Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bengkak Rp27 Triliun, Staf Khusus Menteri BUMN Anggap Wajar

Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bengkak Rp27 Triliun, Staf Khusus Menteri BUMN Anggap Wajar - inilah.com

Terkait bengkaknya biaya proyek kereta cepat Jakarta-Bandung hingga Rp27 triliun, Kementerian BUMN menilai wajar. Dampak dari pandemi COVID-19.

Dikatakan Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga, pembengkakan biaya proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, adalah hal wajar.  Pandemi COVID-19 menghambat proyek yang melahirkan penambahan cost.

“Jadi, kemarin masalah corona ini membuat semuanya jadi terhambat. Jangan diplintir ini ada hal-hal lain dan sebagainya gitu ya,” ungkap Arya.

“Dan pembengkakan-pembengkakan itu adalah hal yang wajar, namanya juga pembangunan awal dan memang itu membuat beberapa hal agak terhambat,” imbuh dia.

Arya menilai, dalam pelaksanaan dan progres, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung sudah sangat bagus. Lantaran, angkanya hampir 80 persen. Dengan capaian itu, pemerintah ingin pembangunan ini, terus berlanjut dan jangan sampai tertunda.

Baca juga  Erick Thohir: Bill Gates Berminat Kerja Sama dengan Biofarma untuk Kembangkan Vaksin mRNA

Karena itu, kata dia, pemerintah memutuskan adanya pembiayaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung dari APBN.

“Di mana-mana kemunduran-kemunduran yang sebelumnya itu akan menaikkan cost, itu sudah pasti. Jadi inilah langkah yang harus diambil supaya pembangunan yang 80 persen dan sangat bagus ini, itu bisa tetap terlaksana,” tegas Arya.

Dia membantah persepsi bahwa proyek kereta cepat Jakarta-Bandung tanpa adanya perencanaan yang matang. Terjadinya pembengkakan biaya Kereta Cepat Jakarta-Bandung, ya itu tadi, karena Corona.

“Kenapa sampai anggarannya bertambah, di mana-mana ketika membuat kereta cepat atau juga yang seperti ini, kayak jalan tol dan sebagainya, di tengah perjalanan, apalagi yang panjang gitu ya, pasti ada perubahan-perubahan desain,” ungkapnya.

Baca juga  Utang Pemerintahan Jokowi Mendekati Rp7.000 Triliun, Betul Prediksi Prof Didik Rachbini

Perubahan itu, kata dia, terjadi karena kondisi geologis dan geografis yang berbeda dan berubah dari perkiraan.

“Jangan bilang perencanaanya wah sebelumnya bagaimana hitung-hitungannya. Hampir semua negara mengalami hal yang sama, apalagi untuk yang pertama kali,” ucapnya.

“Jadi pasti ada perubahan-perubahan. Perubahan-perubahan desain pasti ada dan itu membuat pembengkakan biaya. Termasuk kenaikan harga lahan berdampak juga kepada biaya,” lanjut Arya Sinulingga.

Tinggalkan Komentar