Minggu, 27 November 2022
03 Jumadil Awwal 1444

Putri Candrawathi Dicurigai Lakukan Malingering, Apa Maksudnya?

Selasa, 06 Sep 2022 - 21:45 WIB
Putri Malingering
(foto: Inilah.com/Agus Priatna)

Sikap istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi yang bersikeras mengalami pelecehan seksual serta mengaku mengalami sakit fisik dan mental menarik banyak perhatian publik. Psikolog forensik menganggap apa yang dilakukan Putri Candrawathi diduga sebagai tindakan malingering. Apa itu malingering?

Putri Candrawathi bersama suaminya beserta beberapa ajudan dan asisten rumah tangganya sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan berencana Brigadir Yosua Hutabarat (Brigadir J) di rumah dinas Kadiv Propam Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan, pada 8 Juli 2022 yang lalu. Ahli psikologi forensik, Reza Indragiri mencurigai sikap istri Ferdy Sambo tengah bersiasat dalam kasus pembunuhan Yosua.

“Ada orang yang mengklaim dirinya korban menderita sedemikian rupa pasti butuh pertolongan, tapi ketika didatangi oleh lembaga perlindungan justru tidak kooperatif, kan mencurigakan. Jadi ini sakit atau pura-pura sakit, ini sakit atau malingering?¨ katanya dalam sebuah tayangan di TvOne.

Ia mengungkapan, entah trauma, depresi, stres akut atau kondisi serba negatif yang konon dialami Putri Candrawathi, tapi biasanya orang yang mengalami penderitaan psikis sedemikian rupa dipastikan akan mengisolasi diri. Dia tidak mau kontak dengan siapapun.

“Tapi lagi-lagi kemunculan dia di Mako Brimob kita mau katakan apa? Bukannya mengisolasi diri malah mengekspos diri ke depan kamera lalu bercerita tentang apa yang dialami dan memperkenalkan dirinya,” ungkap Reza.

Reza menduga bahwa praktik atau siasat malingering alias berpura-pura sakit bisa berasal dari dorongan dari inisiatif profesional di sekitarnya. “Penting untuk jadi catatan tentang kemungkinan malingering atau perekayasaan berencana, baik terhadap kondisi fisik maupun psikis yang membuat orang sehat menjadi terkesan sebagai orang sakit,” katanya.

Baca juga
Berkukuh Putri Candrawathi Dilecehkan di Magelang, Pengacara Putar Video

Apa itu Malingering?

Malingering bukanlah gangguan kejiwaan. Ini juga sangat berbeda dengan kondisi kesehatan mental seperti gangguan gejala somatik yang menyebabkan orang khawatir bahwa mereka memiliki kondisi medis meskipun sebenarnya tidak.

Mengutip Psychologytoday, malingering adalah tindakan yang disengaja terdorong oleh berbagai kemungkinan motivasi. Dalam banyak kasus, pasien berpura-pura mencari keuntungan, seperti cuti dari pekerjaan atau keuntungan finansial.

Jika pura-pura seseorang berhasil dan mereka menerima diagnosis dan manfaat nyata sesuai keinginannya, mereka mungkin mengklaim bahwa gejalanya telah mereda. Pasien tersebut juga biasanya menolak untuk berpartisipasi dalam uji klinis atau studi diagnostik.

Artinya, malingering merupakan aksi berpura-pura sakit untuk mendapatkan manfaat. Penyakit pura-pura ini bisa berupa penyakit mental atau fisik. Mengutip WebMD, malingering juga terjadi ketika seseorang melebih-lebihkan gejala suatu penyakit untuk tujuan yang sama.

Malingering pertama kali digunakan untuk menggambarkan tentara yang mencoba menghindari dinas militer pada tahun 1900-an. Maknanya telah diperluas untuk mencakup mereka yang berpura-pura sakit karena alasan lain. Tetapi lebih mudah untuk mendefinisikan berpura-pura daripada mengidentifikasinya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sekitar 20 persen terdakwa kriminal mungkin membesar-besarkan atau memalsukan gejala kejiwaan untuk menghalangi penuntutan atau mengurangi hukuman. Dalam banyak kasus, gangguan psikiatri mungkin sebenarnya ada, tetapi terdakwa dapat menggunakan pengetahuan mereka tentang kondisi mereka sendiri untuk membesar-besarkan dan meyakinkan pemeriksa bahwa mereka memerlukan pertimbangan hukum khusus atau perlakuan khusus.

