Kamis, 07 Juli 2022
08 Dzul Hijjah 1443

Refleksi 76 Tahun RI, PKS: Pemimpin Kita Krisis Keteladanan

Selasa, 17 Agu 2021 - 17:20 WIB
Penulis : Ivan Setyadhi
Refleksi 76 Tahun RI, PKS: Pemimpin Kita Krisis Keteladanan - inilah.com

Dewan Pimpinan Tingkat Pusat (DPTP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menggelar upacara peringatan kemerdekaan ke-76 Republik Indonesia di halaman kantor DPP PKS, Jakarta, Selasa (17/8/2021). Acara diikuti seluruh jajaran pengurus pusat, wilayah, daerah, cabang dan ranting di Indonesia.

Ketua Majelis Syura PKS Salim Segaf sebagai inspektur upacara memberikan amanat dan pesan tentang krisis keteladanan yang saat ini melanda republik.

Salim menyebut wabah Covid19 yang memasuki tahun kedua membuat upaya dalam melunasi janji kemerdekaan menjadi semakin jauh dan berat.”Kita mengalami situasi penuh tekanan, yang membuat sebagian orang frustasi dan pesimis. Tentu ini berbahaya apabila telah menjalar dan menjadi gejala kolektif sebagai sebuah bangsa,” katanya.

Sejatinya, situasi yang seperti saat ini, atau mungkin jauh lebih buruk, telah dihadapi oleh para Pendiri Bangsa kita.”Sebagai sebuah bangsa, Indonesia hari ini sedang dihadapkan pada suasana yang mengarah krisis keteladanan. Para pemimpin yang seharusnya bisa dijadikan teladan, justru malah sibuk mengurus diri dan kelompok, serta membuat berbagai tindakan kontroversial dan kontraproduktif. Tentu jika terus terjadi, kondisi ini sangat tidak kondusif untuk mewujudkan cita-cita besar bangsa Indonesia,” jelas mantan Menteri Sosial RI tersebut.

Baca juga
PKS: UUD 1945 Tegaskan Jabatan Presiden Hanya 2 Periode

Indonesia membutuhkan hadirnya sikap keberpihakan yang jelas kepada rakyat serta konsistensi kata dan perbuatan. Jangan cederai kepercayaan rakyat dengan berbagai aksi kontroversial dan kontraproduktif yang tidak mencerminkan sense of crisis.”Disamping masalah inkonsistensi kebijakan, kita juga menyaksikan gejala diskriminasi hukum, perlakuan istimewa kepada para koruptor dengan memberikan keringanan hukuman, dan penyimpangan dalam pengelolaan sumberdaya alam,” ujar dia.

Salim mengingatkan jika bangsa ini membutuhkan kolaborasi, bukan segregasi apalagi polarisasi. Jangan sekali-kali membenturkan identitas sesama anak bangsa demi meraih kepentingan kekuasaan.”Atas nama Pancasila, ada unsur-unsur kekuasaan yang menstigma anak bangsa lainnya sebagai radikal dan anti NKRI. Tindakan-tindakan adu domba dan pemecah belah bangsa ini adalah tindakan yang jelas tidak Pancasilais dan tidak nasionalis,” ujar dia.

Tak lupa, Salim Segaf mengajak seluruh bangsa Indonesia mendoakan masyarakat Indonesia yang wafat akibat pandemi. Tercatat ada 117.588 warga yang wafat karena pandemi per 15 Agustus 2021.

Baca juga
PKS Cari Teman Koalisi dengan Prinsip Kesetaraan

Diantara yang wafat tersebut adalah para pahlawan hari ini yakni lebih dari 1.800 tenaga kesehatan, para guru dan tenaga pendidik, dan setidaknya 900 ulama, kiai dan ustadz yang meninggal.”Tragedi kemanusiaan bertambah dengan hadirnya 50.000 anak yatim-piatu (menurut data Kawal Covid) akibat ditinggal oleh orangtua. Kita doakan bersama dalam momentum peringatan kemerdekaan dan bantu dengan aksi peduli,” tandasnya.

Tinggalkan Komentar

×