Sabtu, 13 Agustus 2022
15 Muharram 1444

Sarapan Satu Jam Sebelum Beraktivitas Bantu Anak Konsentrasi Belajar

Jumat, 18 Feb 2022 - 08:01 WIB
sarapan
foto unsplash

Sarapan adalah modal untuk menjalankan kegiatan sehari-hari. Waktu yang tepat untuk sarapan adalah satu jam sebelum beraktivitas. Dengan begitu, anak-anak bisa lebih berkonsentrasi dalam belajar.

Dokter Spesialis Gizi Klinik dari Persatuan Dokter Gizi Klinik Indonesia, dr. Diana F. Suganda, M.Kes, SpGK mengatakan, sarapan idealnya dilakukan setengah jam hingga satu jam sebelum Anda beraktivitas.

“Jam sarapan sebelum aktivitas. Tujuan sarapan memberikan energi saat beraktivitas. Setengah jam atau sejam sebelum (beraktivitas) masih oke,” kata dia dalam acara virtual, ditulis di Jakarta, Jumat, (18/02/2022).

Menurut Diana, makan di pagi hari dapat menjadi semacam bahan baku atau energi pertama untuk seseorang beraktivitas. Pada anak-anak, khususnya sarapan bisa membantu mereka berkonsentrasi saat belajar.

“Satu-satunya energi untuk otak yang paling mudah (didapatkan) yakni glukosa salah satunya dari karbohidrat. Butuh (juga) protein agar anak konsentrasi, (bisa melakukan) aktivitas harian,” paparnya.

Baca juga
5 Nutrisi Penting bagi Pelari saat Jalani Puasa Ramadan

60 persen anak Indonesia belum memiliki kebiasaan sarapan

Menurut data di Indonesia memperlihatkan sarapan belum menjadi kebiasaan khususnya di kalangan anak-anak. Riset yang dilakukan Pergizi Pangan Indonesia tahun 2013 menunjukkan, hampir 60 persen anak Indonesia belum memiliki kebiasaan makan di pagi hari dengan alasan beragam mulai dari tidak sempat hingga tidak terbiasa makan di pagi hari.

“Biasanya pagi-pagi urusan emak-emak susah bangunin anak apalagi saat masih sekolah tatap muka. Drama pagi hari panjang sehingga enggak sempat sarapan atau sempat sarapan tapi enggak habis karena terburu-buru harus berangkat, atau sulit karena enggak biasa sarapan,” kata Diana.

44,6 persen anak Indonesia konsumsi kurang asupan gizi

Sementara itu, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, sebanyak 44,6 persen anak Indonesia mengkonsumsi sarapan dengan asupan gizi kurang dari 15 persen total kebutuhan energi.

Baca juga
4 Kriteria Pasien Anak COVID-19 Boleh Isoman

Bahkan, sekitar 26,1 persen anak hanya minum teh, air putih atau susu untuk makan di pagi hari. Sementara anak usia sekolah membutuhkan 1.550 kalori per hari, mulai dari karbohidrat, protein, hingga lemak, yang mengandung omega 3 dan 6 serta vitamin, mineral dan juga serat untuk mendukung kesehatan dan pertumbuhannya.

Jika ini tidak terpenuhi akan berdampak pada pertumbuhan, status gizi hingga penyerapan ilmu di sekolah.

Anak tidak terbiasa sarapan berdampak kurang konsentrasi

Di sisi lain, menurut Diana, anak yang tidak terbiasa makan pagi mungkin tidak akan merasa kelaparan tetapi kurang bisa berkonsentrasi saat belajar karena otaknya tidak cukup mendapatkan energi.

“Konsentrasinya kurang, banyak melamun karena otaknya tidak cukup mendapat energi. Anak terlihat mengantuk di sekolah, padahal tadi malam cukup tidur. Otak kurang mendapatkan energi asupan terutama karbohidrat dan protein,” jelas dia.

Baca juga
Liburan Nataru, Orang Tua Utamakan Keselamatan jangan Eksploitasi Anak

Mengetahui fungsi untuk tubuh, menurut Diana, maka edukasi mengenai makan di pagi hari sangat penting. Melihat dari sisi porsi, makan pagi khususnya anak-anak bisa disajikan dalam porsi kecil namun tetap mengikuti kaidah gizi seimbang.

“Nasi boleh, roti boleh. Lengkapi dengan protein misalnya telur, suwiran ayam, sayuran, buah, boleh ditambah segelas susu. Pilih yang mudah disiapkan, enak dan bergizi,” katanya.

Tinggalkan Komentar