Minggu, 29 Januari 2023
07 Rajab 1444

Rupiah Lunglai dan Menagih Janji yang tak Tertunai

Rabu, 30 Nov 2022 - 16:40 WIB
Penulis : Wiguna Taher
Rupiah Melemah Jadi Rp15.663 Usai The Fed Kerek Suku Bunga
Nilai Tukar Rupiah terhadap dolar AS, Selasa (30/11/2022) mendekati angka Rp16.000," (Foto: Dokumentasi)

Pelemahan nilai tukar rupiah membuat kita akan dihadapkan situasi dimana harga harga melambung, tetapi di saat yang bersamaan penghasilan cenderung stagnan. Daya beli masyarakat bawah semakin tergerus. Ekonomi Indonesia sedang dalam kondisi tidak baik baik saja. Tentukan prioritas pengeluaran, sembari mengencangkan ikat pinggang.

Oleh: Wiguna Taher

Rupiah lunglai …diksi ini mengacu pada makna tak bertenaga, tak berdaya. Mata uang rupiah sudah sejak lama, secara gradual kehilangan daya tahan. Nilainya terhadap dolar Amerika terus melemah dan kini mendekati angka Rp16.000 per dolar. Angka ini pernah dicapai rupiah saat krisis moneter tahun 1998, yang menjadi tonggak kejatuhan rezim otoriter Orde Baru.

Adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan membuat pernyataan yang “menyejukkan” sekaligus mengejutkan. Kata Luhut, kita tak perlu khawatir dengan pelemahan rupiah lantaran hal itu terjadi bukan karena ekonomi Indonesia yang buruk, tetapi karena faktor eksternal, yaitu kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, The Fed yang agresif sepanjang 2022.

“Kalau nanti ada yang sampaikan The Fed kalau masih tekan, which is kayaknya enggak lagi, dia (rupiah) sampai Rp16 ribu, oke, kita nanti akan adjust (sesuaikan) lagi ke bawah. Jadi semua manageable (terkendali) , semua by design (terdesain), bukan karena ekonomi kita tidak bagus,” katanya dalam Wealth Wisdom 2022 yang dipantau secara daring di Jakarta, Selasa (29/11/2022).

Apa yang disampaikan Luhut bisa jadi betul dalam konteks optimisme. Kita garis bawahi soal “kepedean” Luhut bahwa rupiah bisa di-adjust, manageable dan semua by design. Maklum Luhut dikenal sebagai super menteri yang bisa mengatasi segala urusan, termasuk menyehatkan nilai rupiah.

Baca juga
Lima Saham Tersaji Saat Status IHSG di Zona Netral

Soal pelemahan rupiah ini, Mantan Menko Ekonomi Keuangan dan Industri (Ekuin) Kwik Kian Gie pernah meramalkan jika rupiah akan terus merosot hingga tak ada batasnya, sampai ada pemimpin yang kuat, mengerti persoalan dan berani membalikkan rupiah.

“Seandainya rupiah tidak merosot, saya malah heran,” kata Kwik dalam talk show Indonesia Bisnis Forum, 10 Mei 2018 silam.

Walaupun terucap hampir lima tahun lalu, apa yang disampaikan Kwik masih terasa relevan dengan kondisi sekarang. Apalagi Kwik dengan cermat membandingkan penurunan nilai rupiah dengan mata uang negara negara ASEAN selama kurun waktu 48 tahun (sampai 2018).

Menurut Kwik dalam 48 tahun, mata uang Singapura justru menguat terhadap dolar atau apresiasi sebesar 57%, Malaysia menurun 57%, Thailand terdepresiasi 52%, Filipina mengalami depresiasi 756% dan Indonesia mengalami depresiasi 3.757%. Jika ditambah dengan penurunan rupiah saat ini, Selasa (30/11/2022 – Rp15.745 per dolar), bisa jadi rupiah kita sudah melemah 4.000%. Juara !

