Kamis, 26 Mei 2022
25 Syawal 1443

Ramai Dikritik hingga Mau Dipolisikan, Menag Yaqut Pilih ke Acara Vaksin Merah Putih

Acara Vaksin Yaqut - inilah.com
Tangkapan layar - Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (kiri) saat menyerahkan sertifikat halal vaksin Merah Putih kepada Direktur Utama PT Biotis Pharmaceuticals FX Sudirman (kanan), Kamis (24/2/2022) (Foto Antara)

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau akrab disapa Gus Yaqut kembali mengeluarkan pernyatan kontroversial.

Kali ini, ia berbicara soal membandingkan suara azan dengan suara hewan. Pernyataan ini diucapkan Gus Yaqut saat saat diwawancara wartawan di Pekanbaru Riau,kemarin Rabu (24/02). Meski sempat dibela oleh kementerian Agama melalui Plt Karo Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi (HDI).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro HDI membantu memberikan klarifikasi terhadap pernyataan itu. Menurutnya Gus Yaqut sama sekali tidak membandingkan suara azan dengan suara gonggongan anjing. Ia menegaskan kabar Yaqut membandingkan dua hal yang berbeda tersebut sangat tidak tepat.

Baca juga
Soal Aturan Pengeras Suara, Kemenag: Musala dan Masjid Tetap Menjadi Syiar Agama yang Toleran

Meski begitu, pernyataan Gus Yaqut sudah telanjur menjadi polemik dan perdebatan di tengah masyarakat. Banyak pihak menyayangkan pernyataan itu.

Panen kritikan yang datang dari sejumlah perwakilan ormas hingga diancam dipolisikan oleh sejumlah tokoh. Sementara itu sang menteri memilih hadir ke acara menyerahkan sertifikat halal vaksin Merah Putih kepada PT Biotis Pharmaceuticals selaku produsen vaksin.

“Kita memiliki otonomi atas ketersediaan vaksin. Selama ini vaksin masih beli dan mendapat bantuan dari negara lain. Tapi kemandirian vaksin sangat penting,” ujar Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas saat penyerahan sertifikat vaksin Merah Putih kepada PT Biotis Pharmaceuticals yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis (24/02).

Baca juga
Naik Penyidikan, KPK Sebut Pengadaan Tanah SMKN 7 Tangsel Harganya Naik 100 Persen

Mantan Ketua GP Ansor tersebut mengatakan PT Biotis telah mengambil langkah berani karena masuk ke dalam industri vaksin COVID-19 di penghujung masa pandemi. Apalagi kini vaksin telah diproduksi secara massal oleh negara-negara pengembang dalam upaya mengakhiri pandemi COVID-19.

Akan tetapi, kata Yaqut, langkah ini diambil semata-mata karena kecintaan anak bangsa agar mandiri dari segi ketersediaan vaksin COVID-19.

“Harus mikir berkali-kali, jangan-jangan saat vaksin sudah sampai uji klinis terus pandemi berakhir, terus vaksinnya buat apa? Ini industri high risk, tapi ini diambil karena kecintaan anak bangsa,” kata dia.

Di sisi lain, vaksin Merah Putih ini akan membuat partisipasi masyarakat Indonesia, khususnya umat Muslim, semakin yakin untuk mendapatkan vaksin yang teruji kehalalannya.

Baca juga
Dapat Aset dari KPK, KPU Mau Buat Museum, Kemenag Bikin Madrasah

“Tapi selaku masyarakat Muslim kita diberikan vaksin halal. Kita menggunakan vaksin yang tak perlu ditanya-tanya halal atau haram. Melalui BPJPH prosesnya diaudit dari awal hingga akhir, bahwa vaksin ini benar-benar halal,” kata dia.

Tinggalkan Komentar