Selasa, 06 Desember 2022
12 Jumadil Awwal 1444

Rusia-Ukraina Tak Kunjung Damai, Harga Minyak Bakal Kokoh di Level US$115 per Barel

Senin, 18 Apr 2022 - 11:17 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Perang Rusia-Ukraina, Harga Minyak Kokoh di Level US$115 per Barel - inilah.com
Foto: Istockphoto.com

Perang Rusia versus Ukraina belum menemukan titik cerah untuk berdamai. Proyeksi harga minyak pun menjadi kokoh di kisaran US$95 per barel hingga US$115 per barel karena perang tersebut yang berlarut-larut.

“Jika perang cepat berakhir, mungkin harga minyak akan bertengger di kisaran US$85-100 per barel. Tapi, jika berlarut-larut, harga minyak berpeluang berada dalam kisaran US$95-115 per barel,” kata Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual kepada Inilah.com di Jakarta, Senin (18/4/2022).

Dengan adanya perang, lanjut David, harga minyak mentah dunia menjadi tinggi dengan rata-rata di atas US$100 per barel sepanjang 2022 secara year to date.

Di berbagai negara pun, harga ritel minyak sangat tinggi. Ia mencontohkan Amerika Serikat yang menggunakan galon dan harganya berada di atas US$5,5 per galon. “Di atas kisaran Rp20-30 ribu karena tambahan pajak per liternya,” ujarnya.

Baca juga
Setelah Jokowi Ancam Izin Dicabut, Adaro Setor 3,2 Juta Ton Batubara

Di Eropa Jauh Lebih Mahal

Lebih jauh ia mengungkapkan, harga minyak di Eropa, bahkan jauh lebih mahal karena faktor pajak yang jauh lebih tinggi ketimbang Amerika Serikat. “Untuk bahan bakar posil, pajaknya tinggi karena tujuan untuk mendorong masyarakat mereka agar menggunakan energi bersih,” tuturnya.

Untuk harga tertinggi minyak jenis Brent mencapai US$139 per barel. “Padahal, harga yang dipatok pemerintah dalam APBN 2022 sebesar US$63 per barel. Harga energi pada 2022 relatif tinggi jauh di atas asumsi APBN,” papar David.

Sebelum perang Rusia-Ukraina pun, ia mengungkapkan harga energi sudah meningkat. Sebab, banyak negara menuju endemic sehingga aktivitas perekonomiannya mulai bergerak dan mobilitas masyarakat semakin baik. “Permintaan energi pun meningkat,” ucapnya.

Baca juga
Di Tengah Konflik Rusia-Ukraina, Menko Airlangga Apresiasi Komitmen Eropa Perkuat Kerja Sama

Pada akhir 2021, kata David, dunia sempat mengalami krisis energi karena faktor musim dingin di mana permintaan meningkat, terutama untuk batu bara. Pada saat yang sama, banyak pabrik yang sebelumnya tutup harus kembali buka sehingga mereka kekurangan energi.

Akibatnya, banyak Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara kembali beroperasi. “Begitu juga dengan pusat listrik tenaga dieselnya. Meskipun, mereka sebelumnya pelan-pelan menurunkan konsumsinya karena beralih ke energi baru terbarukan atau EBT,” imbuh David.

Tinggalkan Komentar