Rabu, 18 Mei 2022
17 Syawal 1443

Risiko Inflasi dan Geopolitik Pacu Kenaikan Harga Emas US$6,1 per Troy Ounce

Risiko Inflasi dan Geopolitik Pacu Kenaikan Harga Emas US$6,1 per Troy Ounce- inilah.com
Foto: Istockphoto.com

Harga emas kembali menguat ke level tertinggi hampir dua pekan pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu (9/2/2022) pagi WIB. Ini memperpanjang reli untuk hari ketiga berkat dukungan meningkatnya kekhawatiran inflasi dan ketegangan Rusia-Ukraina. Meskipun, ekspektasi kenaikan suku bunga AS membatasi kenaikan.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April di divisi Comex New York Exchange, terangkat 6,10 dolar AS atau 0,3 persen, menjadi menetap di 1.827,90 dolar AS per ounce. Berdasarkan kontrak paling aktif, harga menandai penyelesaian tertinggi sejak 26 Januari, ungkap data FactSet.

Sehari sebelumnya, Senin (7/2/2022), emas berjangka terangkat 14 dolar AS atau 0,8 persen menjadi 1.821,80 dolar AS, setelah menguat 3,70 dolar AS atau 0,2 persen menjadi 1.807,80 dolar AS pada Jumat (4/2/2022), dan jatuh 6,20 dolar AS atau 0,3 persen menjadi 1.804,10 dolar AS pada Kamis (3/2/2022).

Baca juga
Sri Mulyani Ingin Segera Ucapkan Selamat Tinggal Dolar AS

“Ada lebih banyak pendekatan menunggu dan melihat dengan beberapa data yang lebih besar keluar akhir pekan ini. Emas telah menunjukkan membentuk support besar-besaran di sekitar 1.800 dolar dan ini akan menjadi minggu yang penting bagi emas,” kata Edward Moya, senior analis pasar di broker OANDA.

Harga-harga konsumen AS untuk Januari diperkirakan naik 7,3 persen secara tahunan, menurut jajak pendapat Reuters, setelah data tenaga kerja yang kuat pekan lalu memicu kekhawatiran inflasi.

Harga emas telah terjebak dalam perdagangan yang terbatas sejak awal tahun, terjebak di antara meningkatnya kekhawatiran inflasi dan meningkatnya ekspektasi untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Baca juga
SWI Periksa Influencer yang Terlibat Penawaran Binary Option dan Broker Ilegal

“Jika masalah data aktual (inflasi) seperti yang diharapkan atau lebih tinggi, dolar akan menguat seiring dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS meninggalkan emas dengan tekanan penurunan yang substansial,” tulis analis DailyFX Warren Venketas dalam sebuah catatan.

Emas sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga AS, yang meningkatkan peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Suku bunga yang lebih tinggi juga mendorong dolar, menekan logam mulia yang dihargakan dalam greenback.

Ketegangan Rusia-Ukraina akan tetap meningkat meskipun ada beberapa optimisme dari Presiden Prancis Macron, kata Moya.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya naik 0,3 persen, membuat emas mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sementara imbal hasil acuan obligasi pemerintah AS 10-tahun mencapai puncaknya lebih dari dua tahun.

Tinggalkan Komentar