Minggu, 29 Mei 2022
28 Syawal 1443

Refly Harun Bongkar BuzzerRp Ahok, Sebulan Digaji Rp4 Juta

Refly Harun Bongkar BuzzerRp Ahok
Refly Harun Bongkar BuzzerRp Ahok

Ahli hukum tata negara Refly Harun bongkar praktik buzzer milik Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat Pilkada Jakarta 2017 silam.

Dalam unggahan di channel Youtube pribadinya, Refly menyebut Media asal Inggris The Guardian membongkar informasi soal buzzer Ahok yang dibayar 4 juta per bulan.

Menempati sebuah rumah mewah di kawasan elit Menteng, para buzzer bertugas mengelola ratusan akun media sosial palsu untuk menyerang lawan dan menaikkan pamor Ahok pada Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu.

Akun-akun palsu yang mereka kelola, kata Alex, dibuat seolah-olah akun asli. Diberi foto profil yang seolah-olah riil. Agar terlihat seperti akun asli, ratusan akun palsu itu juga memosting berbagai aktivitas normal. Seperti status jatuh cinta, foto kuliner , foto tempat liburan dan lain-lain.

Baca juga
Pungli saat Malam Takbiran, 13 Orang Lebaran di Penjara

“Lantas di saat berperang, kita menggunakan apa pun yang tersedia untuk menyerang lawan,” kata Alex dari sebuah kafe di Jakarta Pusat.

Masing-masing anggota tim buzzer Ahok yang terdiri dari mahasiswa dan pendukung Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) itu diharuskan mengirim 60 hingga 120 kali cuitan di akun Twitter palsu mereka dan membuat beberapa unggahan di Facebook setiap hari.

Dalam menjalankan aktivitasnya sebagai buzzer, Alex mengelola lima akun Facebook, lima akun Twitter, dan satu Instagram.

“Mereka menyuruh kami untuk merahasiakannya. Mereka mengatakan itu adalah ‘waktu perang’ dan kami harus menjaga medan pertempuran dan tidak memberi tahu siapa pun tentang tempat kami bekerja,” sebutnya.

Baca juga
Wilmar Jadi Sponsor Persis Solo, Refly Harun: Tak Ada Makan Siang Gratis

Pilkada Jakarta sendiri waktu itu diikuti oleh Ahok, seorang beretnis keturunan Tionghoa, lalu Agus Yudhoyono, putra mantan Presiden RI dan mantan menteri pendidikan, Anies Baswedan.

Alex mengatakan timnya dipekerjakan untuk melawan banjir sentimen anti-Ahok, termasuk menaikan tagar yang mengkritik kandidat lawan.

Untuk mengkordinasikan aktivitas buzzer tersebut, Alex dan kawan-kawannya menghimpun diri dalam grup WhatsApp yang disebut Pasukan Khusus.

Di dalam grup itu tergabung sebanyak 80 anggota. Grup itu setiap saat membahas tema yang mereka garap dan tagar harian untuk dipromosikan.

Dari rumah mewah tempat mereka beroperasi, kata Alex, mereka bekerja dari beberapa kamar.

Baca juga
Keputusan UU Cipta Kerja Inkonsitusional Bersyarat Bakalan Bikin Gaduh, MK 'Bermain'

“Ruang pertama untuk konten positif, di mana mereka menyebarkan konten positif tentang Ahok. Ruang kedua untuk konten negatif, penyebaran konten negatif dan ujaran kebencian tentang oposisi,” kata Alex.

Belakangan ini nama Ahok jadi santer diberitakan. Hal itu terkait jabatan kepala otorita di Ibu Kota Negara, Nusantara di Kalimantan.

Nama Ahok disebut-sebut punya peluang besar sebab disebut oleh Presiden Jokowi.

Tinggalkan Komentar