Selasa, 12 Mei 2026 | 24 Dzulqa'dah 1447
inilah.comototeknocyberlifeRibuan Remaja Jepang Terjebak Kecanduan Akut Media Sosial

Ribuan Remaja Jepang Terjebak Kecanduan Akut Media Sosial

Ikhsan Medium.jpeg
Minggu, 3 Mei 2026 - 04:35 WIB
Share
Ilustrasi - Menurut survei, ada tujuh persen anak muda Jepang berusia 10 hingga 19 tahun diduga sebagai 'pengguna patologis' media sosial. (foto: Associated Press)

Ilustrasi - Menurut survei, ada tujuh persen anak muda Jepang berusia 10 hingga 19 tahun diduga sebagai 'pengguna patologis' media sosial. (foto: Associated Press)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung
KecilBesar

Fenomena kecanduan dunia maya di kalangan generasi muda Jepang mencapai level yang mengkhawatirkan. Hasil survei terbaru yang dirilis Organisasi Rumah Sakit Nasional Kurihama Medical and Addiction Center mengungkapkan bahwa tujuh persen remaja di Negeri Sakura berusia 10 hingga 19 tahun diduga kuat telah menjadi 'pengguna patologis' media sosial.

Lembaga medis yang berbasis di Prefektur Kanagawa tersebut menyatakan para remaja ini sudah berada pada tahap kecanduan akut. Mereka merasa sangat sulit, bahkan gagal total, saat mencoba mengurangi durasi penggunaan ponsel pintar dalam kehidupan sehari-hari.

Angka Kecanduan Tertinggi di Kelompok Remaja

Survei nasional yang dilakukan pada awal tahun ini menunjukkan bahwa kelompok usia 10-19 tahun menempati posisi teratas sebagai pengguna media sosial paling bermasalah. Angka 7 persen pada kelompok remaja ini jauh melampaui kelompok usia 20-an yang berada di angka 4,7 persen, serta kelompok usia 30-an yang hanya 1,1 persen.

Metode penelitian ini menggunakan sembilan parameter indikator kecanduan, termasuk perilaku berbohong kepada keluarga mengenai durasi penggunaan hingga upaya yang selalu gagal untuk berhenti. Dari kelompok yang terdeteksi kecanduan, sebanyak 62 persen mengaku menghabiskan waktu lebih dari enam jam sehari untuk berselancar di media sosial pada akhir pekan.

Ancaman Kesehatan Mental dan Kriminalitas

Hasil penelitian ini menjadi alarm keras bagi Pemerintah Jepang. Pasalnya, penggunaan media sosial yang tidak terkontrol terbukti memiliki kaitan erat dengan gangguan kesehatan mental serta peningkatan risiko keterlibatan anak-anak dalam tindak kejahatan.

"Ada hubungan nyata antara durasi penggunaan media sosial dengan stabilitas emosional anak-anak," tulis laporan tersebut.

Kondisi ini memicu diskusi serius di tingkat kementerian. Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang bersama Badan Anak dan Keluarga kini tengah menggodok langkah proteksi serupa yang telah diterapkan oleh Australia dan Indonesia, yakni pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.

Pentingnya Aturan Domestik dan Contoh Orang Tua

Kurihama Medical Center menyarankan agar penanganan masalah ini dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga. Orang tua didesak untuk menetapkan aturan main yang ketat sebelum memfasilitasi anak dengan ponsel pintar. Aturan tersebut harus mencakup batasan waktu, lokasi penggunaan, hingga konsekuensi yang tegas jika terjadi pelanggaran.

Tak kalah penting, pusat medis tersebut juga mengingatkan bahwa keberhasilan literasi digital anak sangat bergantung pada perilaku orang tua di rumah. "Orang tua harus mampu memberikan contoh yang baik dalam penggunaan teknologi agar anak tidak merasa terasing dan mencari pelarian di dunia maya," pungkas laporan tersebut.

0 suka
0 bookmark
Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com