https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   30 July 2021 - 16:53 wib

Pantau Kesehatan Ibu dan Anak Lewat Buku KIA

Sesuai dengan rekomendasi WHO, Kementerian Kesehatan RI menetapkan buku kesehatan ibu dan anak (Buku KIA) sebagai alat pencatatan kesehatan ibu dan anak di tingkat keluarga.

Selain sebagai media pencatatan, Buku KIA  digunakan sebagai media Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) bagi ibu hamil dan balita untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak secara rutin.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan 75,2 persen ibu hamil dan 65,9 persen balita (0-59 bulan) memiliki Buku KIA. Walaupaun kepemilikan Buku KIA cukup tinggi, kita menghadapi tantangan penggunaan Buku KIA yaitu pengisiannya masih belum optimal.

Berangkat dari hal tersebut, dalam momen Hari Anak Nasional 2021 dan guna mendukung upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak di masa pandemi, Direktorat Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI bekerja sama dengan PT Tirta Investama, perusahaan yang tergabung dalam grup Danone di Indonesia, menyelenggarakan webinar untuk meningkatkan edukasi masyarakat akan pentingnya Buku KIA untuk membantu orang tua memantau kesehatan dan tumbuh kembang anak.

“Kami mengapresiasi pihak swasta seperti PT Tirta Investama yang mau berkontribusi dan bersama-sama meningkatkan edukasi pemanfaatan Buku KIA di masyarakat. Kami melihat ternyata pemanfaatan Buku KIA di masyarakat hingga saat ini masih belum sesuai harapan. Persoalan lain, pandemi membuat akses terhadap layanan kesehatan seperti di puskesmas atau klinik, rumah bersalin, klinik kesehatan keliling, dan pusat pengobatan tradisional kurang memadai," kata Plt Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Drg. Kartini Rustandi, M. Kes, saat temu media virtual, Jakarta, Junat, (30/07/2021).

Untuk itulah, masih menurut Kartini, melakukan kerja sama dengan berbagai pihak agar edukasi pemanfaatan Buku KIA sesuai sasaran, sehingga orangtua dapat memantau perkembangan anak balita  dengan baik.

Sejalan dengan visi One Planet, One Health, untuk membawa kesehatan ke sebanyak mungkin masyarakat melalui nutrisi dan hidrasi sehat, PT Tirta Investama mendukung penuh upaya pemerintah dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak dalam segala situasi.

Melalui kerja sama ini dan program-program keberlanjutan lain seperti Isi Piringku, Ayo Minum Air dan fasilitasi program vaksinasi COVID-19 pemerintah bagi masyarakat umum dan anak.

"Di sisi lain, kami juga memiliki kebijakan perusahaan ramah keluarga (family friendly company), melalui pemberian cuti enam bulan bagi karyawati dan 10 hari bagi karyawan yang istrinya sedang melahirkan untuk mendukung tumbuh kembang anak dimasa 1000 Hari Pertama Kehidupan. Lebih jauhnya, kami berupaya untuk meningkatkan kesehatan anak Indonesia terutama di masa pandemi melalui berbagai program kegiatan dan kolaborasi,” ujar VP General Secretary Danone Indonesia Vera Galuh Sugijanto.

Di masa pandemi pelayanan gizi dan kesehatan lebih diprioritaskan kepada kelompok balita dan ibu hamil serta menyusui yang berisiko.

Pada sasaran berisiko, dilakukan dengan janji temu dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

"Pemantauan pertumbuhan di posyandu menyesuaikan dengan kebijakan setempat. Jika posyandu tidak buka, orangtua dianjurkan untuk melakukan pemantauan secara mandiri dengan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA),” tambah Vera.

Seperti yang kita ketahui, situasi Indonesia belum sepenuhnya lepas dari masalah kekurangan gizi anak, khususnya yang berusia di bawah lima tahun (balita). Tercermin dari prevalensi stunting (pendek) masih sebesar 27,7 persen sampai 2019, meskipun telah turun dari 30,8 persen pada tahun sebelumnya.

Angka tersebut mengindikasikan masih ada 3 dari 10 anak balita menderita stunting. Jauh dari standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni maksimal 20 persen dari jumlah total anak balita dalam satu negara.

Untuk menekan angka balita stunting sebesar 14 persen pada 2024 sesuai yang diamanatkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, intervensi percepatan penurunan stunting yang terintegrasi harus terus dioptimalkan.(tka)

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Kanal

Wujud Kontribusi untuk NTT Keluar dari Stunting

Berdasarkan Badan Pusat Statistik, Provinsi NTT menempati urutan pertama dengan rasio penderita g
berita-headline

Kanal

Kemenperin Galakkan Konsumsi Ikan untuk Cegah Stunting

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong program untuk mencegah stunting, di antaranya de
berita-headline

Inersia

Puskesmas di Malang Berhasil Turunkan Stunting

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi stunting Kota Malang adalah 31,74