Psikologi Kejiwaan Dibalik Guncangan Emosi Risma

Psikologi Kejiwaan Dibalik Guncangan Emosi Risma - inilah.com
(ist)

Aksi marah-marah yang dilakukan Menteri Sosial Tri Rismaharini di berbagai kesempatan, kerap disorot oleh berbagai kalangan dengan beragam tanggapan.

Sikap Risma kembali murka terjadi lagi saat rapat bersama pejabat Provinsi Gorontalo terkait distribusi bantuan sosial (bansos).

Dalam video berdurasi 1 menit 15 detik yang viral Risma terlihat mengacungkan pena pada seorang pendamping bansos Program Keluarga Harapan (PKH) di wilayah Gorontalo. Diduga, Risma tak terima pihaknya disebut mencoret data penerima bansos sehingga bantuan tak tepat sasaran.

“Jadi bukan kita coret ya! Tak tembak kamu ya, tak tembak kamu!” ujar Risma dalam video yang diunggah akun Twitter @numadayana.

Baca juga  Penyaluran Bantuan Sosial Tunai Dihentikan

Hal ini turut direspon oleh Gubernur Gorontalo Rusli Habibie yang mengaku tersinggung dengan sikap Menteri Sosial Tri Rismaharini yang marah-marah kepada warganya.

“Saya saat melihat video itu sangat prihatin. Saya tidak memprediksi seorang ibu menteri, sosial lagi, memperlakukan seperti itu. Contoh yang tidak baik,” ucap Rusli dikutip dari laman resmi Pemprov Gorontalo.

Seperti sudah menjadi gaya kepemimpinannya saat menjabat di Surabaya dua periode, Tri Risma begitu lekat dengan gaya kepemimpinan yang “meledak-ledak”. Ia  sangat kesal dan mudah marah jika menemukan ketidakberesan.

Emosinya begitu memuncak dan jengkel jika menemukan adanya penyimpangan yang dilakukan anak buahnya.

Baca juga  Marah-Marah Terus, Mensos Risma Harus Dievaluasi

Psikolog Astrid Wen kepada Inilah.com mengatakan, rasa amarah atau emosional yang dikeluarkan pejabat publik dengan sikap pemarah, merupakan sifat bawaannya yang mungkin selalu ingin tampil frontal. 

“Marahnya tuh harus kita lihat, jika konsisten mungkin memang sudah karakter pembawaanya,” tutur Astrid saat dihubungi lewat sambungan telfon, Sabtu (02/09). 

Ia menambahkan, rasa amarah normal terjadi saat emotional brain (otak emosional) seseorang terpicu dan seseorang tidak memiliki kontrol diri, bisa saja jadi kalap.

“Tapi tetap yang harus kita lihat marahnya atas dasar apa, apakah ini hanya satu model atau ada model pengeskpresian lain,” ucapnya. 

Yang Perlu Dilakukan

Baca juga  Muhammadiyah: Tonjolkan Solusi Bukan Kontroversi

Untuk mendinginkan sikap amarah tersebut, Astrid mengatakan, ada tiga cara yang dapat dilakukan oleh seorang pejabat publik. Teori itu  adalah I am; I have dan I can.

I am, Astrid mengatakan, keadaan di mana seseorang mengetahui tentang dirinya sendiri dari kelebihan, kekurangan, hal negatif dan positif sehingga bisa lebih menenangkan diri dan punya waktu berisitirahat.

I have artinya, seseorang mengetahui bahwa dirinya memiliki iman, keluarga, teman-teman dan sumber daya lainnya.

Untuk I can, Astrid mengatakan, Bercanda atau tertawa bersama teman dan keluarga. “Dia bisa juga dengan bentuk pergi berjalan-jalan sendiri hingga olahraga. Olahraga bisa jadi cara cukup ampuh untuk meredakan amarah,” tuturnya.

Tinggalkan Komentar