Sabtu, 21 Mei 2022
20 Syawal 1443

Rakyat Mulai Rasakan Beratnya Pajak, Rizal Ramli Tuding Sri Mulyani

Rakyat Mulai Rasakan Beratnya Pajak, Rizal Ramli Tuding Sri Mulyani
Ekonom senior Rizal Ramli

Ekonom senior Rizal Ramli kembali membuat pernyataan menohok untuk Menteri Keuangan Sri Mulyani yang mulai menerapkan kenaikan PPN 11 persen pada bulan ini.

Dikutip dari akun twitter pribadinya, yakni @RamliRizal, Rabu (13/4/2022), mantan Menko Kemaritiman di periode pertama Presiden Jokowi itu, menuliskan begini. “Ini dampak dari utang jor-joran. Yang bayar akhirnya rakyat juga. Menkeu miskin inovasi, bisanya hanya ngutang dan naikin pajak.”

Rupanya, pernyataan miring sang begawan ekonomi terhadap aturan pajak ala Sri Mulyani yang begitu memberatkan rakyat, merespons berita sebuah portal berita nasional. Yang berjudul: Barang Hasil Pertanian Tertentu Kena PPN 1,1%, mulai Ubi hingga Kemiri.

Baca juga
Usai MPR, Sri Mulyani Kali Ini Ditegur Gubernur Papua

Warganet langsung menyambut pernyataan Rizal Ramli. Misalnya, akun @ategeo menuliskan: Sekarang bangun rumah sendiri kena PPN 2,2%. Bahan bangunannys sudah kena pajak 11% ditambah lagi 2,2% kegiatan membangun sendiri (untuk luas bangunan di atas 200 meter-persegi). Semua dipajakin tanda-tanda negara akan bangkrut.

Sementara Sri Mulyani mengatakan, kodisi utang Indonesia masih aman. Rasio utang Indonesia cukup rendah di level ASEAN, ataupun G20.

“Mengenai kondisi utang di Indonesia kita tetap menjaga konsolidasi APBN untuk menjaga dari kesehatan APBN kita. Rasio utang kita termasuk yang relatif rendah baik diukur dari negara Asean, G20, atau bahkan seluruh dunia,” kata Sri Mulyani, (13/4//2022).

Baca juga
Mudahnya Lapor SPT Pakai E-Filling, Menko Airlangga: Terima Kasih Dirjen Pajak

Asal tahu saja, posisi utang pemerintah per Februari 2022, mencapai Rp7.014,58 triliun. Setara dengan 40,17 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Sri Mulyani menegaskan pemerintah akan tetap memperhatikan rasio utang tersebut. Ia tidak mau utang yang dialami Indonesia bernasib seperti yang dialami Sri Lanka.

Tinggalkan Komentar