Minggu, 29 Januari 2023
07 Rajab 1444

Protes Pembatasan COVID-19 di China Bakal Runtuhkan Rezim?

Rabu, 30 Nov 2022 - 06:27 WIB
Protes China
Aksi unjuk rasa menentang pembatasan COVID-19 di China yang berubah menjadi gelombang pembangkangan sipil terbesar sejak berkuasanya Presiden Xi Jinping. (foto: Bloomberg)

Aksi protes menentang pembatasan COVID-19 di China berubah menjadi gelombang pembangkangan sipil terbesar sejak Presiden Xi Jinping memulai kekuasaannya satu dekade lalu. Protes ini berubah menjadi tuntutan mendasar perubahan politik, bahkan pengunduran diri Xi Jinping.

Pemicu protes adalah kebakaran pekan lalu di Urumqi, ibu kota wilayah Xinjiang, China barat laut, yang menurut pihak berwenang menewaskan 10 orang. Beberapa pengguna internet mengatakan tindakan penguncian COVID-19 menghambat upaya penyelamatan di gedung yang terbakar itu. Para pejabat sendiri telah membantahnya.

Gelombang kemarahan kemudian muncul dengan aksi unjuk rasa turun ke jalan-jalan kota di seluruh negeri pada Minggu (27/11/2022). Para demonstran mengatakan pembatasan COVID-19 harus disalahkan karena menghambat upaya penyelamatan.

Massa protes di di Shanghai dalam aksinya itu meneriakkan, “Cabut lockdown untuk Urumqi, cabut lockdown untuk Xinjiang, cabut lockdown untuk seluruh China!” Namun, kemudian sekelompok besar massa mulai berteriak, “Gulingkan Partai Komunis China, gulingkan Xi Jinping, bebaskan Urumqi!”

Para demonstran juga mengacungkan kertas putih kosong, melambangkan sistem sensor yang terlampau ketat di China. Mobil-mobil yang melintas membunyikan klakson, tanda dukungan bagi para demonstran.

Protes terbesar

Kepemimpinan negara itu menghadapi protes besar yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade. Kemarahan atas penguncian yang tak henti-hentinya memicu frustrasi yang mengakar pada sistem politik negara itu secara keseluruhan. Kemarahan meluas menjadi seruan untuk perubahan politik.

Aksi protes ini terjadi ketika jumlah kasus COVID-19 mencapai rekor tertinggi harian dan sebagian besar kota menghadapi penguncian baru. Per Minggu lalu, China melaporkan 40.052 kasus lokal baru COVID-19, di mana 3.748 di antaranya bergejala dan 36.304 tidak bergejala. Kondisi pandemi COVID-19 yang kembali mengkhawatirkan membuat pemerintah China terus memberlakukan kebijakan ‘Zero COVID’.

Baca juga
Pangdam Jaya: Kericuhan saat Demonstrasi di DPR Ulah Provokator

Keluhan tentang kontrol COVID-19 terutama tentang penerapannya yang tidak fleksibel menjadi topik yang diangkat dalam aksi tersebut. Masalah yang disorot oleh publik tidak ditujukan pada pencegahan dan pengendalian epidemi itu sendiri, tetapi fokus pada penyederhanaan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian.

Namun, lockdown telah memperburuk pelambatan paling tajam dalam pertumbuhan yang dialami China dalam beberapa dekade, juga mengganggu rantai pasokan global dan pasar keuangan yang bergolak. Ini yang menurut warga mengganggu kehidupan perekonomiam mereka.

“Kebijakan (nol-COVID) sekarang? Mereka terlalu ketat. Mereka membunuh lebih banyak orang daripada COVID,” kata seorang pejalan kaki berusia 17 tahun yang tidak mau disebutkan namanya.

Sepanjang Senin (28/11/2022), wartawan AFP melihat petugas menahan empat orang, kemudian membebaskan satu orang, dengan seorang reporter menghitung 12 mobil polisi dalam jarak 100 meter di sepanjang jalan Wulumuqi di Shanghai, titik fokus unjuk rasa hari Minggu.

Di Hong Kong yang semi-otonom, tempat protes demokrasi massal meletus pada 2019, puluhan orang berkumpul di Universitas China untuk meratapi para korban kebakaran Urumqi. “Jangan berpaling. Jangan lupa,” teriak pengunjuk rasa.

