Rabu, 30 November 2022
06 Jumadil Awwal 1444

Rama Teguh, Atlet yang Berdakwah di Atas Sepeda

Senin, 12 Sep 2022 - 19:48 WIB
Rama teguh inilah.com
Atlet Sepeda, Rama Teguh Adi Pratama

“Pondok pesantren menurut saya adalah Penjara Suci”, begitu kira-kira kata yang terucap dari atlet sepeda sekaligus hafiz Quran, Rama Teguh Adi Pratama di lokasi pembangunan pondok pesantren (ponpes) MIRA Intitute yang digagas oleh Ustaz Adi Hidayat (UAH).

Rama merasa beruntung ikut menjadi saksi lahirnya rumah pendidikan Islam yang akan menghadirkan calon-calon hafiz Alquran seperti dirinya.

Dulu, Rama juga merupakan seorang murid pesantren. Lebih spesialnya, UAH adalah kakak kelas Rama, lantaran keduanya sempat menimba ilmu di rumah yang sama yakni Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut, Jawa Barat.

“Arti pondok pesantren menurut saya adalah penjara suci, setiap orang mungkin bisa masuk tapi tidak bisa merasakan momen itu. Pondok pesantren juga adalah rumah kembali,” terang Rama saat berbincang dengan Inilah.com.

Baca juga
Dubes RI di Swiss Pastikan Saksikan Langsung Perjuangan Rama di Final Race EWS 2022

Pemuda kelahiran Garut, 11 November 1999 ini juga sempat merasakan sulitnya mengembangkan bakat bersepeda di tengah pendidikan pesantren yang digelutinya.

Lebih-lebih, minimnya fasilitas di tempat kelahirannya jadi satu batu sandungan, yang membuat hasrat Rama menjadi seorang atlet profesional terbatas.

“Saya sendiri, dulu memulai prestasi ketika berada di pondok pesantren, memang sedikit berbenturan dengan kondisi yang ada. Tapi tidak menghentikan saya untuk belajar (bersepada),” tegas Rama.

Rama menganggap prestasi di cabang olahraga bersepeda sebagai medan dakwah. Terkhusus dengan bidang olahraga yang digeluti, ia belajar bagaimana menerapkan konsep Hablum Minallah dan Hablum Minannas.

“Dakwah tidak selalu di atas mimbar, saya rasa akses ibadah itu banyak. Ibadah itu horizontal dan vertikal, Hablum Minallah, Hablum Minannas,” sebutnya.

Baca juga
Foto: Peresmian Pembangunan Pondok Pesantren Ma'had Islam Rafiah Akhyar Institute

Atlet sepeda berusia 22 tahun ini mengatakan, tak ada kata jenuh baginya sebagai seorang santri. Bahkan waktu 6 tahun tergolong singkat untuk belajar dan terus mengembangkan diri rumah pendidikan Islam yang ia banggakan.

“Saya sering terdengar dengan kalimat ‘puncak harapan rumah tujuan dan pondok pesantren adalah rumah saya’,” ucap Rama.

Kendati sudah menamatkan pendidikan sebagai santri, Rama menegaskan tak ingin ada cap bagi dirinya sebagai seorang mantan ataupun alumni. “Tanggung jawab selamanya di pundak ini terhadap seorang santri,” tegas Rama.

Tinggalkan Komentar