Kamis, 02 Februari 2023
11 Rajab 1444

Rudal Rusia Meledak di Polandia, Rupiah Melemah 39 Poin

Rabu, 16 Nov 2022 - 12:18 WIB
Geopolitik memanas ciptakan pelemahan nilai tukar rupiah.

Situasi geopolitik di tengah masih berlangsungnya KTT G20 di Bali, memanas. Dipantik ledakan rudal Rusia di wilayah Polandia, membuat pasar ikut terguncang. Sejumlah mata uang terkontraksi termasuk rupiah.

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu (16/11/2022), mengalami pelemahan. Akibat memanasnya geopolitik seiring meledaknya rudal Rusia di Desa Przewodow, Polandia Timur. Letaknya sekitar 6 kilometer dari Ukraina. Dua orang tewas akibat ledakan tersebut.

Di sesi pembukaan, mata uang Garuda melemah 39 poin atau 0,25 persen ke posisi Rp15.577 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin sebesar Rp15.538 per dolar AS.

“Pasar menjauhi aset -aset berisiko dibalik memanasnya ketegangan politik setelah dikabarkan rudal Rusia menyerang perbatasan Polandia dengan Ukraina dan menewaskan dua orang yang memicu kekhawatiran akan risiko terbaru seiring Polandia adalah anggota NATO,” kata analis Monex Investindo, Futures Faisyal, Jakarta, Rabu (16/11/2022).

Baca juga
Rupiah Coba Siuman di Tengah Sentimen Larangan Ekspor Minyak Goreng

Atas kejadian ini, Presiden Polandia Andrzej Duda mencoba menenangkan para pelaku pasar. Duda menyebutkan, misil yang menewaskan warganya itu terkonfirmasi buatan Rusia. Sempat ditembak pasukan Ukraina, namun tetap jatuh di dekat perbatasan Ukraina. Sangat kecil kemungkinan ada serangan lanjutan ke Polandia.

Amerika Serikat (AS) menggerakkan pasukan NATO di mana Polandia adalah salah satu negara anggotanya, untuk bersiaga di wilayah Ukraina. Untuk menekan pasukan Rusia. Sementara itu, dolar AS diprediksi melemah yang dipicu oleh Federal Reserve yang mungkin akan bertindak kurang agresif pada pertemuan selanjutnya

Rilis data indeks harga produsen AS yang dirilis semalam yang hasilnya lebih rendah dari estimasi memperkuat proyeksi investor bahwa inflasi mungkin telah mereda.

Baca juga
Rupiah Loyo Jelang Rilis Data Inflasi September 2022

Data indeks harga produsen AS terbaru menunjukkan harga-harga grosir naik 0,2 persen pada Oktober, lebih rendah dari ekspektasi untuk kenaikan 0,5 persen.
Untuk tingkat tahunan, indeks harga produsen juga hanya tumbuh 8 persen, lebih rendah dari kenaikan 8,4 persen pada September.

Pelemahan dolar AS juga dipicu oleh pernyataan Anggota Dewan Gubernur Fed Christopher Waller yang mengatakan bahwa data minggu lalu hanya bagian dari gambaran yang lebih besar dan poin data lainnya harus dipertimbangkan sebelum menarik kesimpulan apapun.

Dia juga mengindikasikan bahwa The Fed akan mempertimbangkan untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga, namun penjedaan untuk kebijakan suku bunga tidak akan terjadi.

Baca juga
Rupiah Unjuk Gigi Jelang Rapat Bulanan Bank Indonesia

Wakil Ketua The Fed, Lael Brainard mengisyartkan potensi perlambatan kenaikan suku bunga dalam pernyataan yang dibuat olehnya pada Senin. Pada Selasa (15/11), rupiah ditutup melemah 18 poin atau 0,12 persen ke posisi Rp15.538 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.520 per dolar AS.

 

Tinggalkan Komentar