Kamis, 18 Agustus 2022
20 Muharram 1444

Premium dan Pertalite Dihapus Tahun Depan, Bisnis Surya Paloh Ambyar

Senin, 27 Des 2021 - 19:16 WIB
Premium dan Pertalite Dihapus Tahun Depan, Bisnis Surya Paloh Ambyar

Kalau tak ada aral, Tahun depan, premium dan pertalite dihapus dari pasaran. Ancaman serius bagi para trader minyak impor di Pertamina, Termasuk Surya Paloh yang disebut-sebut pengusaha pertalite.

Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (Irres), Marwan Batubara mengaku tidak pusing dengan rencana premium dan pertalite dihapus. Kebijakan ini tidak akan efektif memberantas praktik mafia minyak di Pertamina masih subur. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak pengusaha atau elit politik punya bisnis migas yang menjanjikan untuk besar.

“Ya termasuk soal pertalite ini. Selama ini Pertamina kan enggak mau transparan. Impor BBM-nya berapa, dari jenis premium, pertalite atau pertamax berapa. Jadi, siapa pegang minyak apa, sudah menjadi rahasia umum,” ungkap Marwan.

Baca juga
Inalum dan MIND ID Akan Resmi Pisah Tahun Ini

Terkait nama Surya Paloh yang disebut-sebut trader BBM ron 90 (pertalite), menurut Marwan tak lepas dari nama Sonangol yang bikin geger pada 2014-2015. Pada Oktober 2014, Surya Paloh menjembatani kerja sama bisnis antara Sonangol dengan Pertamina.

Selanjutnya pada Februari 2015, Sonangol yang merupakan kongsi bisnis lama Surya Paloh, menjadi importir minyak Angola untuk Pertamina. Yang melahirkan BBM jenis baru bernama Pertalite. “Tetapi sekarang saya enggak up date lagi. Ya, kalau kita diaudit saja semuanya. tetapi beginilah, sejak zaman Menteri ESDM Sudirman Said, Pak Jokowi memang tidak serius dalam memberantas mafia migas di Pertamina,” ungkapnya.

Baca juga
Garuda tak Bisa Diselamatkan, Dahlan Sanjung Pilihan Cerdas Menteri Erick Tunjuk Pelita Air

Ihwal penghapusan premium dan pertalite pada 2022 disampaikan Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas Kementerian ESDM, Soerjaningsih dalam Focus Group Discussion, Senin (20/12/2021).

Alasan pemerintah menghapus premium dan pertalite. kata Soerja, dalam rangka memperbaiki kondisi lingkungan dengan mendorong penggunaan BBM yang ramah lingkungan.

Di mana, BBM yang dinilai ramah lingkungan harus memiliki nilai oktan atau Research Octane Number (RON) di atas 91. Sementara premium memiliki RON 88, dan pertalite memiliki RON 90. “Kita memasuki masa transisi di mana premium (RON 88) akan digantikan dengan pertalite (RON 90), sebelum akhirnya kita akan menggunakan BBM yang ramah lingkungan,” ujar Soerja.

Tinggalkan Komentar