Minggu, 05 Februari 2023
14 Rajab 1444

Rakyat Bukan Objek Pemilu, Harus Terlibat Dalam Pencegahan dan Pengawasan

Sabtu, 26 Nov 2022 - 21:19 WIB
Img 20220517 195156 - inilah.com
KPU telah menetapkan dan mengundi nomor urut 17 parpol peserta Pemilu 2024 pada Rabu (14/12/2022). Parpol sempalan dipastikan mengikuti pemilu. (Ilustrasi: Antara)

Selama ini rakyat kerap dijadikan objek pemilu yang hanya dieksploitasi suaranya. Sering kali tak diberikan kesempatan untuk terlibat dalam pencegahan dan pengawasan pemilu.

Komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Totok Hariyono menegaskan, stigma rakyat atau pemilih sebagai objek pemilu bisa diubah. Asalkan, semua pihak terkait mau mengedepankan nilai gotong royong dalam penyelenggaraan pemilu.

“Selama ini, kita melihat peserta pemilu dan pemilih seakan-akan jadi objek. Dalam konsep gotong royong, semuanya menjadi subjek. Bersama-sama, kita akan melakukan pengawasan, pencegahan dengan konsep gotong royong,” ujarnya, Sabtu (26/11/2022).

Melalui konsep itu, lanjutnya, Bawaslu akan melibatkan seluruh pihak, mulai dari penyelenggara, pemilih, peserta pemilu, hingga media massa, dalam mengawasi dan mencegah terjadinya beragam pelanggaran pada Pemilu 2024.

Baca juga
Ketum PAN Tolak Isu Pembubaran MUI

Misalnya, terkait dengan pencegahan terjadinya pelanggaran pada Pemilu 2024, Totok mengatakan bahwa setiap pihak berkewajiban saling mengingatkan agar politik uang tidak digunakan demi memenangkan suara rakyat.

“Kita bisa bilang, hei kawanku, saudaraku, jangan kau curi suara saudaraku karena yang kau curi adalah suara saudaramu sendiri. Ini yang akan kita bangun dalam proses gotong royong Pemilu 2024,” jelas dia.

Dia pun turut meminta peran media massa untuk bantu dalam kegiatan evaluasi penyelenggaraan pemilu. Menurutnya, media berperan sangat strategis dalam pemilu, terutama pada Pemilu 2024 mengingat banyaknya berita bohong yang tersebar di media sosial.

Baca juga
Ini Tanggapan Bawaslu, Soal Baliho Kampanye di Masa Jeda

Totok mengibaratkan media seperti lentera atau pihak yang memberikan pencerahan kepada masyarakat mengenai berita yang benar di antara banyaknya berita bohong yang beredar di media sosial.

“Peran wartawan menjadi sangat luar biasa, seperti (dimuat dalam) buku Matinya Sebuah Literasi, wartawan menjadi pencerah, lentera saat berita-berita hoaks berseliweran,” ucap Totok.

Dia menegaskan, pemilu dan media bagaikan ikan dan air yang tidak dapat dipisahkan dan berarti penyelenggaraan pemilu tidak dapat berjalan dengan baik tanpa keberadaan wartawan.

“Kalau enggak ada pemilu, enggak ada wartawan. Ya, bagaimana? Wong ikan kok enggak ada airnya. Ikan kok bisa hidup di air, ya, enggak mungkin. Keduanya bagian tak terpisahkan,” pungkasnya.

Tinggalkan Komentar