Dalam kasus lain, terdakwa mungkin berbohong tentang mengalami kondisi kejiwaan yang berpotensi membatasi kesalahan kriminal, seperti amnesia, psikosis, atau kepribadian ganda.

Baca juga
Mabes Polri Sebut Belum Ada Penggantian Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo

Gejala dan Penyebabnya

Mengutip Healthline, malingering tidak memiliki gejala khusus. Sebaliknya, biasanya dicurigai ketika seseorang tiba-tiba mulai mengalami gejala fisik atau psikologis saat terlibat dengan tindakan hukum perdata atau pidana. Bisa juga menghadapi kemungkinan tugas tempur militer, atau tidak bekerja sama dengan pemeriksaan atau rekomendasi dokter.

Ada pula yang menggambarkan gejala yang ia rasakan jauh lebih intens daripada apa yang terungkap dari pemeriksaan dokter. Biasanya para malingerers mengungkapkan beberapa alasan untuk aksi tipu-tipu mereka. Misalnya meminta obat-obatan seperti pereda nyeri.

Malingering seringkali tidak disebabkan oleh faktor fisik apa pun. Sebaliknya, itu adalah hasil dari keinginan seseorang untuk mendapatkan hadiah atau menghindari sesuatu. Konon, berpura-pura sering disertai dengan gangguan mood dan kepribadian yang nyata, seperti gangguan kepribadian antisosial atau gangguan depresi berat.

Tes Malingering

Malingering adalah diagnosis medis, tetapi bukan kondisi psikologis. Seringkali sulit untuk mendiagnosis karena dokter tidak ingin mengabaikan kondisi fisik atau psikologisnya.

Seorang dokter biasanya akan memulai dengan pemeriksaan fisik menyeluruh dan wawancara terbuka untuk mendapatkan gambaran tentang kesehatan fisik dan mental seseorang secara keseluruhan. Wawancara ini akan membahas gejala seseorang memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka.

Seorang dokter juga akan mencoba untuk mendapatkan garis waktu dari setiap peristiwa perilaku, emosional, atau sosial. Mereka mungkin melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memeriksa ketidakkonsistenan antara deskripsi seseorang tentang gejala mereka dan apa yang ditemukan dokter selama pemeriksaan.

Jika seorang dokter menyimpulkan bahwa seseorang mungkin berpura-pura, mereka mungkin menghubungi dokter lain, anggota keluarga, teman, atau rekan kerja untuk informasi lebih lanjut tentang kesehatan mereka.

Baca juga
Foto: Sidang Perdana Chuck Putranto Kasus Obstruction of Justice Brigadir J di PN Jaksel

Akan Dites Kebohongan

Pada kasus Putri Chandrawati ini, sebagai tindak lanjut penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri akan melakukan uji kebohongan (poligraf) terhadap para tersangka.

Direktur Dittipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi uji kebohongan dilakukan terhadap semua tersangka kasus pembunuhan berencana terhadap Yosua. Ia menyebutkan penyidik menjadwalkan uji kebohongan dari hari Senin (5/9/2022), Selasa (6/9/2022), dan Rabu (7/9/2022).

Uji kebohongan ini, kata Andi, dijadwalkan per hari untuk dua orang. Uji serupa berlaku untuk Putri Candrawathi dan Irjen Ferdy Sambo, serta tersangka lainnya. “Iya terjadwal per hari dua orang,” ucap Andi.

Menurut Andi, alasan penggunaan uji kebohongan kepada para tersangka untuk mengetahui apakah keterangan yang diberikan tersangka benar atau berbohong. “Untuk menguji tingkat kejujuran tersangka dalam memberikan keterangan,” ujar dia.

Selain itu, kata Andi, upaya ini menjadi bukti petunjuk bagi penyidik dalam mengungkap peristiwa pembunuhan Brigadir J dan melengkapi berkas perkara agar segera dinyatakan lengkap dan bisa dibuktikan di persidangan.

Publik masih menunggu proses pemeriksaan dan berharap kasus ini terungkap secara transparan dan jujur. Termasuk apa yang sebenarnya terjadi dan dialami oleh Putri Chandrawathi. Publik masih percaya kebenaran akan datang.

Tinggalkan Komentar