Senin, 30 Januari 2023
08 Rajab 1444

Razia Muslim dari Rumah ke Rumah Torehkan Trauma di Hati Muslim Austria

Kamis, 01 Des 2022 - 16:40 WIB
Penulis : DSY
Whatsapp Image 2022 12 01 At 15.09.25 - inilah.com
Pada November 2020, sekitar 70 rumah Muslim digerebek secara brutal oleh lebih dari 900 polisi dan pasukan khusus. Operasi itu sepenuhnya didasarkan atas kecurigaan semata. (AFP file foto)

Dengan kata lain, pekerjaan saya sebagai akademisi yang melakukan penelitian tentang Islamofobia atau rasisme anti-Muslim (oleh pemerintah Austria) ditafsirkan sebagai tindakan terorisme, yaitu, berusaha mendirikan negara Islam.

 

Oleh   : Farid Hafez*

Lebih dari dua tahun lalu, penggerebekan besar-besaran yang dilakukan polisi Austria, Operasi Luxor, masih membekaskan trauma dan sakit hati Muslim Austria. Operasi itu, seperti kata Karl Nehammer, menteri dalam negeri dan kanselir negara itu saat ini, memang bertujuan untuk “memotong akar politik Islam”.

Apa yang disebut “Islam politik” telah menjadi alat utama mantan Kanselir Sebastian Kurz yang konservatif untuk mengkriminalkan Islam dan masyarakat Muslim Austria. Masjid-masjid ditutup secara illegal, meski kemudian dibuka Kembali. Pelarangan jilbab kemudian dilembagakan, meski kemudian dicabut lagi. Semua didasarkan pada perjuangan melawan kata kunci “Islam politik”.

Penggerebekan pada November 2020 itu didahului dengan penyelidikan yang berlangsung setidaknya satu setengah tahun. Sekitar 70 rumah Muslim digerebek secara brutal oleh lebih dari 900 polisi dan pasukan khusus, berdasarkan kecurigaan negara bahwa para para Muslim yang dituduh adalah teroris dan musuh negara. Wajar bila kemudian para anggota keluarga dan anak-anak mengalami trauma.

Razia tersebut menyasar puluhan individu, asosiasi, bisnis, dan yayasan. Aset dan rekening bank senilai lebih dari 20 juta euro (20 juta dollar AS) atau sekitar Rp 310 miliar)  dibekukan, sementara penyadapan telepon telah merugikan otoritas Austria lebih dari setengah juta euro atau sekitar Rp 8,1 miliar pada kurs 16.200.

Baca juga
Ratusan Pesantren Disebut Terafiliasi Teroris, MUI Bandingkan dengan KKB di Papua

Tapi apa hasilnya? Nol penangkapan, tak ada hukuman. Pengadilan Austria memutuskan bahwa sembilan orang yang mengajukan banding terhadap penggerebekan itu benar. Penggerebekan itu secara sah telah melanggar hukum. Kasus-kasus terhadap lebih dari 25 terdakwa dibatalkan. Penyadapan telepon dianggap melanggar hukum. Saksi-saksi terhadap para terdakwa menarik pernyataan mereka, atau kalah dalam proses perdata. Dengan kata lain, seluruh operasi telah runtuh seperti rumah kartu.

Implikasi buruk

Namun, lebih dari 70 terdakwa terus menderita akibat implikasi penggerebekan itu. Sebagian besar rekening bank dan aset mereka hingga kini masih dibekukan. Bisnis mereka telah hancur, anak-anak mengalami trauma. Banyak orang kehilangan pekerjaan mereka.

Tidak heran bila liputan media dalam negeri pun kritis terhadap operasi tersebut, meskipun beberapa media pro-pemerintah tetap diam, setelah dengan tak punya malu meneruskan propaganda awal pemerintah pasca-penggerebekan.

Sementara, manakala anggota parlemen oposisi mempertanyakan ketidakkonsistenan dan kontradiksi Operasi Luxor, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kehakiman menolak merespons.

Baca juga
Catur Program dari Kemenag Diharap Cegah Ekstrimisme dan Terorisme

Pertanyaan paling mendasar hingga saat ini pun belum terjawab: apa yang sebenarnya memicu penyelidikan yang mengarah pada Operasi Luxor? Apakah dugaan “terorisme” yang merembet dari Mesir dan Israel, seperti dinyatakan dalam surat perintah penggeledahan? Apakah justru Operasi Luxor disebabkan begitu mudahnya pemerintah Austria terpengaruh dinas intelijen asing? Apakah karena ada politisi yang memerintahkan jaksa dan intelijen negara untuk menyelidiki orang-orang tertentu?

Ketika saya meminta diakhirinya penyelidikan terhadap saya, pengadilan daerah– yang pada awalnya mengizinkan penggerebekan–menyatakan bahwa “aktivitas saya dalam mempersiapkan apa yang disebut Laporan Islamofobia dan aktivitas [saya] dengan Bridge Initiative di Universitas Georgetown dimaksudkan untuk menyebarluaskan istilah ‘Islamophobia’ dengan tujuan mencegah datangnya kekritisan apapun terhadap Islam sebagai agama … “yang ingin mendirikan negara Islam”.

Satu bentuk hukuman

Dengan kata lain, pekerjaan saya sebagai akademisi yang melakukan penelitian tentang Islamofobia atau rasisme anti-Muslim ditafsirkan sebagai tindakan terorisme, yaitu, berusaha mendirikan negara Islam.

Keputusan ini, yang segera saya bantah dan masih menunggu jawaban Pengadilan Banding, mendukung kecurigaan saya bahwa penyelidikan terhadap saya sebagai ulama anti-rasis adalah semacam hukuman atas kritik saya yang terus-menerus terhadap kriminalisasi Islam dan diskriminasi terhadap Islam. (Ada diskriminasi) Muslim oleh pemerintah Austria di bawah kepemimpinan Kurz.

Baca juga
Ketum PAN Tolak Isu Pembubaran MUI

Kerusakan masyarakat dan hilangnya kehidupan sehari-hari selama bertahun-tahun itu tidak akan pernah bisa dibayar kembali

Operasi Luxor mengirimkan pesan kepada masyarakat sipil Muslim dan akademisi Muslim. Pesannya adalah kuatnya intimidasi, memperingatkan bahwa segala jenis agen politik Muslim independen, yang memprotes ketidakadilan di rumah dan di luar, akan menghasilkan tindakan keras–mulai dari generasi pertama imigran Mesir yang berdemonstrasi menentang rezim Sisi, hingga kritik publik terhadap pelanggaran hak asasi manusia dan kebebasan beragama, sebagaimana diwujudkan dalam pekerjaan saya.

Sistem peradilan independen secara konsisten menolak operasi ini. Namun, dua tahun setelah penggerebekan, tiga perempat dari terdakwa masih terjebak dalam kehampaan, menunggu penyelidikan tak berdasar akhirnya berhenti. [Middle East Eye]

*Farid Hafez adalah seorang ilmuwan politik, peneliti di The Bridge Initiative Universitas Georgetown, berbasis di Wina. Dia adalah editor “Islamophobia Studies Yearbook” dan co-editor “The European Islamophobia Report”.

Tinggalkan Komentar