PPD dan Mayasari Bakti Operator Transjakarta yang Sering Kecelakaan

PPD dan Mayasari Bakti jadi Operator Transjakarta yang Sering Kecelakaan

Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) menyebut PPD dan Mayasari Bakti operator transjakarta yang sering kecelakaan.

Berdasarkan data DTKJ menunjukkan sepanjang 2021 terdapat 508 kecelakaan yang terjadi pada transportasi di Jakarta. Sebanyak 66 persen kecelakaan Transjakarta berasal dari operator PPD dan Mayasari Bakti.

“PPD menyumbang kurang lebih 34 persen dan Mayasari Bakti 32 persen dari 508 kejadian,” kata Prayudi di Jakarta, Rabu (29/12/2021). Desember 2021.

Operator lainnya juga menyumbang angka kecelakaan bus Transjakarta. Mereka adalah Stady Safe sebanyak 16 persen, Kopaja 13 persen, Trans Swadaya 3 persen, dan Pahala Kencana 1 persen.

Baca juga  Rusia Berpotensi Segera Serbu Ukraina, Warga AS Didesak Segera Keluar dari Negara Itu

PPD dan Mayasari Bakti akan Dievaluasi

DTKJ sedang mengevaluasi operator kedua operator tersebut karena paling banyak menyumbang angka kecelakaan. Padahal kedua operator itu adalah operator bus dalam kota.

Sedangkan operator bus luar kota seperti Pahala Kencana justru paling sedikit angka kecelakaannya. “Sementara dua operator itu biasa di dalam kota (tetapi) menempati angka tertinggi,” kata Prayudi.

Data pengaduan yang masuk pada DTKJ Transjakarta memang paling banyak mendapat keluhan karena banyak terjadi kecelakaan.

Ini berbanding terbalik dengan moda transportasi lainnya seperti LRT, MRT Jakarta dan Kereta Commuter Line. TransJakarta tercatat menyumbang 50 persen dari total 756 pengaduan masyarakat yang masuk ke DTKJ sepanjang 2021.

Baca juga  Nusantara, Nama Ibu Kota Negara Baru

Selain itu, postur sopir yang tak sesuai spesifikasi dari bus juga menjadi penyebab maraknya kecelakaan bus Transjakarta. Sebab Transjakarta menggunakan bus yang berasal dari Eropa sehingga menyesuaikan postur orang Eropa.

“Postur tubuh jadi salah satu penyebab tabrakan pos polantas. Jadi ada area blank spot dan membuat pengemudi tidak melihat secara keseluruhan. Ini yang mengakibatkan pengemudi menabrak separator, motor,” Ketua Komisi Dewan Keselamatan Transportasi Jakarta (DTKJ) Prayudi.

Dia mengatakan, Transjakarta perlu memodifikasi kembali desain mobil yang sudah ada khususnya yang berasal dari Eropa. Modifikasi ini untuk menyesuaikan postur badan dari pengemudi atau sopir yang ada di Indonesia.

Baca juga  Hati-hati Lonjakan COVID-19 Saat Libur Nataru, Ayo Disiplin Prokes!

DTKJ mengaku sepanjang 2021 ini setidaknya ada 508 kecelakaan yang terjadi pada transportasi Transjakarta. Data ini karena Transjakarta adalah transportasi yang paling sering mengalami kecelakaan.

Tinggalkan Komentar