Minggu, 22 Mei 2022
21 Syawal 1443

PPATK Sebut Pencucian Uang di Indonesia Paling Banyak dari Narkoba dan Korupsi

PPATK Sebut Pencucian Uang di Indonesia Paling Banyak dari Narkoba dan Korupsi
Kepala PPATK, Ivan Yustiavandana/ Foto: Istimewa

Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan atau PPATK Ivan Yustiavandana mengungkapkan kasus pencucian uang di Indonesia paling banyak ditemukan dalam tindak pidana jenis korupsi dan tindak pidana narkotika.

“Tindak pidana korupsi dan narkotika itu adalah kedua hasil peta risiko National Risk Assesment (NRA) kami dan ini sudah diubah beberapa kali metodenya sampai tiga kali dan menunjukkan hasil yang sama,” ungkap Ivan di Jakarta, Kamis (14/4/2022).

Selain kedua tindak pidana tersebut, kasus pencucian uang juga PPATK temukan dalam tindak pidana kejahatan kehutanan, perpajakan, perbankan, pasar modal, dan lain-lain.

Untuk itu, dia menjelaskan seluruh tindak pidana tersebut menjadi tantangan PPATK yang diformulasikan berdasarkan NRA yang dibuat bersama dengan 18 instansi lainnya.

Baca juga
Banjir Hujatan, Jokowi Tetap Bangun Infrastruktur, Banyak yang Meleset

NRA pencucian uang sudah dilaksanakan sejak tahun 2015 dan semenjak itu kasus pencucian uang memang cenderung ditemukan dalam tindak pidana korupsi dan narkotika.

“Indonesia tidak sendiri, beberapa negara juga menemukan hasil yang sama terkait tindak pidana yang paling banyak ditemukan kasus pencucian uangnya,” tuturnya.

Dengan demikian Ivan menegaskan tindak pidana korupsi harus dieksplorasi lebih jauh agar menemukan kasus pencucian uang lainnya yang belum terungkap.

Pencucian uang adalah upaya untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul dan atau tujuan penggunaan harta kekayaan dari hasil tindak pidana, sehingga harta kekayaan tersebut seolah-olah berasal dari aktivitas yang sah.

Baca juga
Dolar AS Loyo dan Optimisme Ukraina Pudar, Harga Emas pun Tergerus

Tujuan dari pencucian uang adalah menyembunyikan uang atau harta kekayaan yang diperoleh dari hasil kejahatan, menghindari tuntutan hukum, serta meningkatkan keuntungan secara tidak sah.

Tinggalkan Komentar