Purbaya Bantah Rupiah Tersungkur ke Rp17.400 Gara-gara APBN Goyah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan keterangan dalam konferensi pers APBN Kita di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (5/5/2026). (Foto: Inilah.com/Clara Anna).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah pelemahan rupiah disebabkan oleh lemahnya fundamental fiskal.
Menurutnya, jika disebabkan oleh fiskal maka seharusnya berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) justru mencatat pertumbuhan ekonomi RI kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen. Adapun hari ini nilai rupiah mencapai Rp17.400 per dolar AS.
"Berikutnya orang juga banyak bilang, Indonesia fiskalnya goyah, maka rupiahnya lemah dan lain-lain. Kalau rupiah nanti nanya Bank Indonesia, jangan tanya saya. Mereka yang berhak menjawab," ujar Purbaya saat konferensi pers APBN Kita, di Kementrian Keuangan, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Dalam realisasi APBN per April 2026, angka defisit mencatatkan 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau setara Rp240,1 triliun pada kuartal I-2026.
Meski mencetak rapor merah, Purbaya menilai kondisi ini masih dalam batas kendali dan mencerminkan strategi percepatan belanja pemerintah di awal tahun. Disisi lain, dari segi ketahanan di sektor energi, Indonesia menjadi negara kedua terkuat dibanding negara lain.
"Tapi kalau kita lihat dari ketahanan energi, kita itu amat kuat. Kalau ada krisis global, kita nomor dua paling kuat dibanding negara-negara lain, bahkan data Amerika, data Cina, data Australia, dan lain-lain, ini data JP Morgan," tutur dia.
Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) memastikan pelemahan nilai tukar rupiah yang kini menembus level Rp17.400 per dolar AS masih terkendali. Otoritas moneter menegaskan bahwa depresiasi mata uang Garuda saat ini masih sejalan dengan tren pelemahan mayoritas mata uang negara berkembang (emerging market) akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, Erwin Gunawan Hutapea, memaparkan bahwa rupiah tidak sendirian dalam menghadapi tekanan dolar AS. Secara persentase, pelemahan rupiah bahkan masih lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang negara tetangga.
"Philippine peso melemah sebesar 6,58 persen, Thailand baht 5,04 persen, dan India rupee 4,32 persen. Indonesia rupiah sendiri melemah 3,65 persen," ujar Erwin dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.