Rupiah Tembus Rp17.400, Bank Indonesia Pastikan Intervensi Pasar

Bank Indonesia (BI) menegaskan pelemahan rupiah akibat konflik Timur Tengah masih terkendali dan sejalan dengan mata uang Asia lainnya. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Bank Indonesia (BI) memastikan pelemahan nilai tukar rupiah yang kini menembus level Rp17.400 per dolar AS masih terkendali. Otoritas moneter menegaskan bahwa depresiasi mata uang Garuda saat ini masih sejalan dengan tren pelemahan mayoritas mata uang negara berkembang (emerging market) akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, Erwin Gunawan Hutapea, memaparkan bahwa rupiah tidak sendirian dalam menghadapi tekanan dolar AS. Secara persentase, pelemahan rupiah bahkan masih lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang negara tetangga.
"Philippine peso melemah sebesar 6,58 persen, Thailand baht 5,04 persen, dan India rupee 4,32 persen. Indonesia rupiah sendiri melemah 3,65 persen," ujar Erwin dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Intervensi Masif di Berbagai Lini
Menyikapi tekanan global yang terus berlanjut, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk selalu hadir di pasar. BI melakukan intervensi tiga lapis (triple intervention) guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga stabilitas nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya.
Langkah konkret yang diambil meliputi optimalisasi intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore. Di pasar domestik, BI mengguyur likuiditas melalui transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF), serta melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
"Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global," tegas Erwin.
Cadangan Devisa Masih di Atas Standar Internasional
Berdasarkan data pasar spot global pada Selasa (5/5/2026) pukul 10.41 WIB, dolar AS bertengger di kisaran Rp17.426. Kondisi ini memang berdampak pada posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia.
Hingga akhir Maret 2026, cadangan devisa tercatat sebesar US$148,2 miliar, menyusut sekitar US$3,7 miliar dibandingkan posisi Februari 2026 yang mencapai US$151,9 miliar. Penurunan ini salah satunya dipicu oleh langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia.
Meski demikian, BI menjamin posisi cadangan devisa tersebut masih sangat kuat. Jumlah US$148,2 miliar tersebut setara dengan pembiayaan 6,0 bulan impor atau 5,8 bulan impor plus pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini jauh di atas standar kecukupan internasional yang menetapkan batas aman sekitar 3 bulan impor.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.