Fakta di atas membuktikan, rupiah praktis tidak pernah menunjukkan perbaikan. Semangat dan upaya untuk mempertahankan depresiasi rupiah sebetulnya terus membara. Presiden Jokowi saat Pilpres 2014 silam, menjadikan upaya penguatan rupiah sebagai salah satu janji kampanyenya.

Saat Jokowi-JK dilantik pada 2014, nilai tukar rupiah terhadap dolar ada di angka Rp12.032. Jokowi berjanji akan membuat rupiah berada di angka Rp 10.000 per dolar. Tetapi apa hendak dikata, di akhir November 2022, rupiah nyaris menembus Rp16.000,-  Jokowi pun belum mampu menunaikan janji yang pernah diucapkannya sewindu yang silam.

Baca juga
Anies Sambangi Kantor DPP PKS, Beri Pelatihan Relawan Bersama Aher

Langkah Antisipasi

Direktur Center of Economic and Laws Studies, Bhima Yudhistira memperkirakan, pelemahan rupiah akan berlanjut. Dia menduga, rupiah akan bergerak pada kisaran Rp 15.700 hingga Rp 16.100 per dolar AS di tahun depan.

“Karena agresivitas kebijakan moneter negara maju, yang menaikkan suku bunga sehingga mendorong aliran modal keluar dari negara berkembang. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia,” kata Bhima seperti dikutip bisnis.com, Rabu (28/9/2022) lalu.

Di satu sisi, melemahnya rupiah menguntungkan kalangan eksportir, tetapi di sisi yang lain, pelemahan rupiah memberikan lebih banyak dampak negatif bagi perekonomian. Rupiah yang melemah memicu apa yang disebut imported inflation (inflasi yang didorong naiknya biaya impor) yang lebih tinggi.

Harga bahan pangan yang harus diimpor seperti kedelai, gula, daging sapi, dan gandum, akan mengalami lonjakan. Kondisi ini dipastikan menciptakan tekanan inflasi yang lebih besar di dalam negeri.

Ambil contoh soal kedelai. Setiap tahun Indonesia mengimpor sekitar 3 juta ton kedelai, hampir 90% dari AS. Dengan kondisi rupiah yang melemah, harga produk turunan kedelai seperti tahu dan tempe dipastikan akan menjadi lebih mahal.

Jangan kaget, jika kita makan di warteg mendapati ukuran tempenya menjadi lebih mungil hanya gara gara pedagang takut menaikkan harga jual tempenya. Jangan terkejut pula, jika nanti harga mie instan akan naik, gara gara gandum sebagai bahan baku produksi mie instan juga harus kita impor.

Baca juga
Kades Sukamulya Cugenang Kabur Usai Gempa Cianjur, Distribusi Bantuan Terhambat

Sejalan dengan itu, pelemahan rupiah yang semakin dalam akan mendorong Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan. Sampai November 2022 ini, BI sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 175 basis points (bps) dalam kurun waktu empat bulan menjadi 5,25%.Kenaikan tersebut adalah yang paling agresif sejak 2005 atau 17 tahun terakhir.

Kenaikan suku bunga acuan yang terlalu tinggi ini akan menghambat penyaluran kredit perbankan. Uang yang beredar berkurang dan pada akhirnya konsumsi masyarakat juga menjadi tertekan.

Jadi siap-siap. Tahun 2023 kita akan dihadapkan situasi dimana harga harga melambung, tetapi di saat yang bersamaan penghasilan cenderung stagnan. Tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan situasi ini. Ekonomi Indonesia sedang dalam kondisi tidak baik baik saja. Tentukan prioritas pengeluaran, sembari mengencangkan ikat pinggang.

Kita masih terus menanti langkah apa yang akan diambil pemerintah untuk membuat rupiah menguat. Jangan lupa, rupiah adalah salah satu simbol kedaulatan negara. Itu sebabnya, rupiah wajib dijaga, dihormati dan dibanggakan oleh seluruh jagad Indonesia.

Wiguna Taher-Pemimpin Redaksi Inilah.com

Tinggalkan Komentar