Di Hangzhou, lebih dari 170 kilometer barat daya Shanghai, terjadi pengamanan ketat dan protes sporadis di pusat kota, dengan seorang peserta mengatakan kepada AFP bahwa 10 orang ditahan. “Suasananya kacau. Orangnya sedikit dan kami terpisah. Polisinya banyak, ricuh,” katanya.

Baca juga
Tinggalkan China, Jokowi Lanjut Kunker ke Jepang

Tersebar lewat medsos

Para penentang ini menggunakan aplikasi kencan dan platform media sosial yang diblokir di daratan untuk menghindari sensor, menyebarkan berita tentang pembangkangan dan strateginya. Mereka seperti kucing-kucingan dengan para petugas.

Video, gambar, dan akun oposisi terhadap pembatasan COVID-19 China yang keras telah mengalir ke dunia maya yang disensor dengan ketat sejak protes akhir pekan. Para aktivis menyimpannya ke platform di luar negeri sebelum sensor menghapusnya, kata pengguna media sosial.

Para pemimpin China yang berkomitmen untuk nol-COVID, juga memaksa pemerintah daerah memberlakukan penguncian cepat dan perintah karantina, serta membatasi kebebasan bergerak sebagai tanggapan atas wabah kecil. Namun, ada tanda-tanda bahwa beberapa otoritas lokal mengambil langkah-langkah untuk melonggarkan beberapa peraturan dan meredam kerusuhan.

Pihak berwenang memperingatkan bahwa ‘pasukan asing’ membahayakan keamanan nasional dan menuduh mereka juga telah mengobarkan protes demokrasi 2019 di Hong Kong. Para pejabat mengatakan kebijakan COVID-19 telah mempertahankan ribuan kematian, menghindari jutaan kematian di tempat lain.

Banyak analis mengatakan pelonggaran kebijakan sebelum meningkatkan tingkat vaksinasi dapat menyebabkan penyakit dan kematian yang meluas, membuat rumah sakit kewalahan.

Mengingat makin besarnya gelombang protes bahkan mulai bergeser ke desakan perubahan kepemimpinan nasional membuat pihak berwenang China mulai menyelidiki beberapa orang yang berkumpul pada protes akhir pekan menentang pembatasan COVID-19 itu.

Dua pengunjuk rasa mengatakan kepada Reuters bahwa penelepon yang mengidentifikasi diri mereka sebagai petugas polisi Beijing meminta mereka untuk melapor ke kantor polisi pada Selasa (29/11/2022) dengan laporan tertulis tentang aktivitas mereka pada Minggu malam.

Baca juga
KPA Ingatkan Presiden Jalankan Reforma Agraria Sejati untuk Petani

Seorang mahasiswa juga mengatakan bahwa mereka ditanyai oleh perguruan tinggi mereka apakah mereka pernah berada di daerah di mana protes terjadi dan untuk memberikan penjelasan tertulis.

“Kami semua mati-matian menghapus riwayat obrolan kami,” kata orang yang menyaksikan protes Beijing dan menolak untuk disebutkan namanya. Orang tersebut mengatakan polisi bertanya bagaimana mereka mendengar tentang protes dan apa motif mereka pergi ke tempat unjuk rasa.

Tidak jelas bagaimana pihak berwenang mengidentifikasi orang-orang yang ingin mereka pertanyakan tentang partisipasi mereka dalam protes, dan juga tidak jelas berapa banyak orang yang ditanyai oleh pihak berwenang.

Lalu apakah protes ini bakal terus berlanjut dan tujuan meruntuhkan rezim bakal terwujud? Meskipun protes rakyat seperti ini sudah terjadi beberapa kali sepanjang tahun ini, China sepertinya tidak akan menjadi kacau atau lepas kendali.

Simbol kertas putih kosong dalam aksi protes itu tidak akan cukup kuat menggoyang kedigjayaan partai komunis dan para penguasanya. Pemerintahan Xi Jinping masih sangat kuat di dalam negeri setelah kembali terpilih sebagai Sekjen Partai Komunis China.

Sementara di luar negeri, ia masih sangat dibutuhkan oleh para negara sekutunya dalam menghadapi konflik dengan blok Barat.

Tinggalkan Komentar