Selasa, 24 Mei 2022
23 Syawal 1443

Ramadan hingga Lebaran, BRIN: Harga Bahan Pokok Stabil

Ramadan hingga Lebaran, BRIN: Harga Bahan Pokok Stabil

Sepanjang Ramadan hingga Idul Fitri 1443 Hijriah, harga bahan pokok (bapok) relatif terkendali. Pemerintah dinilai berhasil mengendalikan harga pangan.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Syafuan Rozi Soebhan, menyebut tidak mudah bagi pemerintah di bebeberapa negara dengan mayoritas penduduk muslim seperti Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, Uni Emirat Arab untuk menahan lonjakan harga kebutuhan pokok.

“Karena terjadi pergeseran pola konsumsi yang cenderung meningkat ketika umat Muslim sedang berpuasa. Semakin banyak yang berpuasa, maka semakin banyak permintaan kebutuhan pokok dan kuliner, maka semakin tinggi harga komoditas tersebut,” ujarnya di Jakarta, Minggu (8/5/2022).

Ia menyebut, hukum ekonomi permintaan dan penawaran barang kebutuhan pokok dan kuliner relatif memiliki kemiripan di berbagai negara. Maka peran negara, lanjutnya, adalah mendorong peningkatan ketersediaan komoditas tersebut dari waktu ke waktu, karena cenderung memiliki pola berulang yang teratur.

Baca juga
Ingin Penjarakan Penimbun Migor dan Pedagang Serakah, Mendag Lutfi Banjir Dukungan

“Keberhasilannya sangat ditentukan oleh pola perilaku dalam berpuasa, faktor cuaca, faktor distribusi barang, dan kapasitas kementrian terkait dalam mengantisipasi pola konsumsi yang berkaitan dengan momen besar keagamaan di suatu negara,” jelasnya.

Di sisi lain, Syafuan memberi catatan khusus ketersediaan dan harga minyak goreng, daging, bahan bakar perlu mendapat perhatian khusus agar tidak berulang stagnan atau kian memburuk di tahun mendatang. Dinamika krisis dunia dinilainya harus diantisipasi.

“Kabar baiknya adalah walaupun dunia sedang dilanda pendemi menuju endemi, negara dan masyarakat Indonesia relatif mampu bertahan dan melakukan adaptasi terhadap fluktuasi perekonomian domestik di tengah pengaruh perang Rusia-Ukraina. Semoga badai cepat berlalu, di balik awan gelap pada waktunya akan bergeser dan alam semesta kembali seimbang,” tuturnya.

Anggota Komisi VI DPR, Mohamad Idris Laena mengatakan kondisi ekonomi masyarakat cukup baik saat memperingati Hari Raya Idul Fitri tahun ini. Terbukti, kata dia, warga yang mudik Lebaran di kampung halamannya mengalami lonjakan yang fantastis.

Baca juga
Mulai Februari, Harga Minyak Goreng Turun Lagi Jadi Rp11.500/Liter

Sehingga, berimplikasi pada tujuan wisata domestik. “Alhamdulillah, harga-harga kebutuhan Lebaran tidak mengalami lonjakan yang berarti dan relatif aman,” kata Idris Laena di kesempatan terpisah.

Soal stabilitas harga, Mendag Muhammad Lutfi, sebelumnya juga menegaskan, pihaknya berupaya keras menstabilkan harga bapok dan pasokannya.Harga bahan pokok, berdasar pantauan Kemendag, per 5 Mei 2022, mengalami penurunan tipis dibanding sehari sebelumnya.

Misalnya, harga daging sapi paha belakang yang turun 0,77 persen menjadi Rp142.600/kg; dan daging ayam ras turun 0,98 persen menjadi Rp40.400/kg.

Sedangkan cabai merah besar turun 4,24 persen menjadi Rp40.400/kg; cabai merah keriting turun 5,47 persen menjadi Rp46.700/kg. Sementara bawang merah juga turun 1,83 persen menjadi Rp37.500/kg; serta bawang putih honan turun 0,98 persen menjadi Rp30.400/kg.

Baca juga
Perang Rusia-Ukraina Berdampak Tak Langsung pada Perekonomian Indonesia

Sementara, Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Reynaldi Sarijowan mengingatkan, agar pemerintah segera mempersiapkan dan mengantisipasi ketersediaan pasokan bapok di pasar pasca Idul Fitri. Sekaligus fokus pada upaya distribusi secara merata di pasar.

Reynaldi sendiri begitu menanti upaya pemerintah, utamanya Kemendag terhadap proses pendistribusian pasokan bapok dan Kementan menyiapkan keberadaan produksi di lokal. Dirinya mewanti, kesalahan pada upaya ini bakal membuat lonjakan bahkan disparitas harga yang cukup tinggi pada komoditas pangan ke depan.

Reynaldi sendiri begitu menanti upaya pemerintah, utamanya Kemendag terhadap proses pendistribusian pasokan bapok dan Kementan menyiapkan keberadaan produksi di lokal. Dirinya mewanti, kesalahan pada upaya ini bakal membuat lonjakan bahkan disparitas harga yang cukup tinggi pada komoditas pangan ke depan. [ikh]

Tinggalkan Komentar