Rabu, 10 Agustus 2022
12 Muharram 1444

Respons Kemenlu Soal China Minta Indonesia Hentikan Pengeboran Migas dan Latihan Militer di Laut Cina Selatan

Kamis, 02 Des 2021 - 20:48 WIB
Pengeboran Migas

Kementerian Luar Negeri Indonesia memberikan respons terkait kabar protes China yang meminta Indonesia menghentikan pengeboran minyak dan gas alam serta latihan militer di kawasan Laut Cina Selatan.

Juru bicara Kemenlu Teuku Faizasyah mengatakan bahwa permintaan tertulis dari China itu bersifat tertutup, sehingga ia tidak mengonfirmasi lebih jauh soal protes tersebut.

“Saya tidak bisa mengonfirmasi berita yang beredar tersebut. Komunikasi diplomatik, terlebih lagi yang tertulis bersifat tertutup dan sesuai ketentuan baru bisa dibuka ke publik setelah periode yang lama. Jadi saya tidak bisa konfirmasi berita tersebut dan juga yang menjadi rujukan komunikasi yang dimaksud,” ujarnya saat dikonfirmasi kebenaran protes tersebut di Jakarta, Kamis (2/12/2021).

Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa China meminta Indonesia menghentikan pengeboran minyak dan gas alam di Laut Natuna Utara yang mereka klaim sebagai bagian wilayah Nine Dash Line di Laut Cina Selatan awal tahun ini, mengutip empat orang yang mengetahui masalah tersebut.

Muhammad Farhan, anggota Komisi I DPR RI yang melingkupi urusan pertahanan dan luar negeri, yang diberi pengarahan tentang surat itu mengatakan bahwa satu surat dari diplomat China kepada Kementerian Luar Negeri Indonesia dengan jelas mengatakan kepada Indonesia untuk menghentikan pengeboran di rig lepas pantai sementara karena itu terjadi di wilayah China.

Baca juga
Bappenas: Untuk Ngelas Rel Kereta Cepat Jakarta-Bandung Harus Impor Pekerja China

“Jawaban kami sangat tegas, bahwa kami tidak akan menghentikan pengeboran karena itu adalah hak kedaulatan kami,” kata Farhan kepada Reuters.

Reuters juga melaporkan bahwa Kedutaan China di Jakarta juga tidak menanggapi permintaan komentar.

Tiga orang lainnya, yang mengaku telah diberi pengarahan tentang masalah tersebut, membenarkan adanya surat tersebut. Dua dari orang-orang itu mengatakan China berulang kali menuntut agar Indonesia menghentikan pengeboran.

Presiden China Xi Jinping telah mencoba untuk mengecilkan ketegangan antara China dan negara-negara Asia Tenggara, mengatakan pada pertemuan puncak para pemimpin China-ASEAN bulan lalu, bahwa China sama sekali tidak akan mencari hegemoni di kawasan Asia Tenggara.

Farhan mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah Indonesia mengecilkan ketegangan dari kebuntuan di depan umum. Para pemimpinnya ingin sediam mungkin karena, jika bocor ke media mana pun, itu akan menciptakan insiden diplomatik, katanya.

Baca juga
Menko Airlangga Harap Presiden Xi Jinping Hadir dalam KTT Presiden G20 di Bali

Indonesia mengatakan ujung selatan Laut Cina Selatan adalah zona ekonomi eksklusifnya di bawah Konvensi PBB tentang Hukum Laut dan menamakan wilayah itu sebagai Laut Natuna Utara pada 2017.

China keberatan dengan perubahan nama tersebut dan bersikeras bahwa jalur air tersebut berada dalam klaim teritorialnya yang luas di Laut Cina Selatan yang ditandai dengan ‘sembilan garis putus-putus’ atau Nine Dash Line berbentuk U, sebuah batas yang tidak memiliki dasar hukum menurut Pengadilan Arbitrase Permanen di Den Haag pada tahun 2016.

“(Surat itu) sedikit mengancam karena itu adalah upaya pertama diplomat Cina untuk mendorong agenda sembilan garis putus-putus mereka terhadap hak-hak kami di bawah Hukum Laut,” kata Farhan.

China adalah mitra dagang terbesar Indonesia dan sumber investasi terbesar kedua, menjadikannya bagian penting dari ambisi Indonesia untuk menjadi ekonomi papan atas. Para pemimpin Indonesia tetap diam tentang masalah ini untuk menghindari konflik atau pertengkaran diplomatik dengan China, kata Farhan dan dua orang lainnya yang berbicara kepada Reuters.

Farhan mengatakan bahwa China, dalam surat terpisah, juga memprotes latihan militer Garuda Shield yang sebagian besar berbasis darat pada Agustus, yang berlangsung selama kebuntuan itu.

Latihan tersebut, yang melibatkan 4.500 tentara dari AS dan Indonesia, telah menjadi acara rutin sejak 2009. Ini adalah protes pertama China terhadap mereka, menurut Farhan.

Baca juga
Makalah Ilmiah China Sebut COVID-19 Sudah Menyebar di AS Sejak September 2019

“Dalam surat resmi mereka, pemerintah China mengungkapkan keprihatinan mereka tentang stabilitas keamanan di daerah itu,” katanya.

 

Tinggalkan Komentar