunan tingkat kesuburan yang terus berlanjut.

Namun, PBB memproyeksikan populasi terus tumbuh menjadi sekitar 8,5 miliar pada tahun 2030, kemudian bertambah menjadi 9,7 miliar pada tahun 2050, dan memuncak sekitar 10,4 miliar pada 2080-an.

Baca juga
Populasi Dunia Tembus 8 Miliar, PBB Peringatkan Ancaman Serius

Sementara kelompok lain telah menghitung angka yang berbeda. Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) yang berbasis di AS memperkirakan dalam studi tahun 2020 bahwa populasi global akan mencapai puncaknya pada tahun 2064, tanpa pernah mencapai 10 miliar, dan menurun menjadi 8,8 miliar pada tahun 2100.

Populasi Bumi terlalu banyak?

Nenek moyang kita adalah pemburu-pengumpul yang mempertahankan gaya hidup nomaden, memiliki sedikit anak dibandingkan dengan populasi yang menetap. Pengenalan pertanian di era Neolitik, sekitar 10.000 SM, membawa lompatan populasi besar.

Pada perkembangannya, teknologi pertanian bertambah dengan kemampuannya untuk melakukan budidaya tanaman dan teknik penyimpanan makanan, yang menyebabkan tingkat kelahiran melonjak. Dari sekitar enam juta pada 10.000 SM, populasi global melonjak menjadi 100 juta pada 2.000 SM dan kemudian menjadi 250 juta pada abad pertama Masehi, menurut French Institute for Demographic Studies.

Sejak abad ke-19, populasi mulai meledak, sebagian besar karena perkembangan obat-obatan modern dan industrialisasi pertanian, yang meningkatkan pasokan pangan global. Populasi dunia pun melonjak berlipat-lipat dari perkiraan satu miliar menjadi delapan miliar. Perkembangan ilmu kesehatan seperti pengembangan vaksin adalah kuncinya, dengan suntikan cacar khususnya membantu memusnahkan salah satu pembunuh terbesar dalam sejarah.

Kini dengan jumlah populasi melewati delapan miliar, beberapa orang khawatir jumlah tersebut terlalu banyak untuk Planet Bumi. Namun, sebagian besar ahli mengatakan masalah yang lebih besar adalah konsumsi sumber daya yang berlebihan oleh orang-orang kaya.

Baca juga
Efektif Lawan Varian Covid-19, Kimia Farma Gaet Sub-Lisensi Obat Molnupiravir

“Beberapa menyatakan keprihatinan bahwa dunia kita kelebihan penduduk,” kata Kepala Dana Kependudukan PBB Natalia Kanem. “Saya di sini untuk mengatakan dengan jelas bahwa banyaknya nyawa manusia bukanlah alasan untuk takut.”

Joel Cohen dari Laboratorium Populasi Universitas Rockefeller mengatakan kepada AFP pertanyaan tentang berapa banyak orang yang dapat didukung Bumi memiliki dua sisi yakni batas alam dan pilihan manusia. “Pilihan kita mengakibatkan manusia mengonsumsi jauh lebih banyak sumber daya hayati, seperti hutan dan tanah, daripada yang dapat diregenerasikan oleh planet ini setiap tahun,” katanya.

Konsumsi bahan bakar fosil yang berlebihan, misalnya, menyebabkan lebih banyak emisi karbon dioksida, yang bertanggung jawab atas pemanasan global. “Kami bodoh. Kami tidak memiliki pandangan jauh ke depan. Kami serakah. Kami tidak menggunakan informasi yang kami miliki. Di situlah pilihan dan masalahnya terletak,” kata Cohen.

Pertumbuhan populasi juga menjadi pengingat tanggung jawab bersama untuk merawat planet ini. Juga merefleksikan kita masih gagal memenuhi komitmen kita satu sama lain. Seperti kasus pandemi COVID-19 yang melanda dunia.

Mengacu pada laporan WHO sebelumnya, diperkirakan sekitar 14,9 juta kematian terkait pandemi COVID-19 antara Januari 2020 dan Desember 2021. Laporan PBB juga menyebutkan harapan hidup global saat lahir turun menjadi 71 tahun pada 2021 dari 72,8 tahun pada 2019, sebagian besar karena pandemi.

Tantangan besar

Abad ini dunia akan berhadapan langsung dengan hasil ledakan populasi terbesar dalam sejarah manusia. Pertumbuhan penduduk akan memperbesar dampak lingkungan dari pembangunan ekonomi.

Baca juga
Bank Sentral Ramai-ramai Kerek Suku Bunga, Resesi Global Makin Dalam

Bayangkan 2 miliar orang tambahan di planet ini dalam waktu 40 tahun, semuanya membutuhkan makanan, air, dan tempat berlindung, dengan perubahan iklim yang menekankan kebutuhan dasar manusia tersebut. Jumlah populasi yang bertambah besar juga menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia agar bisa ikut berperan memenuhi kebutuhan umat.

Tanpa mengambil tindakan sekarang, miliaran orang di seluruh dunia akan menghadapi kehausan, kelaparan, kondisi kumuh dan konflik sebagai tanggapan atas kekeringan, kekurangan pangan, kemelaratan kota, migrasi dan sumber daya alam yang semakin menipis.

Akan ada lebih banyak mulut untuk diberi makan dan perubahan selera untuk jenis makanan. Ini berarti harus melipatgandakan produksi pertanian dalam empat dekade. Sementara konsumsi air akan membutuhkan peningkatan 30 persen pada tahun 2030, dan 3 miliar tambahan orang akan mencari perlindungan seperti perumahan di perkotaan pada pertengahan abad ini.

Selain itu, kebutuhan akan energi untuk menopang pertumbuhan ekonomi di negara-negara pasca-industri, dan negara-negara industri baru, dengan permintaan berlipat ganda pada tahun 2050. Sementara kapasitas manusia berusaha untuk memenuhi permintaan tidak juga meningkat.

Intinya akan ada banyak tantangan yang signifikan bagi pemerintah dan masyarakat pada umumnya ke depan menghadapi makin sesaknya dunia. [ikh]

Tinggalkan Komentar