Minggu, 27 November 2022
03 Jumadil Awwal 1444

Ria Ricis Menderita Mastitis, Infeksi yang Ancam Ibu Menyusui

Minggu, 11 Sep 2022 - 03:36 WIB
Ria Ricis Mastitis
Ria Ricis (ist)

YouTuber Ria Ricis rupanya sedang mengalami kesedihan akibat penyakit yang dideritanya. Seperti terungkap di channel YouTube miliknya, selebriti internet bernama asli Ria Yunita itu tengah mengidap mastitis. Apa penyebab penyakit yang sering dialami ibu-ibu menyusui ini?

“Aku kira itu kayak bengkak seperti biasa karena aku udah pijit laktasi itu sudah hampir tiga sampai empat kali,” ujar Ria Ricis di videonya bercerita awal mulai munculnya gejala penyakit ini.

Ketika muncul gejala awal, adik dari pendakwah Oki Setiana Dewi tersebut mengaku sempat tidak menghiraukannya. “Karena aku emang tipe yang kalau sakit gak pernah bilang,” ucapnya.

Payudara bagi kaum perempuan memang rentan mengalami penyakit. Payudara terdiri dari beberapa kelenjar dan saluran yang mengarah ke puting dan daerah berwarna di sekitarnya yang disebut areola. Saluran pembawa susu memanjang dari puting susu ke jaringan payudara di bawahnya seperti jari-jari roda. Di bawah areola terdapat duktus laktiferus. Ini mengisi dengan susu selama menyusui setelah seorang wanita memiliki bayi.

Ketika seorang gadis mencapai pubertas, perubahan hormon menyebabkan saluran ini tumbuh dan menyebabkan timbunan lemak di jaringan payudara meningkat. Kelenjar yang menghasilkan susu (kelenjar susu) yang dihubungkan ke permukaan payudara oleh duktus laktiferus dapat meluas ke daerah ketiak.

Penyebab Infeksi Payudara

Sementara mastitis adalah infeksi pada jaringan payudara yang paling sering terjadi selama masa menyusui. Infeksi dapat terjadi ketika bakteri, seringkali dari mulut bayi, memasuki saluran susu melalui celah di puting susu.

Baca juga
Kunci Agar Tidak Wasir, Jangan Mengejan Saat BAB dan Konsumsi Serat Setiap Hari

Mengutip WebMD, infeksi payudara paling sering terjadi satu hingga tiga bulan setelah melahirkan, tetapi dapat terjadi pada wanita yang belum lama melahirkan dan pada wanita setelah menopause. Penyebab infeksi lainnya termasuk mastitis kronis dan bentuk kanker langka yang disebut karsinoma inflamasi.

Mastitis biasanya terjadi akibat saluran susu yang tersumbat. Penyumbatan inilah yang menyebabkan infeksi payudara. Susu yang tergenang di payudara yang tidak dikosongkan ini menjadi tempat berkembang biak bagi bakteri dan menjadi penyebab mastitis.

Selain saluran susu tersumbat, mastitis juga bisa disebabkan kerusakan puting, lama tidak memberikan susu kepada anak, atau payudara yang terlalu penuh. Bisa juga akibat menyusui terlalu cepat, bra yang terlalu ketat atau masalah yang disebabkan cara bayi ketika menyusui.

Pada wanita sehat, mastitis jarang terjadi. Namun, wanita dengan diabetes, penyakit kronis, AIDS, atau sistem kekebalan yang terganggu mungkin lebih rentan. Sekitar 1 hingga 3 persen ibu menyusui mengalami mastitis.

Mastitis kronis juga bisa terjadi pada wanita yang tidak menyusui. Pada wanita pascamenopause, infeksi payudara dapat dikaitkan dengan peradangan kronis pada saluran di bawah puting susu. Perubahan hormon dalam tubuh dapat menyebabkan saluran susu tersumbat oleh sel-sel kulit mati dan kotoran. Saluran yang tersumbat ini membuat payudara lebih terbuka terhadap infeksi bakteri.

Baca juga
5 Hal yang Perlu Dilakukan Saat Angka Trigliserida Naik

Infeksi mastitis ini dapat menyebabkan nyeri, kemerahan, dan kehangatan pada payudara. Biasanya disertai dengan pegal-pegal, pembengkakan payudara, mengalami kelelahan kadang diikuti dengan demam atau panas dingin.

Mastitis bisa mengalami komplikasi jika tidak diobati dengan tanda-tanda menyebabkan kumpulan nanah. Juga ada benjolan lunak di payudara yang tidak mengecil setelah menyusui bayi. Namun jika abses jauh di dalam payudara, Si Ibu mungkin tidak dapat merasakannya. Seringkali mengalami demam persisten dan tidak ada perbaikan gejala dalam 48 hingga 72 jam pengobatan.

Tips Menghindari Infeksi

Mengutip Thewomens.org, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menghindari infeksi pada payudara ini. Misanya dengan menyusui sesering yang dibutuhkan bayi (biasanya 8 sampai 12 kali dalam 24 jam untuk bayi baru lahir). Sebaiknya juga jangan lewatkan atau menunda menyusui, dan bangunkan bayi jika payudara ibu sudah terasa penuh. Jika bayi tidak mau menyusu, Si Ibu mungkin perlu memeras sedikit susu.

Ada baiknya berkonsultasilah dengan bidan atau perawat kesehatan ibu dan anak untuk memastikan bayi melekat dan menyusu dengan cara yang baik di payudara. Tawarkan pula kedua payudara pada setiap menyusui. Jika bayi hanya menyusu dari satu payudara, pastikan untuk menawarkan payudara alternatif pada menyusui berikutnya.

Jika payudara ibu masih terasa penuh, perah sedikit ASI setelah menyusui sampai terasa nyaman. Hindari pula tekanan pada payudara dari pakaian atau dari jari-jari saat menyusui. Yang sering terlupakan, Si Ibu juga harus tetap beristirahat terutama ketika bayi sedang tertidur.

Baca juga
Belajar dari Kasus Dorce, Ini Tips Atasi Saat Gula Darah Drop

Apakah ASI tetap aman untuk bayi jika Si Ibu menderita mastitis? ASI akan tetap aman untuk bayi bahkan jika Si Ibu menderita mastitis, jadi teruskan menyusui atau peras dari payudara yang terkena. Ada baiknya menempatkan kompres panas atau kain hangat di area yang sakit sebelum menyusui atau memerah untuk membantu aliran ASI.

Lakukan pijat lembut setiap benjolan payudara ke arah puting susu saat menyusui atau memerah atau saat mandi. Lanjutkan menyusui atau peras payudara Anda yang sakit hingga terasa lebih nyaman. Jika Si Ibu tidak mulai merasa lebih baik setelah beberapa jam, segeralah temui dokter.

Yang juga tak kalah penting adalah menjalankan hidup bersih selama menyusui. Praktikan kebersihan dengan hati-hati dengan mencuci tangan, membersihkan puting susu, serta menjaga bayi tetap bersih.

Tinggalkan Komentar